Guru Besar UI
Guru Besar FISIP UI Ungkap Perdagangan Bebas Bikin Kemiskinan Bertambah, Perlu Penthahelix Plus
Guru Besar FISIP UI Ungkap Perdagangan Bebas Bikin Kemiskinan Bertambah di Negera Berkembang, Perlu Penthahelix Plus
Namun, mengingat isu penanggulangan kemiskinan ini adalah isu global, Prof. Fentiny mengatakan,
sebaiknya terdapat satu elemen lagi yang perlu ditambahkan pada pentahelix tersebut, yaitu
Lembaga/ Non Governmental Organization (NGO) internasional, yang mempunyai keberpihakan padanegara berkembang dalam konteks perdagangan bebas.
NGO ini mengadakan penelitian untuk menunjukkan data berbasis bukti. Disamping itu, NGO internasional tersebut dapat mendampingi dan membantu melakukan advokasi ke negara-negara maju dan WTO.
Baca juga: ILUNI UI Dukung Rektor Baru Tuntaskan Investigasi Perkara Gelar Doktor Cumlaude Bahlil Lahadalia
Oleh karena itu, Prof. Fentiny merekomendasikan, yang diimplementasikan dalam penanggulangan
kemiskinan sebagai dampak kebijakan global (free-trade policy), bukan hanya pentahelix, tetapi
pentahelix plus.
“Pentahelix Plus akan memperkuat Indonesia dalam memperoleh manfaat dari perdagangan bebas, dan semoga kelak angka kemiskinan kita dapat menurun hingga mencapai angka ‘no poverty’ seperti yang digariskan dalam SDGs,” ujar Prof. Fentiny.
Profil Singkat Prof Fentiny
Sampai dengan saat ini, Prof. Fentiny aktif melakukan berbagai penelitian, di antaranya Kekerasan
Terhadap Perempuan Pekerja Migran di Taiwan (2023).
Kemudian Pemenuhan Hak Asasi Manusia Generasi Kedua pada Kelompok Masyarakat Termarginal (2018).
Lalu, Assessment and Intervention on Child Abuse, Kindship Guardianship (2018-2019), dan Dampak Positif Perdagangan Bebas Global pada Petani Ikan Hias di Depok, Jawa Barat (2016).
Sebelum memperoleh gelar guru besar dalam Ilmu Kesejahteraan Sosial, Prof. Fentiny menamatkan
pendidikan program Sarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial pada tahun 1985 di UI.
Baca juga: UI Bentuk Pelajar SMP Depok Menjadi Agen Perubahan untuk Budaya Sehat di Lingkungan Sekitar
Kemudian, ia menyelesaikan pendidikan di University of Kent, England, dalam bidang Social Work pada 1989.
Pada 2005, ia berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy di Curtin University, Australia dalam bidang
Social Work and Social Policy.
Dalam prosesi pengukuhannya sebagai guru besar ke-46 UI yang dikukuhkan pada tahun ini, turut
hadir Ketua Komnas HAM RI Dr. Atnike Nova Sigiro, M.Sc.
Kemudian PJ. Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono, A.Ks., M.A.P, Pj. Bupati Tangerang Dr. Drs. Andi Ony Prihartono, M.Si..
Lalu, Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS Drs. Pungky Sumadi, MCP, Ph.D.
Kepala Pusat Pelatihan SDM Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian Desa PDTT RI Dr. Fujiartanto, MM, M.Si, MA.
Terakhir Direktur Kawasan Perkotaan dan Batas Negara, Kementerian Dalam Negeri RI Dr. Drs. Amran, M.T.
| Prof. Dwi Sosok Perencanaan Wilayah Berbasis Data Ilmiah yang Dikukuhkan Jadi Guru Besar ke-24 UI |
|
|---|
| Sosok Guru Besar FEB UI Angkat Isu Perbudakan Modern, Ungkap Akuntansi Alat Perjuangkan Hak Pekerja |
|
|---|
| Klinik Ortodonti RSKGM FKG UI Berikan Kepuasan, Prof Krisnawati: Perempuan Pentingkan Penampilan |
|
|---|
| Guru Besar FKG UI: Sel Punca Bibir Langit-langit Jadi Harapan Masa Depan untuk Rekontruksi Tulang |
|
|---|
| Guru Besar ke-6 UI Tahun 2025 Ungkap Google Earth Engine Dapat Pahami Ancaman Bencana Lebih Mendalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Guru-Besar-FISIP-UI-Prof-Fentiny.jpg)