Kisah Para Penjaga Kali Ciliwung: Lebih dari Sekadar Bersih-bersih Sampah
Dalam jarak satu kilometer dari basecamp, kami bisa mulung 2 ton sampah. Kebanyakan sampah rumah tangga seperti popok, pampers,dan pastik.
Penulis: Alex Suban | Editor: murtopo
Pembuatan ecobrick sebetulnya cukup mudah, hanya berbekal botol plastik, sampah plastik yang sudah dibersihkan, dan satu buah tongkat kayu yang digunakan untuk memasukkan sampah plastik ke dalam botol.
Baca juga: Pandemi Covid-19 Kondisi Basecamp Komunitas Ciliwung Depok Tampak Sepi, Pengunjung Dibatasi
"Jadi konsepnya itu memadatkan sampah plastik yang nanti akan jadi satu kesatuan dan jadi bahan yang keras. Biasanya bisa kita jadiin bangku dari sampah plastik bekas sampo dan makanan ringan," papar Andi.
Seluruh sampah yang berhasil didapatkan dari giat Bebenah Ciliwung memang tidak semua bisa digunakan sebagai bahan ecobrick. Sering kali, sampah-sampah tersebut selanjutnya dioper ke Dinas Kebersihan.
Selain kegiatan pengolahan sampah, KCD juga memiliki kegiatan tanam menanam di area bantaran kali. Menurut Andi, kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan warga sekitar.
"Kami rencananya mau dampingi 1 RT dulu nih. Sebenernya ada inisiasi dari warga sendiri untuk bersih-bersih kali, maka kita fasilitasi," ujar Andi.
Andi menilai, aksi kepedulian merawat Kali Ciliwung akan lebih terjaga apabila ada kesadaran dari para warga.
Dari pengalaman yang sudah-sudah, kegiatan yang muncul bukan dari inisiatif warga hanya akan berakhir tanpa adanya tindaklanjut.
"Kayak kegiatan event saja. Jadi gak akan berkepanjangan. Sama kayak kegiatan kayak maaf-maaf nih, kegiatan kedinasan. Beda kalau inisiatif dari warganya, kalau kita turun ke sana dan dalam jangka waktu tertentu kami tinggal, itu akan tetap diurusin karena itu berangkat dari keinginan warga," tutur Andi.
Kegiatan tanam menanam ini sekaligus menjadi bentuk edukasi warga perihal tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam di pinggiran kali.
Andi menjelaskan, ada tiga jenis pohon yang cocok ditanam di bantaran kali, yakni pohon Bambu, Elo, dan Akar Wangi.
"Kenapa tiga pohon ini? Karena pohon itu memiliki akar kuat yang bisa tumbuh cepat di pinggir sungai. Akar kuat ini fungsinya untuk menahan pengikisan tanah sewaktu banjir, dan antisipasi longsor," jelasnya.
Kemudian, selain kegiatan bebenah sungai dan tanam menanam, Komunitas Ciliwung Depok juga menyelenggarakan edukasi reptil seperti ular, biawak, dan berang-berang.
"Tapi kita biasanya edukasi terkait binatang yang berpotensi menimbulkan bahaya di masyarakat, misalnya ular," ucap Andi.
Kegiatan edukasi tersebut dilakukan dengan memamerkan beragam jenis ular di kotak kaca berbentuk kotak.
Jenis ular yang dipamerkan antara lain ular kobra, sanca, viper, dan ular tak berbisa seperti ular pohon.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Ketua-Komunitas-Ciliwung-Depok-Muhammad-Andi-saat-ditemui-di-Basecamp-KCD.jpg)