Sabtu, 25 April 2026

Liputan Khusus

Indocement Siap Tampung Bahan Bakar RDF Hasil Olahan Sampah dari TPPAS Lulut Nambo

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, siap menampung bahan bakar RDF ((Refuse Derived Fuel) yang dihasilkan TPPAS Regional Lulut Nambo.

Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: murtopo
Tribunnewsdepok.com/Hironimus Rama
TPPAS NAMBO - Sekda Jawa Barat Herman Suryatman (kiri), Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono (tengah) dan Direktur Utama Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya (kanan) sedang berdiskusi saat mengunjungi TPPAS Lulut Nambo di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Rabu (23/4/2025). 

Laporan wartawan TribunnewsDepok.com Hironimus Rama

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, CITEUREUP - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, siap menampung bahan bakar RDF ((Refuse Derived Fuel) yang dihasilkan dari pengolahan sampah di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Lulut Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama Indocement, Christian Kartawijaya, saat mendampingi Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, mengunjungi TPPAS) Regional Lulut Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (23/4/2025).

"Kami siap menampung RDF dari TPPAS Lulut Nambo," kata Christian.

Dia menjelaskan Indocement membutuhkan 2.500 ton RDF per hari.

Baca juga: Liputan Khusus: TPPAS Lulut Nambo Tak Kunjung Beroperasi, Ini Penyebabnya

"Saat ini kami menampung RDF dari Bantargebang, Bekasi, dan segera dari Rorotan, Jakarta Utara. Tetapi itu masih kurang. Karena itu, kami siap menampung 800 ton per hari dari TPPAS Nambo," ucap Christian.

Sebelum mengunjungi TPPAS Lulut Nambo, Christian mendampingi Wamen Diaz Hendropriyono mengelilingi
Kompleks Pabrik Indocement di Citeureup, Kabupaten Bogor.

Rombongan diajak untuk mengunjungi fasilitas pengumpan bahan bakar alternatif di Kompleks Pabrik Indocement Citeureup.

Mereka melihat langsung fasilitas hotdisc di Plant 11 serta fasilitas vecoplant di Plant 14.

"Rombongan juga melihat secara langsung bagaimana proses dumping bahan bakar alternatif berupa refuse devired-fuel (RDF) melalui fasilitas vecoplant di Plant 14," paparnya.

Baca juga: Kunjungi TPPAS Lulut Nambo, Wamen Lingkungan Hidup Dorong Indocement Tangani Sampah

Sebagai informasi, Indocement sendiri telah menandatangani Perjanjian RDF Supply dengan PT Jabar Bersih Lestari (pemenang tender pembangunan RDF Platform TPPAS Lulut Nambo) pada tahun 2018.

Untuk memfasilitasi perjanjian tersebut Indocement juga telah membangun jalan tembus dan dua jembatan untuk menghubungkan Gerbang Tol Gunung Putri ke TPPAS Lulut Nambo.

Tak hanya itu, Indocement juga membangun beragam fasilitas lainnya untuk menerima dan mengelola RDF di Kompleks Pabrik Citeureup.

"Realisasi pengiriman RDF dari TPPAS Lulut Nambo diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar alternatif (AF) di Kompleks Citeureup yang mencapai 2.500 ton setiap hari," ungkap Christian.

Baca juga: TPPAS Lulut-Nambo Belum Beroperasi, Begini Kata DLHK Jawa Barat

Saat ini Indocement masih kekurangan pasokan sekitar 1.000 ton per hari.

Salah satu pemasok AF Indocement adalah TPST Bantargebang yang mampu mengirimkan 450–500 ton RDF setiap hari.

Demikian pula di Kompleks Pabrik Cirebon, Indocement memiliki fasilitas pengolahan bahan bakar alternatif untuk menampung sekam padi, bonggol jagung, dan RDF dengan kapasitas mencapai 1.300 ton per hari.

"Saat ini Indocement masih kekurangan pasokan sekitar 500 ton per hari," ucap Christian.

Sementara Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman, mengungkapkan TPPAS Lulut Nambo hingga kini belum bisa beroperasi secara optimal.

"Kami punya aset yang luar biasa yaitu TPPAS Lulut Nambo. Namun hingga kini belum bisa beroperasi secara optimal," bebernya.

Baca juga: Operasional TPPAS Nambo Ditolak, Anggota DPRD Jabar Minta Pemprov Jabar & Pemkab Bogor Cari Solusi

Menurutnya, TPPAS Lulut Nambo bisa menampung hingga 2.300 ton sampah per hari. Namun faktanya hari ini baru 50 ton yang bisa ditampung.

"Dari total kapasitas itu (2.300 ton-Red), sampah yang bisa diolah jadi RDF kurang lebih 800 ton," tutur Herman. 

Karena itu, Pemptov Jawa Barat membutuhkan dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Indocement agar bisa meningkatkan kapasitas pengolahan sampah serta mendapatkan mitra usaha yang potensial.

"Kami harap Lulut Nambo bisa menjadi TPPAS terbaik dan menjadi solusi penanganan sampah di Bogor-Depok dan sekitarnya yang setiap hari mwnghasilkan lebih dari 2000 ton sampah," imbuhnya.

Herman menegaskan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sangat peduli dengan masalah sampah dan TPPAS Lulut Nambo menjadi salah satu solusinya.

"Untuk warga Depok-Bogor, Pak Gubernur Dedi sangat peduli dengan masalah pengolahan sampah. Mudah-mudahan TPPAS Nambo bisa kita tingkatkan kapasitasnya dari 50 ton jadi 2.300 ton per hari," tandas Herman.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved