Sabtu, 2 Mei 2026

Perang Amerika Israel vs Iran

Ali Khamenei Gugur, Iran Bersumpah Balas Dendam, Selat Hormuz Terancam Ditutup

Ali Khamenei Gugur, Iran Bersumpah Balas Dendam, Selat Hormuz Terancam Ditutup

Tayang:
Editor: Hironimus Rama
Tribunnews.com
WAFAT - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatolla Ali Khamenei, gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) 

Jalur sempit ini dilalui kapal tanker dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, hingga Qatar menuju Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati selat tersebut setiap harinya, menjadikannya salah satu titik paling sensitif dalam perdagangan energi global.

Secara geografis, Iran berada di sisi utara Selat Hormuz dan menguasai sejumlah titik akses penting yang memungkinkan negara itu memantau sekaligus mengendalikan lalu lintas kapal.

Posisi ini selama bertahun-tahun menjadi kartu strategis Teheran dalam menghadapi tekanan militer maupun ekonomi dari Barat.

Dampak Terhadap Ekonomi Dunia

Peringatan terbaru dari Garda Revolusi Iran muncul tidak lama setelah meningkatnya eskalasi militer akibat serangan rudal yang ditujukan ke target-target Iran.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada serangan langsung, melainkan berpotensi meluas ke perang ekonomi melalui gangguan distribusi energi global.

Penutupan atau bahkan pembatasan Selat Hormuz memiliki konsekuensi yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah.

Pasar minyak global sangat sensitif terhadap gangguan di jalur ini. Sedikit saja ketidakpastian biasanya langsung mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia karena pelaku pasar memperkirakan terjadinya kelangkaan pasokan.

Jika penutupan berlangsung dalam waktu lama, harga minyak berpotensi melonjak tajam akibat terganggunya distribusi jutaan barel minyak per hari.

Negara-negara importir energi besar seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India akan menjadi pihak paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap minyak Timur Tengah.

Dampaknya dapat merambat pada kenaikan harga bahan bakar, inflasi global, serta meningkatnya biaya logistik dan produksi industri.

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, gejolak harga energi berisiko memicu tekanan ekonomi domestik. Kenaikan harga minyak dunia biasanya diikuti peningkatan subsidi energi, pelemahan nilai tukar akibat tekanan impor, serta potensi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Selain dampak ekonomi, penutupan Selat Hormuz juga meningkatkan risiko militer. Jalur tersebut selama ini dijaga armada laut Amerika Serikat dan sekutunya untuk memastikan kebebasan navigasi internasional.

Pembatasan akses berpotensi memicu konfrontasi langsung di laut, yang dapat memperluas konflik menjadi krisis regional bahkan global.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved