Jumat, 10 April 2026

Kisah Para Penjaga Kali Ciliwung: Lebih dari Sekadar Bersih-bersih Sampah

Dalam jarak satu kilometer dari basecamp, kami bisa mulung 2 ton sampah. Kebanyakan sampah rumah tangga seperti popok, pampers,dan pastik.

Penulis: Alex Suban | Editor: murtopo
Tribunnewsdepok/Muhamad Fajar Riyandanu
Ketua Komunitas Ciliwung Depok, Muhammad Andi saat ditemui di Basecamp KCD pada Minggu (12/12/2021), siang. 

Laporan Tribun News Depok, Muhamad Fajar Riyandanu

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DEPOK - Bergumul dengan sampah menjadi salah satu aktivitas yang tak mungkin dipisahkan dari Komunitas Ciliwung Depok (KCD).

Komunitas yang mendirikan basecamp di bawah jembatan Jalan Bulevard Grand Depok City ini kerap kali mengais sampah-sampah rumah tangga yang mengambang di aliran Kali Ciliwung.

"Dalam jarak satu kilometer dari basecamp, kami bisa mulung 2 ton sampah. Kebanyakan sampah rumah tangga seperti popok, pampers, bungkus Indomie dan deterjen. Karena sebagian besar sampah di Kali Ciliwung ini sampah rumah tangga," kata Ketua Komunitas Ciliwung Depok Muhammad Andi saat ditemui di Basecamp KCD pada Minggu (12/12/2021), siang.

Andi menambahkan, giat susur sungai kerap kali dilakukan tiap 2 kali seminggu.

Baca juga: Wisata Arung Jeram Depok Buka Tapi Dibatasi, Komunitas Ciliwung Fokus untuk Penanganan Banjir

Namun, lanjut Andi, intensitas mulung sampah di Kali Ciliwung lebih sering dilakukan saat musim kemarau.

Adapun giat bersih-bersih kali itu disebut dengan Bebenah Ciliwung.

"Misalnya sekarang kita bersihin, trus malamnya banjir, jadi percuma. Makanya yang efisien itu di musim kemarau dari bulan April ke September," sambung Andi.

Biasanya, sebagian sampah yang diperoleh dari giat Bebenah Ciliwung dimanfaatkan untuk menghasilkan Ecobrick.

Ecobrick merupakan botol plastik yang diisi padat dengan limbah plastik untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali.

Baca juga: Jaga Lingkungan, Komunitas Anak Muda dari Trash Hero Pungut Sampah di Sungai Ciliwung

"Kalau di luar negeri sudah jadi bahan bangunan rumah, dia pengganti batu bata yang direkatkan dengan semen. Kalau di sini biasanya digunakan untuk pembuatan meja dan kursi," jelas Andi.

Saat mengunjungi markas KCD, terlihat sejumlah meja dan kursi yang terbuat dari susunan ecobrick.

Kursi itu dibuat dari limbah krat botol yang tak terpakai.

Lubang-lubang krat itu diisi oleh ecobrick yang kemudian ditutup oleh triplek tipis.

Di sana, ada sekira 3 buah kursi yang dibuat dari pengolahan ecobrick.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved