Liputan Khusus
Soroti Polemik Penonaktifan Massal PBI-JK, Pengamat Kebijakan Publik UI Tekankan Evaluasi
Soroti Polemik Penonaktifan Massal PBI-JK, Pengamat Kebijakan Publik UI Tekankan Evaluasi
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Hironimus Rama
Laporan M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia (UI), Ima Mayasari turut memberikan tanggapan terkait polemik penonaktifan massal kepesertaan BPJS Kesehatan PBI-JK (Penerima Bantuan Iuran-Jaminan Kesehatan).
Ima menilai, penonaktifan kepesertaan PBI-JK dilakukan tanpa adanya pemberitahuan atau sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat.
Alhasil, pasca kebijakan tersebut dilakukan, masyarakat yang sebelumnya menerima PBI-JK kebingungan karena tak lagi ditanggung saat berobat.
Baca juga: Warga Depok Resah Kepesertaan PBI-JK Tiba-tiba Nonaktif Serentak, BPJS Kesehatan Buka Suara
Selain itu, Doktor Hukum UI itu menekankan agar kebijakan PBI-JK terintegrasi dengan data sosial ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat yang benar-benar dikategorikan miskinlah yang menerima PBI-JK.
“Artinya harus in line atau terintegrasi dengan data sosial ekonomi dari masyarakat itu sendiri,” kata Ima saat dihubungi Warta Kota, Kamis (12/2/2026).
“Masyarakat yang benar-benar dikategorikan miskin, mereka berhak untuk mendapatkan PBI,” sambungnya.
Dampak Penonaktifan PBI-JK
Penonaktifan massal kepesertaan PBI-JK tanpa pemberitahuan atau sosialisasi juga berdampak bagi pasien.
Kebijakan ini sangat beresiko bagi pasien penyakit kronis, seperti penderita gagal ginjal yang membutuhkan perawatan rutin seperti cuci darah.
“Ini menjadi persoalan ketika BPJS mereka nonaktif, mereka ke rumah sakit, bisa jadi rumah sakit tersebut tidak melayani karena dari sisi persyaratan PBI-nya tidak terpenuhi lagi gitu,” ujarnya.
Untuk itu, Ima menyarankan pemerintah membuat mekanisme agar pasien miskin tetap bisa ditangani meskipun menggunakan dana Bansos atau skema lainnya.
Evaluasi Kebijakan
Bagi Ima, pemerintah maupun pihak BPJS Kesehatan harus melakukan evaluasi polemik yang ditimbulkan dari penonaktifan massal kepesertaan PBI-JK.
| Terjerat Pinjol Ratusan Juta karena Judol, Iwan Frustasi hingga Nyaris Tabrakkan Diri ke Truk |
|
|---|
| Gaji Tak Mencukupi, Guru Honorer Sekolah Swasta di Jakut Pilih Alih Profesi Menjadi Buruh Pabrik |
|
|---|
| Pakar Demografi UI Ingatkan Dampak Urbanisasi Tanpa Kontrol, Picu Kemiskinan hingga Kriminalitas |
|
|---|
| Kebutuhan Lebaran Membengkak, Warga Depok Ramai-Ramai Gadaikan Emas |
|
|---|
| Jalan Rusak Makan Korban Jiwa, Pengamat Transportasi: Penyelenggara Jalan Bisa Dipenjara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Pengamat-Kebijakan-Publik-UI-Ima-Mayasari.jpg)