Opini
Tantangan Penerapan Artificial Intelligence dalam Praktik Keperawatan
untuk memanfaatkan potensinya secara maksimal, dibutuhkan kolaborasi aktif, regulasi yang spesifik, dan pelatihan yang memadai
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Vini Rizki Amelia
Tantangan dan hambatan yang dilaporkan menargetkan akurasi pengenalan, integrasi dengan jaringan sensor, privasi, keamanan, interaksi manusia-mesin dan gangguan kognisi pengguna, penerimaan, dan biaya (Al-Shaqi et al., 2016; Krishnan & Pugazhenthi, 2014).
Dalam mengatasi tantangan ini diperlukan pendekatan seimbang yang menempatkan perawatan yang berpusat pada pasien di garis depan dan menegakkan standar etika.
Baca juga: Lagi Pejabat Tinggi Dimutasi Kapolda Metro Jaya Buntut Dugaan Pemerasan, Total 43 Personel
Untuk mencapai hal ini, perawat harus berpartisipasi aktif dalam desain, implementasi, dan regulasi teknologi AI, memastikan bahwa teknologi tersebut selaras dengan keahlian klinis dan nilai-nilai yang berpusat pada pasien.
Lebih jauh lagi, pembentukan pedoman dan regulasi yang transparan sangat penting untuk mengatur penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Selain itu, program pelatihan harus membekali para profesional dengan keterampilan yang diperlukan untuk berkolaborasi secara efektif dengan sistem AI.
Baca juga: Pelajar SMP Tewas di Tragedi Duel Maut di Depok, Kuasa Hukum: Janjian 1 Lawan 1 Bukan Keroyokan
Dengan mendorong kolaborasi, transparansi, dan akuntabilitas, kompleksitas integrasi AI dapat dikelola secara efektif, sehingga membuka potensi transformatifnya untuk merevolusi perawatan pasien dan memajukan penemuan pengetahuan di bidang penelitian keperawatan.
Penerapan AI dalam pelayanan keperawatan memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas layanan. AI dapat membantu meningkatkan efisiensi dan akurasi diagnosis, mendukung pengambilan keputusan klinis, serta meningkatkan kualitas perawatan pasien secara keseluruhan.
Meskipun demikian, masih terdapat berbagai tantangan yang harus diatasi, seperti isu privasi dan keamanan data, keterbatasan data klinis yang berkualitas, serta kekhawatiran terkait penggantian peran manusia dalam pelayanan keperawatan.
Baca juga: Gelandang Persija Maciej Gajos Tak Menyangka Bobol Gawang Malut United Lewat Sepak Pojok
Perawat manajer memiliki peran yang mencakup berbagai aspek penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan, terutama dalam penerapan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI).
Hal yang perlu diatur dengan jelas dalam pemanfaatan AI dalam praktik keperawatan:
Pembuatan regulasi/panduan khusus terkait penggunaan AI dalam pelayanan keperawatan mencakup standar keamanan, etika, dan privasi data pasien.
Penyelenggaraan pelatihan bagi tenaga keperawatan untuk memahami penggunaan AI.
Peningkatan infrastruktur teknologi seperti investasi perangkat keras dan lunak yang mendukung AI hingga memastikan konektivitas digital yang merata di seluruh fasilitas kesehatan.
Baca juga: Bayi 5 Bulan Sedang Sakit Ditinggal Orang Tuanya di RS Sumber Waras, Akhirnya Meninggal Dunia
Pembentukan komite etika untuk mengawasi AI dalam pelayanan keperawatan.
Penerapan AI dalam keperawatan memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Ns-Rahayu-Widiastuti-SKep.jpg)