Universitas Indonesia

3 Mahasiswa Universitas Indonesia Kalahkan 230 Tim di Kompetisi ESG Symposium 2022

Tiffany menjelaskan bahwa tim Universitas Indonesia berhasil mengalahkan 230 tim dari Indonesia sebelum melaju ke tingkat regional. 

Penulis: Cahya Nugraha | Editor: murtopo
TribunnewsDepok.com/Cahaya Nugraha
Yosep Dhimas Sinaga, Tiffany Liuvinia dan Afra Moedya Abadi, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) yang berhasil menggagas panel surya roll dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai salah satu komponennya dan mereka beri nama Printable Alternative Solar Roll (PARASOL)  

Laporan wartawan wartakotalive.com, Cahya Nugraha

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, DEPOK - Panel surya roll dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai salah satu komponennya dengan nama Printable Alternative Solar Roll (PARASOL), berhasil digagas oleh Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) yang duduk di semester 5 yakni, Afra Moedya Abadi, Tiffany Liuvinia, dan Yosep Dhimas Sinaga. 

Gagasan tersebut juga telah berhasil memenangkan kompetisi ESG Symposium 2022 'Hacks to Heal Our Planet: ESG Idea Pitching' Regional Competition yang diselenggarakan oleh PT Siam Cement Group (SCG) dengan tiga negara yang mengikutinya yakni Indonesia, Thailand dan Vietnam. 

"Kita masuk 1 dari dua tim yang mewakili Indonesia sampai pada akhirnya masuk final, di final kami bersaing secara ketat dengan Thailand dan Vietnam," ungkap Tiffany Liuvinia ditemui di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI). 

Tiffany menjelaskan bahwa tim UI berhasil mengalahkan 230 tim dari Indonesia sebelum melaju ke tingkat regional. 

Pada kompetisi ESG 2022 di tingkat regional, Tim UI kembali berjaya setelah mengalahkan lima tim lain dari beberapa negara Asia Tenggara yang mewakili negaranya masing-masing.

Fakta menariknya adalah ketiga mahasiswa tersebut mengikuti kompetisi tanpa sepengetahuan dari pihak Universitas maupun Fakultas. 

"Jujur tidak ada dosen yang kami beritahu karena semua pendaftaran dan lainnya kita coba secara mandiri karena kan itu coba coba aja. Justru dosen kami mengetahui itu dari publikasi yang di terbitkan oleh UI," jelas Tiffany. 

"Setelah menang itulah baru kita mencoba untuk mancari dosen pembimbing untuk pendalaman untuk alat ini," sambungnya. 

Sementara itu, Afra Moedya Abadi atau yang akrab disapa Maudy menuturkan bahwa pesaing terberat dalam kompetisi itu ialah saat berhadapan dengan Vietnam, ITB dan perusahaan Startup. 

"Merasa insecure karena yang mengikuti hampir semuanya adalah senior kita, ada yang dari startup dan lulusan S2. Saingan terberat dari Vietnam dan ITB. Pada akhirnya juga tidak menyangka bisa lolos seperti ini sampai menjuarai," jelas Maudy dengan tersenyum. 

Baca juga: Tiga Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia Buat Inovasi Panel Surya dari Limbah Plastik

Dalam kesempatan itu juga Maudy menuturkan perasaan senangnya, yang ia pun tidak terpikirkan bahwa gagasan PARASOL bisa membawa ia dan temanya bisa sampai sejauh ini. 

"Jujur senang tidak ada yang menyangka karena kami masih 19-20 tahun harus bersaing dengan startup, S2 dan para alumni dari Universitas lain," ungkapnya. 

Fakta lain dalam kompetisi ini ialah ternyata ketiga mahasiswa tersebut mengikuti kompetisi di tengah Ujian Akhir Semester (UAS) yang tengah berlangsung. 

Baca juga: SKSG Universitas Indonesia Gelar Pengmas Ecobrik di Cinangka, Depok, Sampah Plastik Jadi Berguna

"Saat kompetisi berlangsung itu juga kami sedang dihadapkan dengan Ujian Akhir Semester (UAS)," kata Maudy. 

Yosep Dhimas mengatakan, mereka membuat PARASOL dilatarbelakangi beberapa hal, pertama karena Indonesia menjadi penyumbang limbah plastik terbesar di dunia. Kedua, berkaitan dengan krisis energi terutama dengan panel surya silikon yang beredar di Indonesia masih ada kekurangan. 

Baca juga: Universitas Indonesia Jadi yang Terbaik di Indonesia, Rektorat: Berkat Dukungan Semua Pihak

“Dari kedua latar belakang tersebut, akhirnya kami tergerak untuk membuat PARASOL. Inovasi panel surya alternatif ini kami rancang dalam bentuk plastik rol yang praktis, fleksibel, dan semi transparan," ungkap Yosep

Yosep melanjutkan bahwa PARASOL memanfaatkan prinsip perovskite solar cell dengan nilai efisiensi yang mampu bersaing dengan panel surya konvensional. 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved