Rabu, 15 April 2026

Penelitian UI

Mahasiswi Cantik FKUI Temukan Cara Mudah Deteksi Kanker Tiroid Berdasarkan Jenis Mutasi Genetik

dr. Agnes Stephanie Harahap mahasiswa program doktor FKUI dapat mendiagnosis kanker tiroid berdasarkan jenis mutasi genetik.

Editor: dodi hasanuddin
Humas dan KIP UI
Mahasiswi Cantik FKUI Temukan Cara Mudah Deteksi Kanker Tiroid Berdasarkan Jenis Mutasi Genetik 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Mahasiswi cantik FKUI temukan cara mudah deteksi kanker Tiroid berdasarkan jenis mutasi genetik.

“Karsinoma tiroid papiler atau KTP, adalah keganasan tersering yang terjadi pada kelenjar tiroid. Pada umumnya, tumor ini menunjukkan prognosis yang baik dan tidak agresif dengan tingkat kelangsungan hidup 10 tahun mencapai 90-95 persen,” kata dr. Agnes Stephanie Harahap, Sp.P.A.,Subsp.q H.L.E. (K), pada sidang terbuka Program Doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Hal itu disampaikannya pada sidang promosi doktor yang berlangsung pada Senin, 26 Juni 2023, di Ruang Auditorium Lt.3, Gedung IMERI, FKUI Salemba.

Baca juga: Jadi No 1 di Indonesia, Tongmyong University asal Korsel Kolaborasi dengan UI Kembangkan Riset

Baca juga: 25 Tahun Reformasi, UI Kaji Keterwakilan Perempuan dalam Perpolitikan Indonesia

Ia mengembangkan suatu model prediksi yang dapat mendiagnosis kanker tiroid berdasarkan jenis
mutasi genetik.

Inovasi yang dikembangkan ini akan dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan dalam praktik sehari-hari karena relatif sederhana dan mudah digunakan, baik oleh dokter klinis yang menangani tumor tiroid maupun dokter spesialis patologi anatomik.

Untuk lebih memudahkan dalam penggunaannya, model prediksi ini telah dibuat dalam bentuk digital berupa aplikasi smartphone bernama BRAF-RAS calculator dan situs web https://www.agnresearch2023.com.

dr. Agnes menjelaskan, pada beberapa subtipe atau varian KTP memiliki prognosis yang lebih
buruk dan bersifat agresif karena sering menyebar atau bermetastasis, memiliki risiko kambuh, dan
resisten terhadap terapi.

Menurutnya, salah satu yang menyebabkan perbedaan perangai tersebut adalah adanya mutasi genetik, atau perubahan urutan basa atau nukleotida yang menyebabkan perubahan rantai DNA pada gen BRAF atau gen RAS.

Akibat mutasi gen ini, perkembangan sel menjadi tidak terkontrol dan bertransformasi dari sel normal menjadi sel tumor ganas atau kanker.

Baca juga: Inilah 7 Inovasi Mahasiswa FIA UI yang Dapat Bantuan Dana Kewirausahawan dari Kemendikbudristek

Baca juga: Mahasiswa UI Ciptakan Alat Bantu Fisioterapi Cidera Kaki Dampak Stroke dan Olahraga, Begini Kerjanya

Adanya perbedaan sifat biologis membuat The Cancer Genome Atlas (TCGA) membagi KTP ke dalam
dua jenis berdasarkan pola mutasi kecenderungan BRAF (BRAF-like) atau RAS (RAS-like).

Pemeriksaan molekuler diperlukan untuk membedakan keduanya. Namun, pemeriksaan ini tidak rutin
dilakukan di Indonesia karena keterbatasan sumber daya.

Hal inilah yang kemudian mendorong minat dr. Agnes melakukan penelitian untuk memprediksi adanya mutasi gen tersebut tanpa harus melakukan pemeriksaan molekuler.

“Beberapa parameter dapat digunakan untuk membedakan kedua jenis KTP ini, namun hingga saat ini
belum pernah diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan menilai beberapa parameter,
meliputi profil klinis, histopatologis dan ekspresi protein phosphorylated extracellular signal-regulated
kinase 1/2 (pERK1/2),” ujar dr. Agnes.

Kedua jenis KTP harus dibedakan karena berpengaruh terhadap tata laksana yang diberikan.

Pada KTP kelompok BRAF-like membutuhkan tata laksana khusus dan tindak lanjut pasien yang lebih ketat.

Baca juga: Kembanglkan Wawasan Secara Global, Vokasi UI Kolaborasi dengan IMI dan SFUVET SWISS

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved