Berita UI

Gen Z Bakal Jadi Beban di Masa Depan, Ini Penyebab dan Solusi yang Ditawarkan Guru Besar FEB UI

Gen Z Bakal Jadi Beban di Masa Depan, Ini Penyebab dan Solusi yang Ditawarkan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI.

Editor: dodi hasanuddin
Humas dan KIP UI
Gen Z Bakal Jadi Beban di Masa Depan, Ini Penyebab dan Solusi yang Ditawarkan Guru Besar FEB UI 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Disebut generasi Z atau kerap disapa Gen Z berada di usia 15 - 24 tahun.

Mereka mengalami pertumbuhan yang signifikan. Namun, saat ini ada fenomena yang terjadi terkait Gen Z.

Fenomena itu berupa tingginya tingkat pengangguran

Hal ini terjadi lantaran adanya ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan permintaan tenaga kerja.

Akibatnya, kompetensi lulusan tidak sejalan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini.

Baca juga: Warga Desa Cisarua Purwakarta Antusias Hadiri Baksos Pengmas UI, Ini Harapan Tokoh Masyarakat

Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Prof. Omas Bulan Samosir, Ph.D., tingginya tingkat pengangguran di kalangan Gen Z lantaran dinamika pasar tenaga kerja berkembang lebih cepat dibandingkan dengan dinamika kapasitas input tenaga kerja.

Lembaga pendidikan selayaknya memberi bekal pengetahuan bagi angkatan kerja, namun ternyata mereka seringkali tertinggal dalam merespons kebutuhan pasar.

Kurikulum yang dirancang boleh jadi tidak selalu diperbarui sesuai dengan perkembangan di dunia industri.

“Pengangguran itu berarti tidak atau berhenti berproduksi. Angkatan kerja yang menganggur saat ini, akan menjadi beban apabila terjadi pengangguran dalam skala besar ke depannya," tutur Prof. Omas.

Baca juga: Pendaftaran Jadi Rektor UI Sudah Dibuka, Ini Tahapan, Syarat Utama dan Link Pendaftaran

Bakal Jadi Sumbatan Pencapaian Pembangunan

Kondisi itu, lanjutnya mengakibatkan, Indonesia Emas akan berisiko tidak tercapai jika terdapat satu generasi yang menjadi sumbat pencapaian pembangunan.

Sementara itu, angkatan kerja tersebut diharapkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi untuk mencapai Indonesia Emas.

Prof. Omas, dalam menangani permasalahan ini, pihak-pihak yang terlibat dapat berkolaborasi dan bersinergi,
diantaranya adalah institusi pendidikan dan pelatihan vokasional, tenaga kerja, dan pemerintah.

Etos kerja juga harus dibangun untuk memastikan tenaga kerja siap menghadapi dinamika pasar kerja.

Baca juga: Konferensi Ilmiah UI Tegaskan Kesehatan Jiwa Jadi Pondasi Kualitas Hidup Bangsa

Selain itu, institusi pendidikan perlu terus memperbarui kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan
industri.

Seorang tenaga kerja harus proaktif dalam meningkatkan keterampilan.

Di sisi lain, pemerintah harus berperan dalam mengembangkan kebijakan yang mendukung dunia pendidikan, misalnya memperbaharui kurikulum.

Kendati begitu, Prof. Omas berpendapat bahwa pendidikan formal saja tidak cukup.

Sertifikasi vokasional dan pelatihan tambahan sangat diperlukan untuk melengkapi kompetensi lulusan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menyadari pentingnya hal ini dengan
mengakui sertifikat vokasional sebagai bagian dari human capital yang dimiliki oleh pencari kerja.

“Semakin banyak sertifikat yang dimiliki seorang pelamar kerja, semakin baik peluang mereka untuk
memenuhi kebutuhan pasar kerja yang terus berubah," ujar Omas.

Seharusnya Industri Kerja Sama dengan SMK

Ia menambahkan, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah bentuk formal dari pendidikan vokasi.

Dunia pendidikan masih membutuhkan keahlian vokasional melalui sekolah kejuruan dan tetap
relevan untuk menghasilkan angkatan kerja yang kompeten dalam industri.

Baca juga: THE Digital Universities Asia 2024 Digagas UI, Agustin: Tantangan Terbesar Adalah Wilayah Terpencil

Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperluas koneksi langsung antara SMK dengan dunia industri sehingga dapat terlibat dalam membangun kurikulum SMK secara berkala.

Seharusnya industri dapat langsung bekerja sama dengan sekolah kejuruan dalam membuat atau
sebagai manufaktur spare part dari industrinya.

Sebagai contoh, industri sepeda BMW di Jerman, manufaktur spare part dari sepeda BMW diserahkan kepada sekolah kejuruan dengan cara melatih sekolah kejuruan untuk membuatnya dan harga yang ditawarkan adalah harga pasar.

"Siswa sekolah kejuruan langsung mendapat gaji ketika membuatnya. Namun, Indonesia belum melaksanakan hal dan kerja sama seperti ini, dan dunia pendidikan vokasi kita masih jauh dan sangat jauh dari dunia manufaktur/industri,” ujar Prof. Omas.

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved