Rabu, 15 April 2026

Rektor IPB Arif Satria Bicara Ketahanan Pangan, Ini Solusi yang Ditawarkan

Menurut rektor IPB Prof Dr Arif Satria, SP, M.Si, pihaknya memiliki inovasi-inovasi yang bisa menjadi solusi di tengah krisis ketahanan pangan.

Penulis: Hironimus Rama | Editor: murtopo
Tribunnewsdepok.com/Hironimus Rama
Rektor IPB Prof Dr Arif Satria, SP, M.Si. 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com Hironimus Rama

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DRAMAGA - Di awal tahun 2022 ini, masyarakat menghadapi masalah ketahanan pangan mulai dari minyak goreng, tahu, dan tempe yang sulit ditemukan serta kenaikan harga gula pasir dan daging sapi.

Khusus minyak goreng, persoalan ini tak kunjung usai sejak tahun lalu meski pemerintah mengguyur subsidi dan mengatur pasokan dalam negeri.

Institut Pertanian Bogor (IPB) ikut menyoroti permasalahan ketahanan pangan tersebut.

Menurut rektor IPB Prof Dr Arif Satria, SP, M.Si, pihaknya memiliki inovasi-inovasi yang bisa menjadi solusi di tengah krisis ketahanan pangan.

"Soal ketahanan pangan itu, saya pikir salah satu solusinya adalah bagaimana inovasi-inovasi yang ada di kampus dan lembaga penelitian dipercepat proses hilirisasinya," kata  Arif Satria dalam wawancara eksklusif dengan pemimpin redaksi Warta Kota Domu D Ambarita  belum lama ini.

Dia mengambil contoh masalah kelangkaan tempe karena kurangnya pasokan bahan baku berupa kedelai bulan lalu.

"Saya pikir soal kedelai ini, kita butuh inovasi-inovasi unggul. IPB sudah punya teknik budidaya yang bisa menghasilkan 4,6 ton per hektare. Sedangkan rata-rata nasional itu 1,5 ton per hektare, artinya kami tiga kali lipat," ujarnya.

Menurut Arif, kalau inovasi-inovasi dari kampus ini semakin banyak dikembangkan, maka produksi kedelai akan bisa terdongkrak.

Baca juga: Rektor IPB Apresiasi Program Petani Milenial Besutan Kang Emil, Bandingkan Indonesia dengan Jepang

"Namun problem kedelai di kita adalah meskipun produksi bisa tinggi, tetapi pasar merespons dengan harga yang tidak menggiurkan sehingga petani-petani kita lebih cenderung menanam tanaman lain dari pada kedelai," tuturnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, IPB mempunyai alternatif lain untuk menggantikan kedelai yaitu kacang tunggak.

"Kami sudah bisa membuat kacang tunggak itu menjadi lebih putih, jadi mirip kedelai. Kacang tunggak bisa menjadi subtitusi kedelai," jelas Arif.

Baca juga: Apresiasi Program Petani Milenial, Rektor IPB Arif Satria: Kekuatan Bangsa Terletak pada Pangan

Mantan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) ini menambahkan sebenarnya banyak sekali produk-produk substitusi yang bisa dihasilkan di Indonesia, sehingga tidak terlalu harus bergantung kepada satu jenis produk.

Kalau kedelai langka, maka ada kacang tunggak yang bisa diproduksi dengan sistem tumpang sari dan bisa ditingkatkan produktivitasnya.

"Kami bisa memproduksi tempe dari kacang tunggak dengan rasa yang hampir sama dengan tempe dari kedelai. Karena itu, sebenarnya kita tidak perlu khawatir tentang masa depan tempe karena banyak produk-produk substitusi yang bisa dihasilkan," tutur Arif.

Baca juga: Tingkatkan Produktivitas Pangan, Ridwan Kamil Wisuda 1.249 Petani Milenial di IPB University

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved