Sabtu, 11 April 2026

Pemkot Depok

Harga Telur Terus Turun, Kadisdagin Kota Depok Sebut Ada Dua Penyebabnya

Kepala Disdagin Kota DepokZamrowi mengatakan ada dua penyebab harga telur ayam terus menurun di tingkat peternak.

Penulis: Mochammad Dipa | Editor: murtopo
TribunnewsDepok.com/Mochammad Dipa
Kandang peternakan ayam petelur di kawasan Cilodong, Depok, milik H.Nisar. Turunnya harga telur membuat H. Nisar merugi karena harus menutupi biaya pakan ayam yang terus meningkat. 

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, Mochanmad Dipa

TRIBUNNEWSDEPOK.COM - Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok, Zamrowi mengatakan ada dua penyebab harga telur ayam terus menurun di tingkat peternak, yaitu harga pakan yang naik dan daya beli masyarakat yang turun akibat pandemi Covid-19. 

"Yang kami ketahui ada dua penyebabnya, pertama dari pakannya, sehingga ongkos produksinya tinggi, disisi lain pandemi menyebabkan deflasi atau daya beli masyarakatnya turun. Jadi dua kutub itu aja tuh yang belum ketemu. Cost produksi tinggi, permintaan rendah, jadi harganya turun,"ujar Zamrowi kepada TribunnewsDepok.com, Rabu (13/10/2021).

Menurut Zamrowi, sebagai upaya membantu peternak agar tidak terus merugi, dari pihak Kementerian Perdagangan pun pada beberapa bulan yang lalu membeli telur secara besar-besaran dan telur tersebut di berikan ke para tenaga kesehatan di Kota Depok.

Baca juga: Harga Telur Turun, Peternak Ayam di Cilodong Depok Cuma Bisa Pasrah

"Nah ini salah satu kiat membantu para peternak ya meski kiat ini tidak serta merta menstabilkan harga telur," ucap Zamrowi.

Ia berharap pandemi ini berakhir dan permintaan telur kembali meningkat. "Karena telur kan sumber protein yang digemari masyarakat," ucapnya.

Dengan harga telur yang merosot, peternak ayam telur pun mengalami kerugian.

Salah satu peternak di Jalan Kampung Kebon Duren, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Nisar mengatakan, saat ini, dia memiliki 600 ekor ayam yang harus diberi makan setiap pagi dan sore. Biaya pakannya, yakni Rp6.300/Kg, dan sehari bisa menghabiskan 60kg.

Baca juga: Hadirkan Aplikasi “Si Pipit”, Ini Target Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor

“Untuk sehari hasilkan telur sekitar 20 kg. Saya jual Rp16.000 per kg langsung ke penjual telur seperti warung. Ya kalau dihitung malah keluar modal lebih saya,” ujarnya kepada TribunnewsDepok.com, Minggu (10/10) lalu.

Nisar menyebut, dalam seminggu, budget yang dikeluarkan hanya untuk membeli pakan unggasnya itu sebesar Rp3,3 juta, dengan jenis yang bagus. Sementara, kualitas dan kuantitas dari pakanan ayam tersebut tidak bisa dikurangi.

“Satu ayam itu membutuhkan 1 ons. Jika kurang dari itu, bisa mempengaruhi kondisi tubuhnya seperti kurus sehingga menyebabkan susah bertelur. Begitupun kalaupun diberi pakan dengan kualitas di bawah itu, bisa stress dan gak mau makan,” ujarnya.

Peternak yang sudah merintis usaha dari 1983 itu mengaku, tak tahu mengapa harga telur ayam bisa anjlok sedemikian rupa.

Biasanya, merosotnya paling lama sekitar 2-3 bulan saja, lalu stabil kembali.

Baca juga: Rasa Dewa, Oleh-oleh Olahan Belimbing Khas Depok

“Sejak ada Covid-19, harga telur lama-lama anjlok. Dari lebaran tahun ini lah harga terus anjlok ampe sekarang,” ucapnya.

Dengan kondisi seperti itu Nisar hanya bisa pasrah, dan berharap kondisi komoditas tersebut bisa kembali stabil di angka Rp20.000 per kg. 

Meski harga telur murah, justru permintaan telur berkurang, biasanya satu peti telur bisa langsung habis terjual dalam sehari.

“Saya pasrah aja. Semenjak harga telur anjlok,  satu peti aja kadang nggak ada yang ngambil bahkan saya bisa simpan stok sampai 10 peti. Tapi kalau harga telur lagi mahal ayam belum nelur aja udah banyak yang pesen,” ungkapnya. (dip)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved