Jumat, 12 Juni 2026

Tuna Wisma Penghuni Kolong Jembatan KBT Pengidap Sakit Kronis Akhirnya Dievakuasi Dinsos

Acap kali bagian mulut serta dadanya kerap membusung serupa berupaya menghirup oksigen

Tayang:
Penulis: Rendy Rutama | Editor: Vini Rizki Amelia
Warta Kota/Rendy Rutama
Aris bersama kedua anaknya tengah berada di dalam mobil ambulans untuk ke RS Duren Sawit, Rabu (21/2/2024). 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DUREN SAWIT - Malang nasib seorang ayah, Aris (43) yang merupakan pengidap penyakit kronis dievakuasi petugas Suku Dinas Sosial (Sudinsos) Jakarta Timur.

Pasalnya, nasib seorang tuna wisma yang memiliki satu putra dan satu putri itu baru saja diketahui usai selama satu bulan tinggal di kolong jembatan Kanal Banjir Timur (KBT) kelurahan Pondok Kopi, kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

“Kami tadi dapat laporan dari masyarakat ada orang terlantar dan dua anaknya usia 10 tahun dan 15 tahun. Kami dikirim foto-fotonya dan berkoordinasi dengan polisi, pol pp, dan kebetulan PJLP alias P3S kami. Kami langsung menuju ke kolong jembatan ini,” kata Kasatpel Dinsos Duren Sawit El Bahruroji, Rabu (21/2/2024).

Pantauan di lokasi, sembari duduk dengan beralaskan spanduk bekas, Aris nampak mendengarkan beberapa arahan yang disampaikan para petugas perihal tindakan evakuasi.

nasib seorang tuna wisma yang memiliki satu putra dan satu putri itu baru saja diketahui usai selama satu bulan tinggal di kolong jembatan Kanal Banjir Timur (KBT) kelurahan Pondok Kopi, kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.
nasib seorang tuna wisma yang memiliki satu putra dan satu putri itu baru saja diketahui usai selama satu bulan tinggal di kolong jembatan Kanal Banjir Timur (KBT) kelurahan Pondok Kopi, kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. (Warta Kota/Rendy Rutama)

Hanya saja ia tidak dapat berbicara menjawab banyak, sebab kondisinya nampak lesu dan lemas.

Acap kali bagian mulut serta dadanya kerap membusung serupa berupaya menghirup oksigen.

Mengingat spesifik penyakit yang dialaminya menyerang bagian organ paru dan membuat pernapasan menjadi terganggu.

Baca juga: Honor Pengawas TPS Pemilu 2024 di Depok Cair, Jumlahnya Mencapai Rp 5,57 Miliar

“Saya tanya-tanya sebentar juga masih bisa bicara, tapi pelan. Katanya batuk kronis sebulan belakangan ini, mungkin karena kecapekan dan makan tidak teratur. Ada asma juga,” lugasnya.

Ketika petugas berupaya mengajak Aris untuk dievakuasi, kedua anaknya pun nampak menolaknya.

Sebab mereka tidak ingin dipisahkan oleh sang ayah.

Selain itu, kedua anak tersebut nampak bingung perihal upaya seperti apa yang perlu dilakukan jika sang ayah nantinya dibawa ke rumah sakit (RS) dan mereka tidak diperkenankan untuk menunggu di dalamnya.

Baca juga: Polisi Gali Kasus Perundungan di Binus Serpong yang Menyeret Nama Anak Artis, Sudah Terjadi Dua Kali

Sementara sang ibu sudah meninggal dunia terlebih dahulu.

“Tadi kami sempat bicara dengan anak-anaknya yang enggak mau ditinggal bapaknya, tapi kan di rumah sakit tidak boleh,” tuturnya.

Setelah perbincangan mencari solusi yang panjang, akhirnya Bahruroji memutuskan untuk membawa kedua anak yang sudah putus sekolah itu ke RS dengan menumpangi ambulans.

Hanya saja diperkenankan untuk menunggu di luar ruangan.

Baca juga: Pemkot Depok Galakkan Gerakan Penanganan Sampah Produktif Imbas Meluapnya Limbah Sampah Plastik

Kemudian, Bahruroji dan jajaran pun mengarahkan kepada kedua anak tersebut dan Aris untuk tidak kembali tinggal di kolong jembatan lagi.

“Penanganan selanjutnya, kami tadi berkoordinasi dengan AGD. Jadi tadi dilakukan pemeriksaan, dan perlu diperiksa lebih lanjut di RS Duren Sawit,” pungkasnya. (m37)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved