Minggu, 19 April 2026

Kebakaran Pasar Induk Kramat Jati

Hangus Dilalap Api, Pedagang Ikin Hanya Tinggalkan Baju yang Melekat di Badan

Hangus Dilalap Api, Pedagang Ikin Hanya Tinggalkan Baju yang Melekat di Badan. Kisah korban kebakaran Pasar Induk Kramat Jati, Senin (15/12/2025)

Editor: Hironimus Rama
Warta Kota
KORBAN KEBAKARAN: Ikin (berbaju biru), pedagang pepaya di Pasar Induk Kramat Jati, duduk di antara puing kiosnya yang hangus terbakar, Senin (15/12/2025). (Foto: Wartakotalive.com/Yolanda Putri Dewanti) 

Laporan: Yolanda Putri Dewanti | Jurnalis Wartakotalive.com

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Suara kaca pecah dan teriakan "kebakaran!" menjadi dentuman pertama yang mengoyak pagi Ikin.

Tak sampai lima menit, semua yang dimiliki pedagang buah 40 tahun itu—pepaya segar, ponsel, dompet, hingga KTP—menghilang ditelan si jago merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pagi ini, Senin (15/12/2025).

“Cuma ada galon, saya lempar. Tapi api sudah besar,” ucap Ikin di Kramat Jati, Senin (15/12/2025).

Baca juga: Puslabfor Polri Turun Tangan Selidiki Penyebab Hangusnya 350 Kios di Pasar Induk Kramat Jati

Dengan tatapan wajah yang kosong, Ikin memandang puing lapaknya yang menghitam. Baju biru lusuh yang melekat di tubuhnya kini menjadi satu-satunya harta yang tersisa.

Kisah paginya berawal tenang. Ikin, asal Cianjur, baru saja turun dari truk dengan setorannya: tumpukan pepaya segar yang masih basah oleh embun subuh.

Ia bahkan belum sempat menata buah-buah itu di rak kayunya. Tiba-tiba, bau gosong dan lidah api muncul dari kios sebelah.

Kepanikan pun menyebar cepat. Kevin, saksi mata di lokasi, menggambarkan suasana itu: “Pas teriakan kebakaran, semua fokus ke titik api. Pedagang panik, asapnya ngebul banget.”

Ikin mencoba melawan dengan segenap tenaga. Galon air minumnya ia lemparkan ke arah kobaran, tapi sia-sia.

Api menjalar cepat, melahap kios pepayanya, lalu merambat ke lapak lain. Ia pun lari menyelamatkan diri, tanpa sempat menyelamatkan apa pun.

“Dompet ada uang jualan kemarin, KTP, hp… semuanya habis,” ujarnya lirih.

Bagi Ikin, yang menghilang bukan sekadar barang dagangan. Itu adalah nafkah hari ini, uang kiriman untuk keluarga di kampung, dan seluruh modal hidup yang ia kumpulkan bertahun-tahun.

Saat tim pemadam kebakaran tiba—dengan 16 unit kendaraan dan 80 personel menurut Kasie Ops Abdul Wahid—api sudah menggila. Ikin hanya bisa duduk lemas di tepian, menyaksikan asap hitam mengepul tinggi.

Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, tampak Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Alfian Nurrizal dan Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan memantau langsung lokasi.

Kini, di balik wajah pasrahnya, Ikin hanya menyimpan satu harapan sederhana: bisa kembali ke pasar, membangun lagi dari nol. “Ini rezeki, mungkin harus diuji dulu,” katanya, sembari menatap langit.

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved