Senin, 20 April 2026

Kriminalitas

Pelajar Jadi Sasaran Kejahatan, Pengamat Sebut Pentingnya Pengenalan Jati Diri Anak

Ubaid menilai jika pihak sekolah perlu melakukan penguatan sosial pada anak agar siswa memiliki motivasi yang kuat, semangat

Dok: Istimewa
Ilustrasi tindakan kriminal 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PALMERAH - Kasus kriminal mulai merambah hingga ke sejumlah pelajar di sekolah, baik mereka yang berada di tingkat SD, SMP, maupun SMA.

Bahkan, para pelaku kejahatan tersebut sudah berani mendatangi sekolah-sekolah target dengan berbagai motif, demi mengelabui korbannya.

Pada Kamis (25/7/2024) lalu, seorang siswi SMP berinisial S dijarah harta bendanya, usai pelaku menyampaikan alibi bahwa ibu korban mengalami kecelakaan.

Terbaru, dua orang siswa SMK berinisial I dan L mengalami pencurian handphone usai seorang pria diduga ojek online, mengajaknya berkeliling area sekolah dengan iming-iming uang sebesar Rp 25.000.

Menanggapi hal tersebut, pengamat pendidikan sekaligus Ketua Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), menyebut jika kriminalitas yang melibatkan pelajar, dapat dilihat dalam dua sisi.

Baca juga: Fakta Terbaru Diungkap Rien Wartia Trigina Soal Andre Taulany, Ini Curhatannya Tentang Perceraian

Pertama, pelajar tersebut berperan sebagai korban, sebagaimana siswi SMP 101 itu.

Kedua, pelajar tersebut dapat berperan sebagai pelaku lewat pergaulan-pergaulan yang dilakoninya atau serapan informasi yang didapatkannya.

"Jadi sebenarnya pelajar ini, biar jangan sampai dia terombang ambing, artinya dalam pengertian tadi yang diceritakan (soal kasus penculikan SMP 101), jadi dia sebagai korban," kata Ubaid saat dihubungi, Rabu (7/8/2024).

"Tapi di tempat lain, dia bisa jadi pelaku kriminal, bahkan pelaku terorisme, seperti di Malang. Jadi, pelajar ini adalah usia-usia yang sangat labil. Dia tidak cukup pengetahuan tentang apapun yang ada dalam sekitar dia dan juga dirinya," imbuhnya.

Baca juga: Jalur Kereta Semarang Miliki Pemandangan Laut yang Jadi Daya Tarik Para Pelancong

Menurutnya, siswa kadangkala tidak mengetahui siapa dirinya, bagaimana ia harus bertindak, bahkan mereka tidak mengetahui mana yang baik dan yang buruk.

Pasalnya, lanjut dia, usia pelajar adalah usia di mana mereka berjalan untuk menemukan jati dirinya, menemukan hal-hal yang disukainya.

"Nah dalam konteks itu, itulah pentingnya pendidikan atau pendidikan di sekolah sehingga dia tahu sebagai anak usia sekolah, dia itu siapa, dia itu siapa, dia itu harus bagaimana," kata Ubaid.

"Literasi tentang itu yang sebenarnya tidak banyak diajarkan di sekolah, sehingga dia tidak tahu tentang siapa dirinya dan bagaimana dia harus melakukan apa," lanjutnya.

Baca juga: Marshel Widianto Yakin Bisa Jadi Wakil Wali Kota Tangsel, Modalnya Bisa Bercanda

Sehingga menurut Ubaid, kemampuan soft skill yang matang perlu diajarkan oleh pihak sekolah.

Sayangnya, lanjut dia, banyak sekolah di Indonesia yang tidak konsen mengajarkan hal tersebut. 

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved