Sabtu, 25 April 2026

Prakiraan Cuaca

Masuk Periode Pancaroba, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Puting Beliung

BMKG memprediksi periode pancaroba diperkirakan bakal terjadi pada bulan Maret hingga April 2024.

|
Editor: murtopo
TribunnewsDepok.com/Dodi Hasanuddin
Ilustrasi -- Memasuki periode pancaroba Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memberikan peringatan dini kepada warga untuk waspada potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, angin puting beliung hingga hujan es. 

TRIBNNEWSDEPOK.COM -- Memasuki periode pancaroba Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memberikan peringatan dini kepada warga untuk waspada potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, angin puting beliung hingga hujan es.

BMKG memprediksi periode pancaroba diperkirakan bakal terjadi pada bulan Maret hingga April 2024.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam siaran persnya menyebutkan bahwa berdasarkan analisa dinamika atmosfer yang dilakukan BMKG didapati bahwa saat ini puncak musim hujan telah terlewati di berbagai wilayah Indonesia, khususnya bagian Selatan Indonesia.

Hal ini, kata dia, mengindikasikan bahwa wilayah tersebut akan mulai memasuki peralihan musim di bulan Maret hingga April.

Diterangkan Dwikorita, salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari.

Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Buruk Hingga Potensi Angin Kencang Periode 22-25 Februari 2024

Hal ini terjadi karena radiasi matahari yang diterima pada pagi hingga siang hari cukup besar dan memicu proses konveksi (pengangkatan massa udara) dari permukaan bumi ke atmosfer sehingga memicu terbentuknya awan.

Karakteristik hujan pada periode ini, lanjut Dwikorita, cenderung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat.

Apabila kondisi atmosfer menjadi labil/tidak stabil maka potensi pembentukan awan konvektif seperti awan Cumulonimbus (CB) akan meningkatkan.

"Awan CB inilah yang erat kaitannya dengan potensi kilat/petir, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es. Bentuknya seperti bunga kol, warnanya ke abu-abuan dengan tepian yang jelas," paparnya.

"Curah hujan yang lebat menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Karenanya, kepada masyarakat yang tinggal didaerah perbukitan yang rawan longsor, kami juga mengimbau untuk waspada dan berhati-hati," tambah dia.

Baca juga: Peringatan Dini BMKG, Waspada Potensi Hujan Lebat di Wilayah Jabodetabek Hingga Sepekan ke Depan

Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan bahwa berdasarkan monitoring yang dilakukan BMKG, terdapat beberapa fenomena atmosfer yang terpantau masih cukup signifikan dan dapat memicu peningkatan curah hujan yang disertai kilat/angin kencang di wilayah Indonesia. Diantaranya yaitu pertama, aktivitas monsun asia yang masih dominan.

Kedua, aktivitas Madden Jullian Oscillation (MJO) pada kuadran 3 (Samudra Hindia Bagian Timur) yang diprediksi akan memasuki wilayah Pesisir Barat Indonesia pada beberapa pekan kedepan.

Selanjutnya, ketua adanya aktivitas gelombang atmosfer di sekitar Indonesia bagian Selatan, Tengah, dan Timur.

Keempat, terbentuknya pola belokan dan pertemuan angin yang memanjang di Indonesia Bagian Tengah dan Selatan.

Baca juga: Getaran Gempa M5,7 Banten Terasa Hingga ke Depok, Damkar Depok: Nihil Kerusakan

"Seluruh fenomena atmosfer tersebut berkontribusi terhadap terjadinya fenomena cuaca ekstrem di berbagai wilayah di Indonesia," imbuhnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved