Rabu, 8 April 2026

Pilkada Bogor

Maju Pilkada Bogor 2024, Ini Sosok Sulhajji Jompa

Sulhajji Jompa merupakan politisi Partai Golkar yang berprofesi sebagai pengusaha dan akademisi. 

Penulis: Hironimus Rama | Editor: murtopo
Tribunnewsdepok.com/Hironimus Rama
Bakal Calon Bupati Bogor Sulhajji Jompa Sulhajji saat wawancara eksklusif dengan Warta Kota (Tribun Network-Red) di Gunung Sindur, Bogor, Selasa (4/6/2024). 

Laporan wartawan TribunnewsDepok.com Hironimus Rama

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, GUNUNG SINDUR - Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 27 November 2024, sejumlah nama kandidat Calon Bupati Bogor muncul ke permukaan. Ada politisi, pengusaha hingga akademisi.

Salah satu nama yang muncul sebagai bakal Calon Bupati Bogor 2024 adalah Dr. Ir. Sulhajji Jompa, M.Sc. Siapakah dia?

Sulhajji Jompa merupakan politisi Partai Golkar yang berprofesi sebagai pengusaha dan akademisi. 

Dia lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan, 54 tahun yang lalu.

Baca juga: Dukung Jaro Ade Raih Kursi Bupati Bogor 2024, Partai Golkar Mulai Lakukan Konsolidasi

Sulhajji berasal dari latar belakang keluarga militer. Ayahnya seorang prajurit TNI yang ikut memberantas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan RMS (Republik Maluku Selatan).

Berkat didikan didikan orang tuanya, Sulhajji bersama delapan saudaranya bisa mengenyam pendidikan yang layak.

Gaji yang terbatas membuat orang tua mewajibkan mereka kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

"Alhamdulilah, kami semua masuk universitas negeri dan perjalanan karir kami berjalan sesuai alur kehidupan. Kakak di atas saya (nomor empat-Red) saat ini menjadi rektor Universitas Hasanudin di Makasar," kata Sulhajji dalam wawancara eksklusif dengan Warta Kota (Tribun Network-Red) di Gunung Sindur, Bogor, Selasa (4/6/2024).

Baca juga: DPD Partai Golkar Kabupaten Bogor Usulkan Jaro Ade Sebagai Calon Bupati Bogor 2024

Sulhajji menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Hasanudin (Unhas) Jurusan Teknik Mesin.

Saat kuliah dia masuk dalam program percepatan insinyur yang digagas Menristek BJ Habibie.

"Karena waktu itu negara kita kekurangan insinyur, maka Pak Habibi bikin program percepatan insinyur. Saya lulus kuliah tepat waktu sesuai target yaitu empat tahun," ujarnya.

Pada masa itu, lanjutnya, kuliah teknik mesin membutuhkan waktu minimal 7-8 tahun.

Baca juga: Sudah Siap Maju Pilkada Bogor 2024, Rudy Susmanto Tunggu Arahan Prabowo Subianto

"Setelah lulus kuliah di Unhas, saya masuk ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1993," tuturnya.

Dia mengaku masuk ke BPPT melalui seleksi yang ketat. Dari 200 orang yang mengikuti tes, hanya 4 orang yang diterima.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved