Kabupaten Bogor
Pasar Anggada Pernah Bergeliat Saat Wabah Covid-19 Melanda, Pedagang: Sekarang Sepi
Tidak beda jauh dengan pusat-pusat perbelanjaan tekstil modern, Pasar Anggada juga mulai ditinggalkan pelanggan setianya.
Penulis: Hironimus Rama | Editor: murtopo
Laporan wartawan Wartakotalive.com Hironimus Rama
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, CIBINONG - Pasar Anggada di Jl. Raya Mayor Oking Jaya Atmaja No.39-40, Kelurahan Ciriung, Kecamatan Cibinong, merupakan salah satu pusat tekstil terbesar di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Pada masa jayanya, pasar ini menjadi surga bagi para pencinta fashion. Barang apa saja ada di sini, mulai dari pakaian jadi sisa ekspor hingga kain kiloan untuk bahan pakaian.
Pasar ini juga menjadi rujukan bagi para calon pengantin untuk mencari bahan pembuatan gaun atau pun jas pengantin.
Tak hanya itu, Pasar Anggada juga menjadi pusat perburuan dari para pedagang yang membeli barang kiloan untuk dijual kembali secara eceran.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pasar ini tampak sepi dari kunjungan pembeli.
Baca juga: Pasar Anggada Cibinong Pusat Tekstil di Kabupaten Bugor Sejak Tahun 90an, Begini Kondisinya Saat Ini
Tidak beda jauh dengan pusat-pusat perbelanjaan tekstil modern, Pasar Anggada juga mulai ditinggalkan pelanggan setianya.
Źul (59), pemilik JJ Collection di Pasar Anggada, mengaku jumlah pengunjung pasar ini terus merosot jumlahnya.
"Pengunjung sekarang sepi, tidak seperti empat tahun lalu," kata Zul di Cibinong, Sabtu (9/8/2025).
Pria asal Sumatera ini membuka toko pakaian pria dan wanita dengan kualitas ekspor di Pasar Anggada sejak 2021 lalu.
Saat itu dia baru saja pensiun dari salah satu perusahaan di wilayah Klapanunggal, Kabupaten Bogor.
"Saya membuka toko di sini pada 2021, saat wabah Covid-19 sedang melanda," ujarnya.
Baca juga: Pemkab Bogor Tertibkan Parkir Liar di Pasar Cibinong dan Citeureup
Saat pertama kali membuka toko pakaian, Zul mengaku pengunjungnya cukup ramai.
Karena itu, dia memberanikan diri menyewa tiga stan di Pasar Anggada dengan mempekerjakan tiga karyawan.
"Saat Covid-19 ada pembatasan sosial sehingga banyak mall yang tutup. Nah, pasar tradisional seperti Anggada ini masih buka sehingga cukup laris pembeli," paparnya.
Namun dalam dua tahun terakhir, Zul merasakan jumlah pengunjung terus mengalami penurunan.
"Pengunjung sepi dua tahun terakhir ini, mungkin karena maraknya jualan online," bebernya.
Baca juga: Pemkab Bogor Segera Bangun Taman Setelah Tertibkan PKL di Pasar Cisarua Puncak
Kondisi ini membuat dia menutup salah satu toko yang yang ada di Pasar Anggada dan memberhentikan salah satu karyawannya.
"Saat ini tinggal dua toko. Jadi saya hanya pekerjakan dua karyawan untuk efisiensi," imbuhnya.
Menurut Zul, sepinya pengunjung tidak hanya pembeli beralih ke toko online tetapi juga karena daya beli masyarakat yang lemah.
"Daya beli maayarakat lemah sejak maraknya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di berbagai perusahaan. Banyak pengangguran sehingga tidak punya uang untuk berbelanja," ucapnya.
Dia berharap pemerintah memberikan dorongan agar daya beli masyarakat meningkat.
"Kalau tidak ada upaya meningkatkan daya beli masyarakat, kondisi kita bisa makin terpuruk. Barang ada di toko tetapi tidak ada yang beli. Nanti malah tambah banyak pengangguran karena banyak toko yang tutup," tandasnya.
Hal senada diungkapkan Rizky, karyawan di salah satu toko kebaya di Pasar Anggada.
Meskipun baru buka sekira dua bulan di Pasar Anggada, dia merasakan pengunjung tokonya tidak begitu ramai.
"Pengunjung ada sih setiap hari, tetapi tidak ramai. Kita coba bertahan dulu beberapa bulan sambil melihat kondisi," ucapnya.
Rizky mengungkapkan kebaya yang dijual di tempat kerjanya sebelumnya dijual online.
"Kita jualan online dari rumah selama ini. Saat ini kita coba buka toko offline di Pasar Anggada. Semoga kedepannya ramai," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Pasar-Anggada-di-Cibinong-Kabupaten-Bogor-Jawa-Barat-1.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.