Rabu, 22 April 2026

Idulfitri 1444 Hijriah

Tata Cara Salat Sunnah Idulfitri dan Bacaannya yang Wajib Diketahui

Hukum salat ini adalah sunnah muakkadah (sangat  dianjurkan) sejak disyariatkanya pada tahun kedua hijriah.

Penulis: Umar Widodo | Editor: Umar Widodo
Istimewa
Pelaksanaan salat Idulftri bagi umat muslim adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) sebagai penyempurnaan usai menjalankan ibadah puasa Ramadan sebulan penuh 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idulfitri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jumat.”
(HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, no. 1765)

Diriwayatkan pula dari Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaik di hari Ied. Dan ini adalah sunnah para sahabat yang telah baku.

Aturan berpenampilan menawan di hari ied berlaku bagi pria. Sedangkan bagi wanita, lebih aman baginya untuk tidak menampakkan kecantikannya di hadapan laki-laki lain. Kecantikan wanita hanya spesial untuk suami.

3. Makan sebelum salat Idulfitri

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idulfitri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Iduladha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”
(HR. Ahmad, 5/352. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Di antara hikmah bahwa diperintahkan makan sebelum salat Idulfitri adalah supaya tidak disangka lagi ada tambahan puasa. Juga maksudnya adalah dalam rangka bersegera melakukan perintah Allah Ta’ala.
(lihat penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitab beliau, Fathul Al baari, 2/446).

Hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyatakan dianjurkan makan kurma berjumlah ganjil. beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ .. وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah keluar pada hari Idul Fithri (ke tempat shalat, pent.) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil.”
(HR. Bukhari, no. 953)

Kalau tidak mendapati kurma, boleh makan makanan halal lainnya.

4. Bertakbir di rumah sambil menunggu anggota keluarga lain siap melaksanakan salat

Ketika puasa Ramadan telah sempurna, kita diperintahkan untuk mensyukurinya dengan memperbanyak takbir. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
(QS. Al Baqarah: 185).

Imam Az-Zuhri rahimahullah menyatakan bahwa kaum muslimin ketika itu keluar dari rumah mereka sambil bertakbir hingga imam hadir (untuk salat Ied).

Dari penjelasan ini diambil faidah juga bahwasanya dianjurkan untuk bertakbir semenjak masih di dalam rumah juga.

Namun jika kita lihat dari keumuman ayat Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menunjukkan perintah bertakbir itu dimulai sejak bulan Ramadan sudah berakhir, berarti takbir Idulfitri dimulai dari malam Idulfitri hingga imam datang untuk salat  Ied.

Takbir yang diucapkan sebagaimana dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah, bahwasanya Ibnu Mas’ud bertakbir,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

(artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya).

Kalau lafazh di atas takbir “Allahu Akbar” ditemukan sebanyak dua kali. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah pula disebutkan dengan sanad yang sama dengan penyebutan tiga kali takbir.
(Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 36442)

Artinya di sini, dua atau tiga kali takbir sama-sama boleh.

Syaikhul Islam rahimahullah menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, itu juga diperbolehkan. (lihat Majmu’ Al-Fatawa, 24/220)

Disyari’atkan bertakbir dilakukan oleh setiap orang dengan mengeraskan bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24/220).

 

Sumber: nu.or.id dan bimbinganislam.com

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved