Universitas Indonesia
Panel Surya Gagsan Mahasiswa Universitas Indonesia Butuh Waktu 5 Tahun untuk Bisa Diproduksi Masal
Maudy mengatakan, bahwa masih banyak kemungkinan PARASOL terus dikembangkan untuk menjadi lebih baik lagi dari saat ini.
Penulis: Cahya Nugraha | Editor: murtopo
Laporan wartawan wartakotalive.com, Cahya Nugraha
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DEPOK - Keberhasilan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) yakni Afra Moedya Abadi, Tiffany Liuvinia, dan Yosep Dhimas Sinaga dalam menggagas panel surya roll dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai salah satu komponennya yang mereka beri nama Printable Alternative Solar Roll (PARASOL).
Berkat gagasannya, mereka berhasil memenangkan kompetisi ESG Symposium 2022 'Hacks to Heal Our Planet: ESG Idea Pitching' Regional Competition yang diselenggarakan oleh PT Siam Cement Group (SCG) dengan tiga negara yang mengikutinya yakni Indonesia, Thailand dan Vietnam dan mengalahkan sebanyak 230 peserta lainnya.
Ditemui di fakultasnya FTUI, Yosep Dhimas Sinaga bersama kedua rekannya mengatakan akan terus berupaya meningkatkan PARASOL agar lebih optimal dan maksimal.
"Masih tahap Riset and Development karena namanya masih teknologi baru jadi butuh waktu yang lama minimal satu tahun, apalagi banyak bahan yang memang harus kita pesan dari luar negeri. Jadi minimal satu tahun," ungkap Yosep.
Ketika disinggung akankah PARASOL di produksi secara masal, Yosep tidak menampik hal tersebut.
Sebab itu merupakan keinginan bersama kedua rekannya agar alat ini dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia.
"Memang itu yang saya harapkan agar PARASOL ini tidak hanya sebatas gagasan saja," jelasnya.
"Untuk produksi masal minimal 5 tahun waktu yang dibutuhkan biar alatnya maksimal dan optimal,"sambungnya.
Sementara itu, Afra Moedya Abadi atau yang akrab disapa Maudy mengatakan, bahwa masih banyak kemungkinan PARASOL terus dikembangkan untuk menjadi lebih baik lagi dari saat ini.
"Karena siapa tahu material yang kita pesan itu bisa juga kita kembangkan lagi, sehingga kita bisa kedepankan produk lokal," ungkapnya.
Perlu diketahui bahwa PARASOL memiliki cara kerja yang mirip seperti panel surya silikon pada umumnya, yaitu memanfaatkan sinar matahari.
Ia memiliki bentuk yang praktis dan dapat bekerja pada kondisi minim cahaya matahari.
Baca juga: Panel Surya PARASOL Buatan 3 Mahasiswa Universitas Indonesia Bisa Saingi Panel Surya konvensional
Manufakturnya yang lebih sederhana membuat PARASOL memiliki harga jauh lebih terjangkau dibandingkan panel surya konvensional.
Selain itu, PARASOL merupakan panel surya yang lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah plastik Polyethylene Terephthalate (PET) sebagai salah satu komponennya.
Baca juga: 3 Mahasiswa Universitas Indonesia Kalahkan 230 Tim di Kompetisi ESG Symposium 2022
Tiffany Liuvinia, menjelaskan bahwa limbah plastik PET, adalah yang paling mudah ditemukan serta didaur ulang dengan biaya yang tidak terlalu tinggi.
"Bahwa sampah PET merupakan sumber pencemaran tertinggi dari semua jenis sampah plastik. Maka, potensi untuk dimanfaatkan kembali menjadi lebih besar," ungkapnya.