Senin, 1 Juni 2026

Pendidikan

Gabung Program Sekolah Gratis, SMP Gelora Depok Pastikan Kualitas Pendidikan Terjaga

Solusi Anak Tetap Sekolah! SMP Swasta di Depok Ini Buka Kelas Gratis Tanpa Potong Kualitas

Tayang:
Editor: Hironimus Rama
Humas Pemkot Depok
Gedung SMP Gelora. (Foto: Diskominfo Depok) 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, SAWANGAN – Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan yang terjangkau, SMP Gelora memilih mengambil langkah berbeda.

Sekolah swasta yang telah berdiri sejak tahun 1984 tersebut kini resmi menjadi bagian dari Program Rintisan Sekolah Swasta Gratis (RSSG) Kota Depok.

Langkah besar ini diambil bukan sekadar untuk menambah jumlah siswa, melainkan sebagai bentuk kepedulian sosial yang nyata terhadap anak-anak yang terancam putus sekolah karena keterbatasan biaya.

Baca juga: SPMB Depok 2026 Resmi Dibuka! Cek Jadwal Lengkap Pendaftaran TK, SD, dan SMP

Kepala SMP Gelora, Udin Saefullah, mengatakan program RSSG bukan hanya kebijakan pendidikan biasa. Program tersebut menjadi jawaban atas keresahan banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya, tetapi terbentur kondisi ekonomi.

“Sebenarnya berangkat dari keraguan masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya ke SMP Gelora. Di luar sana ada anggapan bahwa Gelora merupakan sekolah yang mahal. Padahal kami ingin menjelaskan bahwa tidak ada yang mahal untuk pendidikan,” ujar Udin dikutip dari berita.depok.go.id, Selasa (26/5/2026).

Komitmen Yayasan Terhadap Hak Pendidikan Anak

Keputusan untuk bergabung dalam program RSSG ini lahir dari keprihatinan pihak yayasan setelah melihat masih adanya anak-anak di sekitar lingkungan sekolah yang kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.

Bagi pihak sekolah, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Terlebih, pendidikan merupakan hak setiap anak sekaligus bagian dari program wajib belajar yang harus dijaga bersama.

“Melihat masih ada anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi menjadi perhatian kami. Akhirnya yayasan membuka ruang bagi warga yang mungkin tidak diterima di sekolah negeri dan memiliki keterbatasan ekonomi agar tetap bisa melanjutkan pendidikan,” katanya.

Semangat untuk membantu masyarakat ini juga mendapat dukungan penuh dari Ketua Yayasan, H Acep. Sosok yang dikenal sebagai tokoh pendidikan di wilayah Grogol tersebut langsung merespons positif ketika Pemerintah Kota Depok membuka program RSSG.

“Pak H Acep melihat banyak warga yang membutuhkan akses pendidikan. Karena itu ketika Pemerintah Kota Depok membuka program RSSG, yayasan langsung merespons dan siap berpartisipasi,” jelas Udin.

Sebagai sekolah pertama yang berdiri di bawah naungan yayasan, SMP Gelora memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan di wilayah tersebut. Sekolah ini bahkan menjadi cikal bakal lahirnya unit-unit pendidikan lain yang kini berkembang.

“Di yayasan kami ada dua SMP, yaitu SMP Islam Gama Al Fatih dan SMP Gelora. SMP Gelora merupakan sekolah pertama yang berdiri pada tahun 1984. Bahkan saya sendiri merupakan alumni SMP Gelora, begitu juga Ketua Yayasan saat ini,” ungkapnya.

Meski dikenal luas sebagai salah satu sekolah swasta ternama di wilayah Grogol, SMP Gelora tidak ragu membuka pintu lebar-lebar bagi siswa dari keluarga kurang mampu melalui program sekolah gratis ini. Antusiasme masyarakat terhadap program RSSG pun terlihat sangat tinggi.

Pada pelaksanaan tahun pertama, SMP Gelora sebenarnya siap menerima hingga 280 siswa. Namun, setelah dilakukan koordinasi bersama Dinas Pendidikan Kota Depok, jumlah penerimaan disesuaikan agar distribusi siswa ke sekolah RSSG lain tetap merata.

“Tahun ini kami diberikan kuota 247 siswa dari Dinas Pendidikan. Awalnya kami siap menerima sekitar 280 siswa. Namun setelah pembahasan bersama Dinas Pendidikan, kuota disesuaikan karena ada sekolah lain yang jumlah siswanya masih sedikit,” terang Udin.

Jumlah tersebut sempat mencapai 252 siswa. Namun beberapa calon peserta didik akhirnya memilih pindah ke sekolah negeri setelah dinyatakan diterima.

“Awalnya ada 252 siswa yang masuk. Tetapi ada beberapa yang kemudian diterima di SMP negeri sehingga jumlah akhirnya menjadi 247 siswa,” katanya.

Bagi SMP Gelora, program RSSG bukan sekadar soal kuota atau jumlah peserta didik. Lebih dari itu, program ini menjadi bentuk kontribusi nyata sekolah swasta dalam membantu pemerintah memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.

“Alasan utama kami sederhana, yaitu melihat masih banyak anak yang ingin sekolah tetapi terkendala biaya. Karena itu yayasan memutuskan membuka kesempatan melalui program RSSG agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan,” tutur Udin.

Jamin Kualitas Mutu dan Kedisiplinan Tetap Nomor Satu

Keikutsertaan SMP Gelora dalam program Sekolah Swasta Gratis (SSG) ini dipastikan tidak membuat pihak sekolah mengendurkan standar pendidikan maupun disiplin siswa.

Kualitas pembelajaran dan pembinaan karakter justru tetap dipertahankan, bahkan terus ditingkatkan.

Udin Saefullah menegaskan, sejak awal sekolah telah mempersiapkan berbagai langkah matang agar status sekolah gratis tidak mengubah mutu pendidikan yang selama ini menjadi ciri khas dan keunggulan SMP Gelora.

Menurutnya, masih ada anggapan keliru di sebagian masyarakat bahwa sekolah gratis berpotensi mengalami penurunan kualitas.

Namun, hal tersebut dipastikan tidak akan terjadi di SMP Gelora. Seluruh sistem pembinaan, aturan sekolah, hingga pengawasan terhadap siswa tetap dijalankan secara konsisten.

“Kualitas tetap kami pertahankan. Tidak ada perubahan sedikit pun. Bahkan cara kami mendidik siswa tetap sama dan terus kami tingkatkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sekolah tetap menerapkan berbagai aturan kedisiplinan ketat yang berlaku bagi seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang maupun status program pendidikan yang diikuti.

Salah satu instrumen penting yang digunakan ialah 'Buku Biru', yaitu buku kontrol yang wajib dimiliki setiap siswa untuk mencatat perkembangan dan kedisiplinan mereka selama bersekolah.

“Buku Biru dimiliki oleh semua siswa. Setiap pelanggaran dicatat, mulai dari keterlambatan, kuku panjang, rambut panjang, hingga ketidakhadiran. Semua terdokumentasi dengan baik sebagai bentuk pengawasan dan pembinaan,” jelas Udin.

Pencatatan tersebut bukan sekadar urusan administrasi, melainkan bagian dari upaya membangun karakter, mental, dan rasa tanggung jawab siswa sejak dini.

Dengan sistem yang terdokumentasi rapi, sekolah dapat memantau perkembangan perilaku peserta didik secara berkelanjutan.

Sinergi Kuat Bersama Orang Tua Siswa

Selain menerapkan disiplin internal yang ketat, SMP Gelora juga aktif melibatkan orang tua dalam proses pembinaan siswa. Sekolah secara rutin menyampaikan laporan perkembangan akademik maupun perilaku peserta didik kepada wali murid secara berkala.

Setiap menjelang pelaksanaan Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS) maupun Penilaian Sumatif Akhir Semester (PSAS), pihak sekolah selalu mengadakan sesi konseling khusus dan evaluasi yang melibatkan orang tua siswa.

“Kami selalu melakukan konseling dan menyampaikan perkembangan siswa kepada orang tua, baik setiap satu bulan maupun tiga bulan. Jadi orang tua mengetahui bagaimana perkembangan anaknya di sekolah,” katanya.

Langkah tersebut dinilai sangat penting untuk menciptakan sinergi dan keselarasan antara lingkungan sekolah dan keluarga dalam mendukung keberhasilan pendidikan anak. Dengan komunikasi yang intensif, berbagai persoalan yang muncul dapat segera ditangani secara bersama-sama.

Udin kembali menekankan bahwa pembiayaan pendidikan yang kini ditanggung oleh pemerintah melalui program SSG tidak berarti aturan sekolah menjadi lebih longgar atau fleksibel.

Seluruh tata tertib lama tetap berlaku dan wajib dipatuhi oleh seluruh siswa tanpa terkecuali.

“Walaupun sekolah gratis dan pembiayaannya dibantu pemerintah, aturan tetap aturan. Tidak ada yang dihilangkan. Semua rambu-rambu yang selama ini menjadi standar sekolah tetap diterapkan,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah meyakinkan sebagian pihak yang masih meragukan kemampuan sekolah swasta gratis dalam menjaga mutu pendidikan.

Namun, berdasarkan pengalaman nyata selama menjalankan program ini, kekhawatiran tersebut sama sekali tidak terbukti.

“Banyak yang beranggapan pasti ada perubahan ketika sekolah menjadi gratis. Tapi kenyataannya tidak ada perubahan sama sekali. Karena menjaga kualitas adalah bagian dari komitmen kami sebagai lembaga pendidikan,” terangnya lagi.

Bagi SMP Gelora, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari pencapaian prestasi akademik semata, tetapi juga dari pembentukan karakter yang kuat, kedisiplinan yang tinggi, serta keterlibatan aktif orang tua dalam proses tumbuh kembang anak di sekolah.

Oleh karena itu, seluruh sistem yang selama ini berjalan dengan baik akan tetap dipertahankan seutuhnya. Pihak sekolah juga terus berkomitmen meningkatkan berbagai aspek layanan pendidikan agar seluruh peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang jauh lebih baik dari waktu ke waktu.

“InsyaAllah kami tidak khawatir kualitas menurun. Justru kualitas itu yang harus terus kami jaga dan tingkatkan demi masa depan anak-anak,” pungkas Udin.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved