Sabtu, 25 April 2026

Berita Universitas Indonesia

Lestarikan Budaya Jawa, Ini Upaya yang Dilakukan Universitas Indonesia

Jumlah masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa saat ini cenderung menurun karena beralih ke Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari.

|
Penulis: Hironimus Rama | Editor: murtopo

Menanggapi kegelisahan itu, FIB UI telah melakukan berbagai langkah untuk melestarikan budaya Jawa.

"Sebetulnya upaya untuk melestarikan bahasa Jawa itu bisa dilakukan oleh semua pihak," kata Mara.

Pemerintah, melalui Balai Bahasa yang berada dibawah Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah melakukan pembinaan untuk guru-guru bahasa Jawa.

"Pemerintah juga telah mengundang pemda-pemda di Jawa Tengah untuk menguatkan budaya Jawa baik bahasa, sastra dan aksara. Itu sudah pernah dilakukan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2021-2022," ungkapnya.

Sebelumnya pada tahun 2012, pemerintah daerah Jawa Tengah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 tahun 2012 tentang bahasa, sastra dan aksara Jawa.

"Perda ini terbit untuk proses perlindungan, pembinaan dan pengembangan budaya Jawa," tuturnya.

Namun Mara melihat pendekatan itu masih bersifat top to down (dari atas ke bawah). Pendekatan ini perlu diperkuat dengan gerakan di akar rumput.

Untuk itu, pada awal 2017 Mara menginisiasikan berdirinya Sekolah Budaya Jawa di daerah Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

"Saya mulai mencatat kosa kata Jawa yang ada di kawasan Lereng Merbabu Merapi itu, khususnya di daerah Senden. Lalu membuat buku ajar bahasa Jawa sederhana. Fasilitator untuk pengajaran adalah masyarakat sekitar. Jadi mereka semakin menguatkan penguasaan bahasa mereka," jelasnya.

Setelah itu, Mara menawarkan segmented destination, wisata khusus untuk orang-orang yang tertarik untuk belajar budaya dan bahasa Jawa.

"Kami berusaha mendatangkan wisatawan untuk belajar tentang bahasa dan budaya masyarakat sekitar. Wisatawan tinggal di homestay milik masyarakat untuk belajar bahasa dan budaya Jawa," ungkapnya.

Dengan cara seperti ini, lanjut dia, masyarakat memiliki kebanggaan karena ada orang dari luar ingin belajar bahasa Jawa. Kebanggaan tersebut membuat mereka terus menggunakan bahasa Jawa sebagai bagian dari keseharian.

Tak hanya itu, Mara juga ikut merancang Festival Campursari pada akhir tahun 2023 lalu. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud.

"Festival ini digelar sebagai fasilitasi stimulan kebudayaan. Kami usahakan tahun ini digelar di masa bulan Suro agar bisa menambah pendapatan masyarakat," tambahnya. 

Upaya lain yang dilakukan Mara bersama FIB UI untuk melestarikan budaya Jawa adalah dengan memberikan apresiasi kepada pelaku seni budaya Jawa.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved