Senin, 4 Mei 2026

Penelitian UI

Pertama di Dunia, Mahasiswa FKUI Identifikasi Gen Penentu Respons Pengobatan Kanker Nasofaring

Kali Pertama di Dunia, Mahasiswa Doktor FKUI Handoko, dr. B.Med.Sci Identifikasi Gen Penentu Respons Pengobatan Kanker Nasofaring

Tayang:
Editor: dodi hasanuddin
Humas dan KIP UI
Pertama di Dunia, Mahasiswa FKUI Identifikasi Gen Penentu Respons Pengobatan Kanker Nasofaring 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Dokter spesialis onkologi radioterapi, dr. Handoko, B.Med.Sci., Sp.OnkRad(K), berhasil meraih gelar doktor dalam Program Doktor Ilmu Biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) setelah meneliti tentang identifikasi gen yang mempengaruhi respons pengobatan kanker nasofaring. 

Disertasinya yang berjudul “Nasopharyngeal Cancer Whole Genome Sequencing: Identification of Clinically Meaningful Genes” dipresentasikan dalam Sidang Promosi Doktor di Auditorium IMERI FKUI, Kampus Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2024).

Baca juga: UI Kolaborasi dengan University of Toronto untuk Tingkatkan Riset Inovatif Lingkungan Hidup

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah klinis pada pasien kanker nasofaring, di mana 25 persen pasien
tidak menunjukkan respons signifikan terhadap pengobatan.

“Meski pasien dengan kondisi serupa menerima kemoterapi yang sama, hasil yang diperoleh sangat bervariasi. Beberapa pasien tidak memiliki tingkat penyembuhan yang lebih baik. Hal ini tentunya memunculkan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi respons berbeda, meskipun pengobatan yang diberikan sama,” ujarnya.

Teknik Whole Genome Sequencing

Untuk menjawab pertanyaan ini, dr. Handoko menganalisis tujuh sampel pasien kanker nasofaring
dengan menggunakan fresh tissue biopsy, yang kemudian diekstraksi DNA-nya.

Melalui teknik Whole Genome Sequencing dan analisis data, ia mencari mutasi genetik yang berpotensi menjadi penyebab variasi respons pengobatan.

Baca juga: 6 Srikandi UI Masuk Kepemimpinan Konsil dan Kolegium Kesehatan Indonesia, Dilantik Menkes

Temuannya mengungkapkan mutasi pada gen-gen penekan tumor dan onkogen yang diperkirakan sebagai pemicu perkembangan kanker nasofaring, serta gen yang terlibat dalam perbaikan DNA yang rusak.

Dalam analisis jalur metilasi pada genom pasien, tidak ditemukan adanya jalur spesifik terkait
agresivitas kanker.

Hal ini menunjukkan bahwa profil metilasi pada pasien kanker nasofaring lebih konservatif atau tidak memainkan peran penting dalam agresivitas penyakit ini.

Meski demikian, mutasi penggerak yang diidentifikasi memerlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hubungan kausal antara mutasi tersebut dan kanker nasofaring.

Hal ini berpotensi membuka peluang pengembangan terapi baru yang lebih personal dan efektif bagi kelompok pasien dengan profil genomik tertentu.

Baca juga: Kronologi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Raih Gelar Doktor di SKSG UI, Depankan Prinsip Kehati-hatian

Penelitian ini juga menggunakan teknologi mutakhir Whole Genome Sequencing dengan platform long-read Nanopore, suatu terobosan yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam konteks penelitian kanker nasofaring.

Prof. Dr. dr. Soehartati A. Gondhowiardjo, Sp. Rad (K), OnkRad, selaku dosen pembimbing menegaskan, “dr. Handoko merupakan peneliti pertama di Indonesia bahkan di dunia yang menggunakan teknologi Whole Genome Sequencing dengan platform long-read Nanopore.

"Meski di tingkat global telah ada penelitian tentang teknologi Whole Genome Sequencing, namun mereka tidak menggunakan platform long-read Nanopore," ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved