Selasa, 2 Juni 2026

Wawancara Eksklusif

Angka Kematian Bayi Tinggi, Dosen Kesehatan Masyarakat UI Soroti Variabel di Luar Faktor Kesehatan

Adapun tinggi-rendahnya angka tingkat kematian balita dan bayi dipengaruhi oleh sejumlah variabel di luar faktor kesehatan

Tayang:
Editor: murtopo
Wartakotalive.com/Muhamad Fajar Riyandanu
Sekretaris UI dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D saat ditemui di Gedung Rektorat UI pada Jumat (5/11/2021). 

Laporan Wartawan Warta Kota, Muhamad Fajar Riyandanu

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DEPOK - Angka kematian bayi dan balita di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.

Hal ini tertulis dalam disertasi milik mahasiswi Universitas Indonesia (UI) bertajuk Determinasi Kelahiran Resiko Tinggi di Indonesia: Analisis Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017.

Lebih lanjut, penelitian yang ditulis oleh Risma Mulia ini memaparkan, angka kematian balita di Indonesia menurun dari 46 per 1.000 pada tahun 2002 menjadi 32 pada tahun 2017.

Selanjutnya, angka kematian bayi menurun nyata dari 35 per seribu kelahiran hidup pada tahun 2002 menjadi 24 pada tahun 2017.

Baca juga: Angka Kematian Ibu di Indonesia Tinggi, Mayoritas Disebabkan oleh Pendarahan

Adapun tinggi-rendahnya angka tingkat kematian balita dan bayi dipengaruhi oleh sejumlah variabel di luar faktor kesehatan yang disebut dengan Social Determinant (faktor sosial).

"Misalnya pencemaran lingkungan, persediaan makanan bergizi, dan pendidikan orang tua perihal mengasuh anak," kata Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D saat ditemui di Gedung Rektorat UI pada Jumat (5/11/2021).

Lebih lanjut, Agustin mengatakan, faktor upaya melakukan pendidikan terhadap para orang tua memiliki tantangan yang lebih berat dibanding fakto-faktor lain.

Salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah kendala komunikasi di tiap-tiap wilayah di Indonesia.

Baca juga: Pekerja Tenaga Kesehatan Banyak Dicari, Akademisi UI: Kesehatan adalah Modal Utama 

"Orang Indonesia tuh bahasanya beda-beda, kalau kita bikin buku panduan dalam bahasa Indonesia, sampai di Kalimantan atau di Sulawesi, Itu ibu-ibu yang lihat itu Ini pada bilang 'apa ini nggak ngerti bahasanya'," papar Agustin.

Wanita yang juga menjabat sebagai Sekretaris UI ini mengakui bahwa mengurusi kesehatan masyarakat di Indonesia berkali-kali lebih sulit daripada mengurus negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

Kembali merujuk pada penelitian yang ditulis oleh Risma, kelahiran risiko tinggi masih menjadi masalah utama di negara berkembang termasuk Indonesia.

Konsekuensi kelahiran berisiko menjadi salah satu penyumbang terbesar kematian ibu dan anak.

Baca juga: Dosen FKM UI Agustin Kusumayati: Sejarah Ilmu Kesehatan Berangkat dari Upaya Melawan Kolera

Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia (WHO), terjadi 295.000 kematian ibu selama tahun 2017 atau 810 perempuan hamil dan melahirkan meninggal setiap harinya.

Diperkirakan 94 persen kematian terjadi di negara berpendapatan menengah ke bawah dan 86 persen kematian berada di sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved