Guru Besar UI
Guru Besar FKG UI: Indonesia Berhasil Lakukan Operasi Telerobotik Pertama di Asia Tenggara
Prof. Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U(K) Guru Besar FKG UI: AI dan Operasi Robotik Tingkatkan Akurasi Penanganan Urologi Pediatrik
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Perkembangan urologi pediatrik subspesialisasi yang menangani masalah saluran kemih dan sistem reproduksi anak tidak lepas dari kemajuan di bidang medis sepanjang abad ke-20, khususnya dalam bidang anestesi.
Kemajuan ini memungkinkan prosedur bedah yang sebelumnya tidak dapat dilakukan pada bayi dan anak kecil.
Prof. Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U(K), menyampaikan hal ini dalam pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul “Evolusi Urologi Pediatrik di Indonesia: Belajar dari Sejarah, Menghadapi Masa Kini, dan Menyongsong Tantangan Masa Depan”.
Baca juga: FKG UI Luncur Kartu Edukasi Kesehatan Gigi Warna Warni untuk Anak Tunarungu
Ia dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Urologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada upacara yang berlangsung di Aula IMERI, Kampus UI Salemba, Jakarta, Sabtu (28/9/2024).
Prof. Irfan memaparkan bahwa prosedur urologi pediatrik di FKUI-Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah berlangsung sejak 1990-an.
Meskipun begitu, peminatan khusus dalam bidang ini baru dimulai pada tahun 2000, ketika dr. Arry Rodjani, Sp.U(K) dikirim untuk mengikuti pendidikan di Royal Children's Hospital, Australia.
Sejak itu, tim urologi pediatrik di FKUI RSCM terus berkembang.
Baca juga: UI Mempercepat Transformasi Pendidikan di Kenya, Usulkan Program Pertukaran Pelajar
Saat ini, penanganan kelainan seperti undescended testis (UDT), hipospadia, dan disorders of sex development (DSD) menjadi fokus utama.
Selain itu, kelainan kongenital ginjal dan saluran kemih (congenital anomaly of kidney and urinary tract atau CAKUT) juga memerlukan penanganan intensif, terutama dalam deteksi dini dan tata laksana yang tepat.
Operasi Telerobotik Pertama
Spektrum penyakit urologi pediatrik yang ditangani FKUI-RSCM sangat luas, meliputi gangguan berkemih, inkontinensia, batu saluran kemih, trauma urogenital, hingga tumor Wilms.
“Ini menunjukkan bahwa urologi pediatrik menjadi salah satu bidang operasi terbanyak di FKUI—RSCM,”
kata Prof. Irfan.
“Namun, jumlah spesialis urologi pediatrik di Indonesia masih kurang dan belum tersebar merata. Oleh
karena itu, peningkatan kompetensi melalui pelatihan, penyediaan fasilitas diagnostik, serta dukungan
pembiayaan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sangat penting untuk memastikan akses layanan yang lebih luas,” ujar Prof. Irfan.
Baca juga: Tertinggi di Depok, 1 dari 3 Remaja Putri Alami Anemia, FKM UI Beri Edukasi Pelajar SMA 1 Sejahtera
Selain itu, pemanfaatan teknologi juga menjadi perhatian utamanya.
Ia menjelaskan, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan operasi robotik akan semakin berperan penting dalam meningkatkan akurasi dan efisiensi penanganan urologi pediatrik.
Salah satu inovasi penting adalah Aplikasi Skrining Kesehatan Organ Kelamin Anak (ASHOKA), yang telah dikembangkan untuk mendeteksi kelainan genitalia pada anak laki-laki.
“Pada 2024, Indonesia juga berhasil melakukan operasi telerobotik pertama di Asia Tenggara,” ungkapnya.
Prof. Irfan menekankan pentingnya kolaborasi nasional dan internasional untuk mendukung perkembangan teknologi ini.
Selain itu, pengembangan pendidikan subspesialisasi dan pelatihan yang lebih luas sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.
Fokus dan Tantangan Khusus di Indonesia
Menurut Prof. Irfan, tantangan yang dihadapi oleh spesialis urologi pediatrik di Indonesia berbeda dari
negara lain karena kompleksitas dan heterogenitas sistem kesehatan.
“Saat ini, tidak ada dokter spesialis urologi yang hanya menangani pasien urologi anak. Karena jumlah spesialis yang masih terbatas, kita juga dibutuhkan untuk menangani pasien urologi dewasa,” ujarnya.
Baca juga: Mahasiswa UI Pertama yang Butuh 2,5 Tahun Lulus Jadi Doktor, Raih Predikat Summa Cumlaude
Ia menekankan pentingnya menjaga fokus dalam menangani urologi pediatrik.
“Kita perlu terus memperdalam, memperluas, dan melihat lebih jauh dalam penanganan pasien urologi pediatrik,” kata Prof. Irfan.
Prof. Irfan mengingatkan tentang pentingnya etika dan empati bagi para calon dokter dan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis I.
“Bangsa ini sangat memerlukan dokter-dokter yang tidak hanya memiliki kemampuan dan kompetensi terbaik, tetapi juga beretika dan memiliki rasa empati. Junjung dan terapkan selalu 9 Nilai Dasar Universitas Indonesia dalam pendidikan, penelitian, dan pelayanan,” ujarnya.
Baca juga: Profil Heri Hermansyah, Rektor UI Terpilih Periode 2024-2029
Guru besar ini aktif menerbitkan berbagai karya ilmiah.
Beberapa publikasi terbarunya adalah “Hypospadias Risk Associated with Chronic Hypertension During Pregnancy.
Lalu, A Systematic Review and Meta-analysis”, “End-to-End Anastomotic Urethroplasty Outcome in Anterior and Posterior Traumatic Urethral Stricture.
Kemudian A Single-Center Experience”, dan “Cystostomy Diversion Reduced Complications Following Hypospadias Repair, dan A Systematic Review and Meta-Analysis”.
Upacara pengukuhan guru besar ini dipimpin oleh Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D.
Turut hadir di antaranya Direktur Utama RS PIK, dr. Silvanus Chakra Puspita, MARS; Direktur Manajemen Siloam ASRI, dr. Grace Frelita, MM; serta sejumlah guru besar dari universitas ternama di Indonesia.
Prof. Dwi Sosok Perencanaan Wilayah Berbasis Data Ilmiah yang Dikukuhkan Jadi Guru Besar ke-24 UI |
![]() |
---|
Sosok Guru Besar FEB UI Angkat Isu Perbudakan Modern, Ungkap Akuntansi Alat Perjuangkan Hak Pekerja |
![]() |
---|
Klinik Ortodonti RSKGM FKG UI Berikan Kepuasan, Prof Krisnawati: Perempuan Pentingkan Penampilan |
![]() |
---|
Guru Besar FKG UI: Sel Punca Bibir Langit-langit Jadi Harapan Masa Depan untuk Rekontruksi Tulang |
![]() |
---|
Guru Besar ke-6 UI Tahun 2025 Ungkap Google Earth Engine Dapat Pahami Ancaman Bencana Lebih Mendalam |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.