Selasa, 2 Juni 2026

Covid 19

Klinik Swab Tes Antigen dan PCR Covid-19 di Pondok Aren Sepi Pasien, Pasca Turunnya Pandemi

Untuk per harinya enggak menentu, tapi biasanya 30 orang. Untuk sepekan ini kita cuman menerima 10 orang, pokoknya kalau di grafik menurun sekali

Tayang:
Editor: Umar Widodo

Laporan Wartawan Tribuntangerang.com, Rizki Amana

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PONDOK AREN - Tren penurunan penularan dan penyebaran infeksi covid-19 berimbas terhadap sepinya individu yang melakukan uji swab antigen maupun PCR.

Seperti halnya yang terjadi pada Klinik Swab Tes Antigen dan PCR Covid-19 di Ruko Emerald Boulevard, Parigi, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

"Untuk per harinya enggak menentu, tapi biasanya 30 orang. Untuk sepekan ini kita cuman menerima 10 orang, pokoknya kalau di grafik menurun sekali, hari ini saja baru dua orang," kata Diaz (23) selaku petugas laboratorium Klinik Swab Tes Antigen dan PCR Covid-19 itu kepada Tribuntangerang.com saat ditemui di lokasi, Pondok Aren, Kota Tangsel, Selasa (8/3/2022).

Perawat lulusan salah satu akademi keperawatan di kawasan Banyumas, Jawa Tengah itu mengaku memiliki rasa kekhawatiran di tengah mulai sepinya individu yang melakukan uji usap covid-19 tersebut. 

Dirinya khawatir sepinya uji usap covid-19 yang dilakukan berimbas terhadap penurunan pendataan klinik hingga mengancam pekerjaannya. 

Diaz Petugas Kesehatan
Diaz (23) tenaga laboratorium di Klinik Swab Tes Antigen dan PCR Covid-19 di Ruko Emerald Boulevard, Parigi, Pondok Aren, Kota Tangsel

"Kalau dibilang takut kehilangan pekerjaan takut. Tetapi kita berpikir positif saja," ungkapnya. 

Meski dihantui rasa ketakutan akan kehilangan mata pencahariannya, pemuda lulusan keperawatan itu tetap memiliki motivasi untuk dapat terus berkarir di bidang kesehatan. 

Sebab, Klinik tempat ia bekerja saat ini telah mengatur konsen berjalannya usaha di tengah terancamnya bisnis swab test antigen dan PCR covid-19. 

Ditambah, dirinya yang merupakan lulusan sekolah keperawatan dapat mencari pekerjaan pada bidang kesehatan lainnya jika klinik tersebut tak lagi beroperasi. 

"Untuk pemberhentian belum ada informasinya. Tapi saya percaya karena sudah punya basic sebagai perawat dan bisa menjalankan tugas perawat semestinya," ungkapnya. 

Tak mau bergelut dengan rasa kekhawatiran akan kehilangan mata pencahariannya, ia yang telah bekerja selama 4 bulan itu pun mengungkapkan kisah suka dukanya sebagai petugas uji usap covid-19 tersebut. 

Saat menjalani tugasnya itu, Diaz kerap dihadapi dengan sejumlah permintaan yang mendesak dari para pasiennya. 

Bahkan, tak jarang para pasien merongrong dirinya untuk mengeluarkan hasil uji usap yang dijalaninya secara kilat. 

Hal itu terjadi ramainya masyarakat yang memburu klinik uji usap di tengah meningkatnya tren penularan dan penyebaran infeksi covid-19. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved