Kabupaten Bogor
Awas Marak Beras Oplosan di Pasaran, Pakar IPB Ungkap Ciri-cirinya
Prof. Tajuddin Bantacut, mengatakan ada sejumlah ciri beras oplosan yang bisa dikenali secara kasat mata.
Penulis: Hironimus Rama | Editor: murtopo
"Beras juga bisa mengalami kerusakan secara alami, terutama jika disimpan terlalu lama," imbuh Prof. Tajjudin.
Menurutnya, meski beras sudah disimpan di tempat yang terkendali, kualitasnya tetap bisa menurun akibat faktor lingkungan, hama, atau mikroorganisme.
“Beras yang rusak bisa dipoles ulang. Namun, jika kerusakannya sudah parah, baik secara fisik, kimiawi, maupun mikrobiologis, maka tidak layak untuk dikonsumsi. Apalagi jika mengandung bahan kimia atau pengawet, bisa berbahaya untuk kesehatan, “ jelas Prof. Tajjudin.
Ia mengungkapka ada tiga jenis beras oplosan yang sering beredar di masyarakat.
Pertama, beras campuran yang dicampur dengan bahan lain seperti jagung. Jenis ini secara umum ditemukan di beberapa daerah.
Kedua, beras 'blended atau campuran beberapa jenis beras untuk memperbaiki rasa dan tekstur.
Ketiga, beras yang dicampur dengan bahan tidak lazim atau sudah rusak, kemudian dikilapkan atau dipoles ulang agar tampak bagus kembali, padahal mutunya sudah menurun.
Prof. Tajuddin mengajak masyarakat agar lebih cermat saat membeli beras dan waspada terhadap penipuan kualitas.
Selain itu, perlu edukasi yang lebih luas agar masyarakat memahami dampak kesehatan dari mengonsumsi beras yang sudah rusak atau tercemar.
“Jika dikelola dengan baik, sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada distribusi dan konsumsi beras secara merata dan aman,” tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Warga-Kabupaten-Bogor-mengantri-pembelian-beras-murah-di-Pasar-Cibinong-3.jpg)