Kamis, 4 Juni 2026

Transportasi Umum

Pengamat Tata Kota: Ekspansi Jaringan MRT Harus Dibarengi Pengembangan Kawasan yang Dilalui 

Pengamat Tata Kota: Ekspansi Jaringan MRT Harus Dibarengi Pengembangan Kawasan yang Dilalui 

Tayang:
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Hironimus Rama
TribunnewsDepok.com
EKSPANSI JALUR MRT - Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna menekankan ekspansi jalur MRT harus dibarengi pengembangan wilayah yang dilalui. (Dokumen Pribadi Narsum) 

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PANCORAN MAS - Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna memberikan tanggapan terkait rencana ekspansi jaringan MRT (Moda Raya Terpadu) Lintas Timur-Barat.

Menurut Yayat, jalur ini akan menghubungkan kawasan industri Cikande di bagian barat Jakarta dengan kawasan industri Cikarang di bagian timur.

Kehadiran jalur ini akan menarik fungsi-fungsi perkotaan keluar dari Jakarta (inti), sehingga menciptakan konsep desentralisasi fungsional yang menyebarkan aktivitas ke wilayah penyangga.

Baca juga: Bakal Lewati 3 Provinsi, Proyek MRT Cikarang-Balaraja Sepanjang 84 Km Mulai Digarap 2026

Di bagian barat, jalur ini akan melewati kota-kota baru dan perumahan besar seperti Gading Serpong dan Summarecon.

“Jadi, Jakarta tidak lagi memikul beban sendirian, tapi fungsi-fungsi perkotaan itu ditarik keluar,” kata Yayat kepada TribunnewsDepok.com, Sabtu (23/5/2026).

Dampak Ekspansi MRT

Bagi Yayat, dampak pembebasan lahan terhadap warga lokal akan sangat bergantung pada metode konstruksi, apakah di bawah tanah (underground) atau melayang (elevated).

Jika dibangun di bawah tanah, maka tidak ada unsur pembebasan lahan warga. Begitu pula jika dibangun secara melayang di atas jalan tol atau jalan yang sudah ada, prosesnya akan lebih cepat, murah, dan meminimalkan penggusuran.

Dampak pembebasan lahan kemungkinan besar hanya akan terjadi di area yang akan dijadikan stasiun atau kawasan Transit Oriented Development (TOD).

Di tengah naiknya harga bahan bakar, MRT dapat menjadi pilihan yang realistis bagi masyarakat kelas menengah untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal karena kapasitas angkutnya yang besar, lebih mudah, dan cepat.

Yayat menjelaskan, keberhasilan proyek ini diukur dari kepastian waktu pembangunan serta biaya tarif yang terjangkau, yang mana hal ini berkaitan dengan ada atau tidaknya subsidi tarif nantinya.

“Proyek ini sukses kalau bisa menangkap nilai tambah dari rute yang dilewatinya, atau yang kita sebut dengan Land Value Capture (LVC),” ujarnya.

“Jangan sampai MRT-nya dibangun, tapi di sekitar stasiun tidak ada pertumbuhan baru,” sambungnya.

Kawasan di sekitar stasiun harus dikembangkan menjadi hunian vertikal, seperti rumah susun/apartemen bagi para pekerja.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved