Rabu, 6 Mei 2026

Kesehatan

Krisis Pemerataan Perawat di Tanah Air: Ribuan Lulusan, Tetapi Kenapa Daerah Masih Kekurangan?

Krisis Pemerataan Perawat di Tanah Air: Ribuan Lulusan, Tapi Kenapa Daerah Masih Kekurangan?

Tayang:
Editor: Hironimus Rama
Dok. Pribadi
PEMERATAAN PERAWAT -Mayang Suci Ambarwati, S.Kep., Ns., Mahasiswi Magister Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, menyoroti masalah ketidakmerataan distribusi perawat di Indonesia. 

Oleh: Mayang Suci Ambarwati, S.Kep., Ns.

Mahasiswi Magister Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Perawat adalah tulang punggung sistem kesehatan. Secara kuantitatif, Indonesia memiliki potensi SDM keperawatan yang masif.

Data Badan Pusat Statistik 2925 menunjukkan jumlah perawat mencapai sekitar 603.046 orang pada tahun 2024. Sebuah angka yang seharusnya cukup besar untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Namun, potensi ini tertahan oleh krisis fundamental yang telah berlangsung puluhan tahun: masalah ketidakmerataan distribusi dan kesenjangan kompetensi.

Baca juga: FIK UI Jawab Tantangan Krisis Tenaga Kesehatan di Austria dengan Terjunkan Perawat yang Profesional

Karena itu, persoalan utama krisis keperawatan Indonesia bukanlah kekurangan jumlah, melainkan kegagalan mendistribusikan aset berharga ini secara adil. Tentu saja ini akan menghambat pemerataan akses pelayanan kesehatan berkualitas di seluruh Tanah Air.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan kritis: Jika lulusan perawat melimpah, mengapa masyarakat di daerah terpencil masih kesulitan mendapatkan perawatan yang memadai?

Soal pemerataan

Masalah utama perawat di Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran (distribusi), yang sudah terjadi bertahun-tahun. Data tahun 2024 jelas menunjukkan adanya ketimpangan dengan adanya penumpukan di Jawa (Jawa-sentrisme).

Jawa Timur, misalnya, memiliki lebih dari 75.462 perawat, sementara wilayah seperti Papua Selatan hanya punya sekitar 1.736 perawat (BPS, 2025).

Ketidakseimbangan ekstrem ini menyebabkan Puskesmas di Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) selalu kekurangan tenaga secara kronis. Padahal, wilayah terpencil justru paling butuh perawat karena akses kesehatan yang terbatas.

Walaupun masalah ini sudah disoroti, solusi nyata untuk mengatasi kesenjangan layanan ini belum berhasil diwujudkan.

Masalah kualitas

Masalah kedua terkait tenaga perawat di Tanah Air adalah kualitas keperawatan. Persoalan ini semakin mendesak akibat lonjakan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) dan pertumbuhan populasi lansia (Gerontik) (BPS, 2023).

Hal ini menyebabkan Indonesia menghadapi krisis kekurangan perawat spesialis di bidang Gawat Darurat dan Perawatan Kritis yang vital untuk kasus kompleks modern.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved