Berita UI

Universitas Indonesia UI Terus Komitmen untuk Meningkatkan Mutu dengan Akreditasi Internasional

UI terus komitmen untuk meningkatkan mutu dengan akreditasi internasional. Ini penjelasan Rektor UI Prof Ari Kuncoro.

Penulis: dodi hasanuddin | Editor: dodi hasanuddin
Dok. Humas dan KIP UI
Universitas Indonesia UI Terus Komitmen untuk Meningkatkan Mutu dengan Akreditasi Internasional 

Dalam paparannya berjudul “How to Strengthen Higher Education and Employment Linkage”, beliau memberikan sedikit gambaran statistik perguruan tinggi di Indonesia dan bagaimana sistem pendidikan dapat memperkuat penyerapan lulusan di dunia kerja.

“Sebanyak 4.593 perguruan tinggi di Indonesia diharapkan memiliki kualitas yang bisa semakin dekat dengan UI. Untuk itu, perlu ada peran dari kita semua dan saya berterima kasih kepada BPMA UI yang juga mengundang beberapa perguruan tinggi lain sehingga bisa ada kolaborasi antar-perguruan tinggi setelah seminar ini,” ujarnya. 

Baca juga: Mahasiswa Universitas Indonesia UI dari Papua Jadi Komandan Upacara HUT ke-77 RI, Ini Kisahnya

Dampak dari revolusi industri 4.0 dan digitalisasi, menurut Sri pada tahun 2030,  di Indonesia akan ada 23 juta pekerjaan tergantikan oleh automasi, hal ini menimbulkan peluang ada 27-46 juta pekerjaan baru yang akan muncul.

“Tantangannya adalah bagaimana menyiapkan lulusan kita agar bisa menangkap peluang pekerjaan baru yang ada dengan menyiapkan kualitas lulusan tersebut sesuai dengan apa yang dibutuhkan dunia kerja pada masa yang akan datang. Para mahasiswa perlu membekali diri dengan new skill, adapitve, agile learners, self directed, entrepreneur, dibutuhkan SDM yang memiliki kemampuan critical thinking, kemampuan berpikir sistem sehingga mampu menyelesaikan persoalan kompleks, digital literacy, multi-diciplinary, dan global citizenship,” kata Sri Gunani. 

Saat ini pemerintah telah melakukan transformasi kebijakan pendidikan tinggi dengan menyediakan multiple pathways untuk mengembangkan kompetensi pada lulusan.

Sistem pembelajaran yang ditawarkan program MBKM adalah salah satu bentuk upaya transformasi kebijakan pendidikan tinggi untuk memberikan ruang bagi mahasiswa mengasah bakat dan passion-nya dalam flexible learning.

“Pada program MBKM, mahasiswa selama satu semester dapat mengambil mata kuliah hingga 20 SKS. Dosen sudah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, tidak hanya menjadi mitra belajar, namun sebagai ko-pilot yang bisa mengikuti bagaimana mahasiswa memilih cara belajar di tiga semester akhir. Dalam hal ini, tantangan penjaminan mutu adalah menjaga akuntabilitas dari mutu pembelajaran di masing-masing Perguruan Tinggi. MBKM menyiapkan lulusan untuk siap berkompetisi dan berkolaborasi di era global, dengan membutuhkan penguatan dari berbagai keterampilan yang dibutuhkan pada abad ke-21 melalui pengalaman maupun eksposure multi-disiplin,” ujar Sri lagi. 

Baca juga: Universitas Indonesia UI Luncurkan 381 Program Pengabdian Masyarakat, Ini Kata 4 Menteri

Di akhir pemaparannya, Sri Gunani menyampaikan tiga strategi pendidikan tinggi meningkatkan kompetensi dan penyerapan lulusan di dunia kerja.

Pertama, kampus merdeka; Kedua, link & match dan partnership with industry yang terus dilakukan melalui mahasiswa magang, industrial training, industrial sabbatical leave, adjunct professorship, dan industrial research.

Strategi yang ketiga adalah partnership with world-class universities and diaspora, yaitu UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS), AI Institute-consortium of universities, joint research & project, pertukaran pelajar/staf, dan world class professor. 

Selanjutnya, narasumber pertama pada webinar ini adalah Turro Wongkaren, pengajar dan peneliti di Departemen Ilmu Ekonomi FEB UI, yang memberikan paparan terkait perubahan pasar kerja dan graduate employability.

Ia mengutip data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2022 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik, menyatakan bahwa sebanyak 33 persen pekerja underqualified (tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan), 16 persen pekerja overqualified, dan 51 persen pekerja well matched.

“Setengah dari pekerja di Indonesia mismatched, sepertiga tidak memenuhi syarat, dan dan sisanya melebihi kualifikasi. Hal ini memberikan tanda bahwa perguruan tinggi di Indonesia tidak mampu menjawab tantangan di pasar kerja,” ujarnya.  

Baca juga: Dua Guru Besar Universitas Indonesia UI Bambang Wibawarta dan Hikmahanto Juwana Terima Penghargaan

Turro mengungkapkan lima perubahan di pasar kerja.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved