Kabupaten Bogor
Pasar Anggada Pernah Bergeliat Saat Wabah Covid-19 Melanda, Pedagang: Sekarang Sepi
Tidak beda jauh dengan pusat-pusat perbelanjaan tekstil modern, Pasar Anggada juga mulai ditinggalkan pelanggan setianya.
Penulis: Hironimus Rama | Editor: murtopo
Namun dalam dua tahun terakhir, Zul merasakan jumlah pengunjung terus mengalami penurunan.
"Pengunjung sepi dua tahun terakhir ini, mungkin karena maraknya jualan online," bebernya.
Baca juga: Pemkab Bogor Segera Bangun Taman Setelah Tertibkan PKL di Pasar Cisarua Puncak
Kondisi ini membuat dia menutup salah satu toko yang yang ada di Pasar Anggada dan memberhentikan salah satu karyawannya.
"Saat ini tinggal dua toko. Jadi saya hanya pekerjakan dua karyawan untuk efisiensi," imbuhnya.
Menurut Zul, sepinya pengunjung tidak hanya pembeli beralih ke toko online tetapi juga karena daya beli masyarakat yang lemah.
"Daya beli maayarakat lemah sejak maraknya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di berbagai perusahaan. Banyak pengangguran sehingga tidak punya uang untuk berbelanja," ucapnya.
Dia berharap pemerintah memberikan dorongan agar daya beli masyarakat meningkat.
"Kalau tidak ada upaya meningkatkan daya beli masyarakat, kondisi kita bisa makin terpuruk. Barang ada di toko tetapi tidak ada yang beli. Nanti malah tambah banyak pengangguran karena banyak toko yang tutup," tandasnya.
Hal senada diungkapkan Rizky, karyawan di salah satu toko kebaya di Pasar Anggada.
Meskipun baru buka sekira dua bulan di Pasar Anggada, dia merasakan pengunjung tokonya tidak begitu ramai.
"Pengunjung ada sih setiap hari, tetapi tidak ramai. Kita coba bertahan dulu beberapa bulan sambil melihat kondisi," ucapnya.
Rizky mengungkapkan kebaya yang dijual di tempat kerjanya sebelumnya dijual online.
"Kita jualan online dari rumah selama ini. Saat ini kita coba buka toko offline di Pasar Anggada. Semoga kedepannya ramai," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Pasar-Anggada-di-Cibinong-Kabupaten-Bogor-Jawa-Barat-1.jpg)