Minggu, 31 Mei 2026

Pendidikan

Gabung Program Sekolah Gratis, SMP Gelora Depok Pastikan Kualitas Pendidikan Terjaga

Solusi Anak Tetap Sekolah! SMP Swasta di Depok Ini Buka Kelas Gratis Tanpa Potong Kualitas

Tayang:
Editor: Hironimus Rama
Humas Pemkot Depok
Gedung SMP Gelora. (Foto: Diskominfo Depok) 

“Tahun ini kami diberikan kuota 247 siswa dari Dinas Pendidikan. Awalnya kami siap menerima sekitar 280 siswa. Namun setelah pembahasan bersama Dinas Pendidikan, kuota disesuaikan karena ada sekolah lain yang jumlah siswanya masih sedikit,” terang Udin.

Jumlah tersebut sempat mencapai 252 siswa. Namun beberapa calon peserta didik akhirnya memilih pindah ke sekolah negeri setelah dinyatakan diterima.

“Awalnya ada 252 siswa yang masuk. Tetapi ada beberapa yang kemudian diterima di SMP negeri sehingga jumlah akhirnya menjadi 247 siswa,” katanya.

Bagi SMP Gelora, program RSSG bukan sekadar soal kuota atau jumlah peserta didik. Lebih dari itu, program ini menjadi bentuk kontribusi nyata sekolah swasta dalam membantu pemerintah memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.

“Alasan utama kami sederhana, yaitu melihat masih banyak anak yang ingin sekolah tetapi terkendala biaya. Karena itu yayasan memutuskan membuka kesempatan melalui program RSSG agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan,” tutur Udin.

Jamin Kualitas Mutu dan Kedisiplinan Tetap Nomor Satu

Keikutsertaan SMP Gelora dalam program Sekolah Swasta Gratis (SSG) ini dipastikan tidak membuat pihak sekolah mengendurkan standar pendidikan maupun disiplin siswa.

Kualitas pembelajaran dan pembinaan karakter justru tetap dipertahankan, bahkan terus ditingkatkan.

Udin Saefullah menegaskan, sejak awal sekolah telah mempersiapkan berbagai langkah matang agar status sekolah gratis tidak mengubah mutu pendidikan yang selama ini menjadi ciri khas dan keunggulan SMP Gelora.

Menurutnya, masih ada anggapan keliru di sebagian masyarakat bahwa sekolah gratis berpotensi mengalami penurunan kualitas.

Namun, hal tersebut dipastikan tidak akan terjadi di SMP Gelora. Seluruh sistem pembinaan, aturan sekolah, hingga pengawasan terhadap siswa tetap dijalankan secara konsisten.

“Kualitas tetap kami pertahankan. Tidak ada perubahan sedikit pun. Bahkan cara kami mendidik siswa tetap sama dan terus kami tingkatkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sekolah tetap menerapkan berbagai aturan kedisiplinan ketat yang berlaku bagi seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang maupun status program pendidikan yang diikuti.

Salah satu instrumen penting yang digunakan ialah 'Buku Biru', yaitu buku kontrol yang wajib dimiliki setiap siswa untuk mencatat perkembangan dan kedisiplinan mereka selama bersekolah.

“Buku Biru dimiliki oleh semua siswa. Setiap pelanggaran dicatat, mulai dari keterlambatan, kuku panjang, rambut panjang, hingga ketidakhadiran. Semua terdokumentasi dengan baik sebagai bentuk pengawasan dan pembinaan,” jelas Udin.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved