Wawancara Eksklusif
Angka Kematian Ibu di Indonesia Tinggi, Mayoritas Disebabkan oleh Pendarahan
Padahal, target angka Kematian Ibu AKI Indonesia pada tahun 2015 adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Laporan Wartawan Warta Kota, Muhamad Fajar Riyandanu
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DEPOK - Ketua Komite Ilmiah International Conference on Indonesia Family Planning and Reproductive Health (ICIFPRH), Meiwita Budhiharsana mengatakan hingga tahun 2019, angka Kematian Ibu (AKI) diIndonesia masih tetap tinggi, yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup.
Padahal, target AKI Indonesia pada tahun 2015 adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Menurut Sali Susiana dalam tulisannya yang berjudul Angka Kematian Ibu: Faktor Penyebab dan Upaya Penanganannya (2019) memaparkan tingginya AKI di Indonesia disebabkan oleh sejumlah faktor.
Adapun faktor-faktor tersebut yakni terbatasnya akses perempuan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas, terutama bagi perempuan miskin di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan.
Baca juga: Universitas Indonesia Masuk Top 15 Universitas Terbaik di Asia Tenggara
Faktor lain yang mempengaruhi tingginya AKI adalah akses jalan yang buruk ke tempat pelayanan kesehatan.
Secara nasional, menurut Detty S. Nurdiati, pakar Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, penyebab AKI paling tinggi adalah pendarahan.
Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D menyebut, walaupun kondisi AKI di Indonesia tidak terlalu menggembirakan, Indonesia sudah berupaya untuk mengejar ketertinggalan tersebut dengan menaikan kualitas Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Baca juga: Pekerja Tenaga Kesehatan Banyak Dicari, Akademisi UI: Kesehatan adalah Modal Utama
"Terlepas dari segala kekurangan-kekurangan yang ada, kita tetap punya. Walau istilahnya, selimutnya kependekan. Tutup kepala, kaki keliatan. Tutup kaki, kepala kelihatan," ujar Agustin.
Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia (WHO) sebanyak 295.000 kematian ibu selama tahun 2017 atau 810 perempuan hamil dan melahirkan meninggal setiap harinya.
Diperkirakan 94 persen kematian terjadi di negara berpendapatan menengah ke bawah dan 86 persen kematian berada di sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan.
Baca juga: Dosen FKM UI Agustin Kusumayati: Sejarah Ilmu Kesehatan Berangkat dari Upaya Melawan Kolera
Lebih lanjut, kata Agustin, untuk menekan tingginya angka AKI, kualitas kesehatan masyarakat perlu ditingkatkan melalui intervensi Social Determinant seperti penyehatan makanan dan promosi kesehatan reproduksi remaja melalui peningkatan kesehatan ibu dan anak.
"Begitu kita mempelajari masalah-masalah kesehatan masyarakat, kita juga perlu mempelajari bagaimana sih caranya supaya itu bisa dicegah," pungkas Agustin. (M29).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Sekretaris-UI-dr-Agustin-Kusumayati-MSc-PhD-di-Gedung-Rektorat-UI.jpg)