Jumat, 10 April 2026

Berita Universitas Indonesia

Lestarikan Budaya Jawa, Ini Upaya yang Dilakukan Universitas Indonesia

Jumlah masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa saat ini cenderung menurun karena beralih ke Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari.

|
Penulis: Hironimus Rama | Editor: murtopo

Laporan wartawan TribunnewsDepok.com Hironimus Rama

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Kemajuan teknologi komunikasi dan globalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi kebudayaan-kebudayaan besar di seluruh dunia.

Banyak budaya yang tergerus karena pengaruh budaya asing yang datang dari luar melalui teknologi. Dampak teknologi ini juga mulai terasa dalam kebudayaan Jawa.

Hal itu diungkapkan oleh Widhyasmaramurti, Dosen Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) dalam wawancara podcast dengan Tribun Network pekan lalu di Kampus UI Depok, Jawa Barat, pekan lalu.

"Kalau saya melihat, kemajuan teknologi, globalisasi dan revolusi industri 4.0 membuat semua serba komputerisasi. Orang mendapatkan informasi dengan sangat mudah, termasuk bahasa-bahasa asing. Ini menjadi tantangan pada penutur bahasa Jawa," kata Widhyasmaramurti.

Baca juga: Dukung Percepatan Pencapaian SDGs dengan 3 Pilar Utama, Universitas Indonesia Sebagai Kampus Lestari

Dia menjelaskan bahasa Jawa menjadi bahasa dominan untuk beberapa penutur asli di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Bahasa Jawa itu adalah salah satu bahasa etnis tertinggi di Indonesia. Menurut para etnolog, penutur bahasa Jawa di seluruh dunia itu ada sekitar 70-80 juta. Kalau warga Indonesia 300 jutaan, sekitar 25 persennya penutur bahasa Jawa," papar Widhyasmaramurti.

Namun jumlah masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa saat ini cenderung menurun karena beralih ke Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari.

"Dengan adanya  bahasa asing, maka mungkin yang lebih dominan dipakai saat ini adalah bahasa Indonesia dan bahasa asing sehingga penggunaan bahasa Jawa pun perlahan-lahan berkurang," ucapnya.

Baca juga: Program Pendanaan Produk Inovasi dan UI Incubate Cara Universitas Indonesia Lahirkan Startup Baru

Wanita yang biasa disapa Mara ini mengungkapkan berkurangnya penggunaan bahasa Jawa bisa terjadi karena adanya register atau tingkatan dalam pemakaian kosa kata saat berkomunikasi.

"Seperti kita ketahui, dalam bahasa Jawa ada register atau tingkatannya. Ada ngoko untuk yang seumuran, kromo untuk yang halus dan kromo inggil untuk yang dituakan atau status sosial lebih tinggi. Orang terkadang takut salah sehingga memakai bahasa Indonesia sebagai pilihan dalam komunikasi," jelasnya.

Menurut dia, tantangan ini tidak hanya dihadapi oleh penutur bahasa Jawa saja. Bahasa dari etnis-etnis lain di Indonesia juga mengalami persoalan serupa, bahkan ada yang terancam punah.

"Tahun 2012 sampai 2014, saya pernah ikut tim peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indinesia). Kami meneliti bahasa Kafoa di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat itu penuturnya hanya tinggal 1.200 orang saja," bebernya.

Baca juga: Universitas Indonesia Kukuhkan Dua Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis

Bahkan untuk jenis dialek tertentu, penutur bahasa itu sudah tua sekali dan hanya tinggal delapan orang.

"Kalau mereka meninggal, bahasa itu pun punah," imbuh Mara.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved