Sabtu, 9 Mei 2026

Kesehatan

Cegah Anak Alami Stunting Perbanyak Konsumsi Protein Hewani Terutama Ikan

Dokter Luna menambahkan bahwa kondisi stunting pada anak juga akan mempengaruhi pertumbuhan otak anak.

Tayang:
Editor: dodi hasanuddin
Wartakotalive.com
Cegah Anak Alami Stunting Perbanyak Konsumsi Protein Hewani Terutama Ikan 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Mochammad Dipa

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PALMERAH - Ikan adalah sumber protein hewani yang kaya akan asam amino esensial, omega-3 asam lemak, vitamin D, dan mineral seperti iodin, selenium, zinc, dan besi.

Nutrisi-nutrisi ini memiliki peran penting dalam pertumbuhan tulang, perkembangan otak, dan sistem kekebalan tubuh anak-anak.

Kandungan nutrisi yang lengkap dalam ikan membuatnya menjadi pilihan makanan yang sangat baik untuk mencegah stunting.

Baca juga: Menu untuk Cegah Stunting Dianggap Tak Cukupi Kebutuhan Gizi, DPRD Kota Depok Panggil Pihak Terkait

Berbicara soal stunting, dokter spesialis anak Lucia Nauli Simbolon dalam podcast Warta Kota belum lama ini mengatakan, stunting merupakan kondisi mal nutrisi kronis yang menyebabkan kondisi berat dan tinggi badan anak tidak sesuai dari grafik tinggi badan yang seharusnya.

"Jadi stunting ini nggak mungkin terjadi secara tiba-tiba. Selama dua tahun pertama anak ini kurang gizi akibatnya dia pendek daripada teman-teman seusianya atau tidak sesuai daripada grafik tinggi badan yang seharusnya atau biasa dikenalnya pendek," ungkap dokter yang akrab dipanggil Luna.

Baca juga: Minta PMT Balita Stunting Ditunda, Ikravany Hilman: Ini Bukan Soal Bagi Makanan Tetapi Edukasi

Dokter Luna menambahkan bahwa kondisi stunting pada anak juga akan mempengaruhi pertumbuhan otak anak.

"Artinya adalah jika tingga badannya tidak sesuai karena kekurangan gizi untuk pertumbuhan otaknya juga pasti terganggu," ujarnya.

Protein Hewani

Menurut dokter Luna, untuk mencegah stunting, anak perlu diberikan asupan protein hewani yang cukup.

Tidak hanya dalam bentuk ayam atau daging sapi, melainkan juga penting untuk konsumsi ikan, baik dalam bentuk ikan segar maupun ikan olahan. 

"Yang jelas kalau dari kami (dokter anak) menyarankan adalah konsumsi protein hewani, jadi yang dihitung itu protein hewani, masalah mau ditambah protein nabati seperti tahu atau tempe silahkan aja," sebutnya.

Dokter Luna menyebutkan bahwa jumlah asupan protein yang diperlukan untuk anak usia 1-2 tahun membutuhkan sebanyak 100 gram sehari protein hewani.

"Sementara, untuk anak usia 3-4 tahun membutuhkan asupan protein hewani sebanyak 200 gram sehari," jelas dokter Luna.

Perkenalkan Anak Konsumsi

Dokter Luna menyatakan bahwa orangtua juga perlu untuk lebih memperkenalkan anak konsumsi ikan.

Caranya dengan membuat variasi olahan ikan agar menarik bagi anak.

Baik itu digoreng maupun dikukus.

Sebab itu, hal yang terpenting adalah anak diperkenalkan dengan menu makan keluarga.

"Untuk pengolahan ikan boleh aja mau dalam bentuk apapun karena setiap orang punya preferensi yang berbeda, kadang ya kalau anak kita makan ikan yang olahan tapi kita makan pepes, pasti anaknya minta makan pepes," katanya

"Jadi memang seharusnya menu makan keluarga atau sepiring bersama dengan keluarga," tambah dokter Luna. 

Karena ikan memiliki kandungan asam amino esensial yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh manusia, maka dokter Luna merekomendasikan masyarakat Indonesia terutama anak-anak untuk lebih meningkatkan konsumsi ikan

"Untuk porsi ikannya ya memang harus sedikit-sedikit, setuju sekali memang bahwa ikan bukan sesuatu yang tidak boleh kita kenalkan saat Mpasi," ucapnya.

Jadi awal-awal makan biasanya selain daging sapi, ayam, nah kalau ikan itu konsumsi ikan tawar dulu. Apalagi ikan lokal, seperti gurame, gabus, kembung.

Jadi sebenarnya bagus banget kalau kita bisa mengolah ikan lokal untuk anak-anak di indonesia dengan mudah murah berkualitas dan juga pastinya enak.

Ia juga menyarankan anak-anak untuk mengonsumsi jenis ikan air tawar yang banyak di temui di Indonesia seperti, gurame, gabus, kembung dan lain-lain. 

"Jadi sebenarnya bagus banget kalau kita bisa mengolah ikan lokal untuk anak-anak di Indonesia karena mudah didapat, murah, berkualitas dan juga pastinya enak," ujarnya.

Konsumsi protein hewani masyarakat indonesia 52 persen adalah ikan

Sementara, Sales Manager Tilapia & Seafood, PT Suri Tani Pemuka (STP), Hersynanda Karyadi Utama dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, mengutip data Susenas BPS tahun 2022 yang dikumpulkan dari hasil survei pada 2016 sampai 2022, bahwa konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia 52 persennya adalah ikan. 

Tapi ketika ditelisik lebih dalam, dari 52 persen konsumsi ikan ternyata di dalamnya ada jenis ikan peda, ikan asin, termasuk konsumsi ikan yang sudah di awetkan. 

"Pertanyaannya adalah, jenis konsumsi ikan apa yang menjnjang kebutuhan masyarakat indonesia untuk mencegah stunting? Karena kalau dari data ini yang menggelitik adalah bisa jadi konsumsi seafood nya tinggi tapi kualitas dari konsumsi seafood itu yang perlu kita tahu lebih lanjut," ucap pria yang akrab dipanggil Nanda.

Nanda menilai, kemampuan ekonomi menjadi faktor masyarakat yang hanya bisa mengakses produk protein hewani seperti ikan namun dengan kualitas yang kurang baik untuk dikonsumsi, terutama bagi anak-anak.

"Bisa jadi seafood yang kualitasnya nggak terlalu baik untuk dikonsumsi yang banyak diakses, sehingga nilai konsumsinya seakan-akan di nilai tinggi, sepeti ikan asin dan kawan-kawannya, apakah itu yang kita harapkan untuk di masukkan ke anak sejak dini yang sebenarnya bukan itu?" ungkapnya.


Lantas, produk ikan apa yang dapat menunjang pencegahan stunting di Indonesia? Nanda menyebutkan, bahwa Japfa yang merupakan produsen makanan olahan mencoba untuk membantu menaikkan konsumsi ikan di Indonesia yang lebih berkualitas dan cepat disiapkan.

"Orang pasti kenal Japfa dengan produk sosis So Good. So Good ini selain ayam sebetulnya Japfa juga punya produk seafood seperti ebi panko. Nah karena kita perhatian untuk produk seafood dinaikkan, Japfa punya satu merek khusus seafood yakni Seafood lovers," jelas Nanda.

Nanda juga memastikan bahwa fasilitas dan teknologi Japfa telah memenuhi standar higienis untuk menjaga kualitas produk.

"Saat kita memproses ikan, rantai dinginnya harus dijaga. Seberapa cepat ikan itu diolah saat dia datang dalam keadaan mati sampai kepada proses makanan olahan," ungkapnya.

Ia mengatakan, bahwa semua bisnis unit di Japfa selalu melakukan fully integration, dimana Japfa memiliki budi daya ikan sendiri bahkan hingga pakan ikannya memiliki kandungan nutrisi yang khusus.

"Jadi ketika dipanen ikannya dalam keadaan hidup dari keramba sampai ke pabrik. Itu memastikan kita seperti seakan2 mancing dibelakang rumah. Kita live harvest," jelas Nanda.

Pemerintah pemudah akses sumber protein untuk mencegah stunting

Di sisi lain, sosiolog dari Universitas Nasional, Bayu A Yulianto, menilai pemerintah perlu mempermudah akses sumber protein terutama bagi masyarakat menengah ke bawah untuk bisa mendapatkan sumber protein yang lebih beragam.

"Seperti halnya sumber protein ikan, yang menurut saya masih sangat perlu ditingkatkan," sebutnya.

Jika mengarah kepada upaya meningkatkan konsumsi ikan di masyarakat untuk meningkatkan kecukupan protein dalam rangka mencegah stunting, Bayu membandingkan antara dua kota yang cukup ekstrim antara Ambon, Maluku dan Gunung Kidul, Yogyakarta dari segi budaya konsumsi ikan.

"Saat ini konsumsi ikan paling tinggi di indonesia itu sampai sekarang Maluku sedangkan konsumsi ikan paling rendah adalah di Yogyakarta.

Permasalahan struktural dan kultural

Dari penelitian yang Bayu lakukan, ternyata ada banyak masalah terkait konsumsi ikan untuk kecukupan protein. Persoalannya terkait struktural dan kultural.

Jika dilihat dari permasalahan struktural sejauh mana sebuah daerah tersebut memproduksi ikan atau stok ikan yang melimpah cukup banyak.

Sementara permasalahan dari sisi kultural, yakni terkait daerah yang internalisasi dan sosialisasi konsumsi ikan dalam tingkat keluarga.

"Salah satu contohnya, tumpeng di masyarakat Jawa, apakah ada ikannya? Lebih banyak ayam dan daging, walaupun saat ini sudah ada juga tumpeng yang isinya ikan," ujar Bayu.

Untuk itu, lanjut Bayu, pemerintah perlu memastikan produk ikan tersedia di pasaran dengan cukup mudah dan murah.

"Selain itu memasyarakatkan produk-produk kuliner berbasis protein hewani khususnya ikan," tandasnya. (dip)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved