Kuliner Jakarta
Roti Lauw dan Omon: Kisah Ketekunan yang Menghangatkan Pagi Jakarta
Roti Lauw dan Omon: Kisah Ketekunan yang Menghangatkan Pagi Jakarta. Roti Lauw menjadi salah satu kuliner legendaris di Cikini, Jakarta.
Laporan Yolanda Putri Dewanti
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA — Sebelum kemacetan dan kesibukan ibu kota menyergap, ada ritme lain yang sudah lebih dulu berdetak di kawasan Cikini-Gondangdia.
Ritme itu dibunyikan oleh deretan gerobak putih yang setia menghiasi pinggir jalan, mengeluarkan aroma harum roti panggang.
Inilah pemandangan klasik yang menandai pagi: kehadiran Roti Lauw.
Baca juga: Gudeg Jogja Bu Tinah, Kuliner Legendaris di Stasiun Gondangdia sejak 1986an, Harga Mulai Rp 20.000
Di antara penjaja setia itu, sosok Omon (50) sudah menjadi ikon yang tak terpisahkan dari lanskap tersebut.
Sudah lebih dari 20 tahun, pria ini mendorong gerobaknya yang cat putihnya mulai pudar, menyusuri lorong-lorong permukiman dengan ketekunan yang tak pernah luntur.
“Panas kepanasan, hujan kehujanan sudah biasa,” ucap Omon dengan senyumnya yang hangat, saat ditemui Jumat (5/12/2025).
Di balik kesederhanaan gerobaknya, roti-roti itulah yang telah menjadi tumpuan hidupnya—menghidupi dan membesarkan ketiga anaknya yang kini tinggal di Bogor.
Lebih Dari Sekadar Roti Isi
Roti Lauw mungkin tampak sederhana:sepotong roti dengan isian klasik seperti abon, cokelat, keju, atau kacang hijau, dijual mulai Rp9.000.
Namun, bagi Omon dan pelanggan setianya, roti ini menyimpan nilai yang lebih dalam.
“Kalau terjual separuh saja sudah alhamdulillah. Yang penting bisa bawa pulang buat makan keluarga,” katanya dengan sikap bersyukur.
Dalam sekali jalan, ia membawa sekitar 100 potong roti, mengayuh harapan di setiap hentian.
Bagi Winda (27), seorang perantau dari Padang yang kini berkos di Gondangdia, Roti Lauw pak Omon adalah ritual pagi dan penghubung dengan rasa “rumah” di tengah metropolitan.
“Saya kos di sini,kalau mau berangkat kerja mampir dahulu. Rasanya sudah jadi bagian dari rutinitas,” ujarnya.
| Ludes 200 Kg Daging Sehari, Ini Rahasia Coto Makassar Daeng Ngawing Senen Langganan Jusuf Kalla |
|
|---|
| Warung Arema Senen: Legenda Kuliner Malang Sejak 1981, Mendol dan Rawon Bikin Ketagihan |
|
|---|
| Gudeg Jogja Bu Tinah, Kuliner Legendaris di Stasiun Gondangdia sejak 1986an, Harga Mulai Rp 20.000 |
|
|---|
| Kuliner Hidden Gem di Jakarta, Siomai Wawa Laris Manis Meski Terletak di Gang Sempit |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Roti-Lauw.jpg)