Rabu, 15 April 2026

Keracunan MBG

Keracunan MBG di Jawa Barat Catat Rekor Tertinggi, Dedi Akan Evaluasi Vendor

Ribuan siswa di Jawa Barat mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis. Gubernur Dedi Mulyadi berjanji akan mengevaluasi vendor.

Penulis: Hironimus Rama | Editor: Hironimus Rama
Tribun Depok
KERACUNAN MBG - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat ditemui wartawan di Bogor, Rabu (24/9/2025) sore. Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengevaluasi vendor penyedia program Makan Bergizi Gratis menyusul maraknya kasus keracunan makanan yang dialami siswa di wilayah ini. 

Laporan wartawan TribunnewsDepok.com Hironimus Rama

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BOGOR - Jawa Barat mencatat rekor tertinggi kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, per 16 September 2025 tercatat ada 60 kasus dengan 5.207 penderita. 

Sementara itu, data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) per 10 September 2025 menunjukkan sebanyak 55 kasus dengan 5.320 penderita keracunan usai menyantap MBG.

Baca juga: Soal Kasus Keracunan MBG, Wamenko Polkam: Kita Akan Evaluasi  Kenapa Bisa Terjadi

Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah yang mengalami keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) tertinggi dengan jumlah kasus mencapai 2.012 kasus.

Terbaru, lebih dari 800 siswa sekolah di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, dilaporkan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (22/9/2025).

Terkait hal itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku akan mengevaluasi vendor penyedia Makan Bergizi Gratis di Jawa Barat.

"Kita akan lakukan evaluasi para penyelenggara kegiatan ini, apakah mampu atau tidak. Lalu, apakah makanan yang disajikan sesuai dengan harga atau tidak," kata Dedi saat ditemui wartawan di Bogor, Rabu (24/9/2025) sore.

Dia mengungkapkan keracunan MBG itu lebih disebabkan karena jumlah layanan yang tidak seimbang dengan jumlah pelayannya.

"Siswa yang dilayaninya sekian ribu orang, sementara jumlah yang melayaninya hanya sedikit," jelas Dedi.

Faktor lain yang menjadi penyebab keracunan adalah jarak yang ditempuh untuk distribusi makanan jauh. 

Hal ini makin diperparah dengan acanya kecenderungan memberikan layanan secara sekaligus.

"Makanan dimasak pukul 01.00 WIB dan disajikannya pukul 12.00 WIB. Ini kan jarak waktunya lama. Nah itu perlu dievaluasi," papar Dedi.

Dia mengaku tidak segan menghentikan vendor pelaksanaan program MBG yang terbukti tidak mampu.

"Kalau penyelenggara kegiatan tidak mampu atau vendor yang melaksanakan kegiatan layanan tidak punya kemampuan, ya evaluasi dan ganti dengan yang lebih mampu," paparnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved