Kesehatan
Burnout Perawat dan Ancaman Terhadap Keselamatan Pasien
Rina Ainurrahmah, S.Kep Mahasiswa Program Magister, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, menyoroti dampak burnout pada perawat.
Oleh: Ns. Rina Ainurrahmah, S.Kep
Mahasiswi Program Magister, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia
Burnout pada perawat merupakan masalah serius yang semakin meningkat di berbagai rumah
sakit di Indonesia.
Tingginya beban kerja, keterbatasan tenaga, sistem shift yang melelahkan, serta tekanan emosional dalam pelayanan pasien menjadi penyebabnya.
Burnout ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, dan menurunnya pencapaian profesional, yang berdampak langsung terhadap mutu asuhan, keselamatan pasien, serta tingginya turnover perawat.
Baca juga: Urgensi Kebijakan Zero Tolerance Kekerasan pada Perawat Dalam Menjamin Mutu Layanan Kesehatan
Berbagai studi menunjukkan bahwa perawat dengan burnout memiliki risiko lebih tinggi
melakukan kesalahan pelayanan, mengalami penurunan empati, serta berniat mengundurkan
diri.
Namun, di tingkat rumah sakit, burnout masih sering dipandang sebagai masalah
individu, bukan sebagai kegagalan sistem pengelolaan SDM.
Opini ini menegaskan pentingnya pengendalian burnout sebagai bagian dari kebijakan
keselamatan pasien dan mutu pelayanan.
Diperlukan perubahan kebijakan menuju pendekatan preventif melalui skrining rutin burnout, pengelolaan beban kerja berbasis WISN, penguatan dukungan kesehatan mental, serta penataan ulang tugas keperawatan.
Kebijakan ini diharapkan mampu menurunkan burnout, meningkatkan retensi perawat, serta
memperkuat keselamatan pasien secara berkelanjutan.
Fenomena Burnout
World Health Organization (WHO) sejak 2019 telah mengakui burnout sebagai fenomena
akibat stres kerja kronis dan memasukkannya dalam ICD-11.
Burnout terdiri dari tiga dimensi utama, yaitu kelelahan emosional, sikap sinis terhadap pekerjaan, dan penurunan efektivitas profesional.
Pengakuan ini menegaskan bahwa burnout merupakan risiko kerja yang harus dikelola secara sistemik, bukan masalah individu semata.
Penelitian cross-sectional di berbagai negara pada tahun 2024 menunjukkan bahwa tingkat
burnout tinggi terjadi pada perawat di unit dengan tekanan kerja tinggi, terutama ICU, IGD,
dan ruang rawat inap, dengan prevalensi pada perawat ICU dilaporkan mencapai lebih dari
70 persen.
Di Indonesia, berbagai survei juga menunjukkan bahwa sekitar 33–50 % perawat di
berbagai unit pelayanan rumah sakit mengalami burnout yang berkaitan dengan beban kerja
dan tekanan emosional yang tinggi.
Burnout terbukti berdampak terhadap meningkatnya kesalahan pelayanan, menurunnya
keselamatan pasien, serta meningkatnya niat resign perawat.
| Tips Menghilangkan Bulu Agar Hasil Lebih Maksimal dan Tahan Lama |
|
|---|
| APINDO, Brawijaya Hospital Depok dan BPJS Ketenagakerjaan Tegaskan Perlindungan Pekerja |
|
|---|
| JKN PBI Dinonaktifkan, Kantor BPJS Kesehatan Depok Membeludak, Pasien Cuci Darah Kebingungan |
|
|---|
| Kanker Serviks: Luka Sunyi Perempuan Indonesia, HerLens dan AI: Mengubah Keraguan Menjadi Kepastian |
|
|---|
| Penggunaan AI yang Etis dalam Praktik Keperawatan: Memastikan Perlindungan Pasien di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Rina-Airurahmah-Mahasiswi-FIK-UI.jpg)