Keracunan Makanan
Keracunan Siswa Marak Terjadi, Pemkab Bogor Perketat Pengawasan Program MBG
Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat pengawasan mutu gizi dan keamanan pangan dalam program Makanan Bergizi (MBG).
Penulis: Hironimus Rama | Editor: Hironimus Rama
Laporan wartawan TribunnewsDepok.com Hironimus Rama
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, CIBINONG - Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis kini marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Ribuan siswa telah menjadi korban keracunan makanan dari program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini.
Untuk mencegah kasus keracunan MBG ini terjadi di Kabupaten Bogor, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, memperkuat pengawasan mutu gizi dan keamanan pangan yang dibagikan untuk anak sekolah.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan makanan yang disajikan kepada siswa memenuhi standar gizi, higienitas, dan keamanan.
Baca juga: Soal Kasus Keracunan MBG, Wamenko Polkam: Kita Akan Evaluasi Kenapa Bisa Terjadi
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Fusia Meidiawaty, mengatakan pengawasan dilakukan secara terpadu bersama 101 Puskesmas yang menjadi perpanjangan tangan Pemkab Bogor di wilayah.
“Kami mengawasi mulai dari kelayakan kandungan gizi menu yang disediakan, energi, protein, vitamin, mineral, hingga masa kadaluarsa dan cara penyimpanan serta distribusi bahan makanan,” kata Fusia di Cibinong, Rabu (24/9/2025).
Tak hanya pengawasan gizi, Dinas Kesehatan juga melakukan inspeksi kesehatan lingkungan (IKL), termasuk pemeriksaan kualitas air, fasilitas dapur, higienitas, sanitasi pangan, serta pembinaan kepada pihak sekolah dan penyedia makanan. Edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga diberikan kepada siswa, guru, dan orang tua.
“Pemkab Bogor juga melaksanakan pelatihan keamanan pangan siap saji kepada penjamah makanan dan penanggung jawab Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG),” papar Fusia.
Dia menjelaskan guru dan kader UKS di sekolah dilatih untuk melakukan pemantauan gizi sederhana, mengenali gejala alergi atau keracunan makanan, serta memberikan pertolongan pertama bila terjadi kasus.
“Kami menyiapkan SOP penanganan cepat jika ada makanan bermasalah agar bisa segera ditangani,” jelasnya.
Fusia menuturkan Dinas Kesehatan mendorong pemanfaatan pangan lokal agar program MBG lebih berkelanjutan, serta terus mengkampanyekan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang sederhana namun berdampak besar pada kesehatan siswa.
Meski pengawasan diperketat, sejauh ini aman belum ada laporan kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di sekolah. Upaya terpadu ini diharapkan dapat menjaga mutu Program MBG di Kabupaten Bogor sehingga anak-anak mendapatkan makanan yang sehat, aman, dan bergizi.
“Kami lebih menekankan pada upaya preventif dan pengawasan. Kalau terjadi sesuatu, Puskesmas setempat yang akan pertama kali turun tangan sebelum dirujuk ke rumah sakit,” tandas Fusia.
| Dinkes Depok Investigasi Santri Diduga Keracunan Massal, Ambil Sampel Muntahan hingga Air Minum |
|
|---|
| Wali Kota Depok Supian Suri Jenguk Pasien Santri Diduga Keracunan Massal di RS Bhayangkara Brimob |
|
|---|
| Santri Diduga Keracunan Massal di Cimanggis Depok Capai 135 Orang, Gejala Diare, Mual, dan Muntah |
|
|---|
| Total 72 Santri Diduga Keracunan Dirawat di RS Bhayangkara Brimob Depok, Sebagian Sudah Pulang |
|
|---|
| Dinkes Depok Pastikan Puluhan Santri Diduga Keracunan Bukan Karena MBG |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/MBG.jpg)