Penelitian UI

Universitas Indonesia UI Teliti Ekstrak Biji Petai Cina Dapat Cegah Peradangan di Kandung Kemih

ekstrak biji petai cina yang dapat cegah peradangan di kandung kemih. Penelitian itu dilakukan dosen Fakultas Farmasi Universitas Indonesia UI.

Penulis: dodi hasanuddin | Editor: dodi hasanuddin
Dok. Humas dan KIP UI
Universitas Indonesia UI Teliti Ekstrak Biji Petai Cina Dapat Cegah Peradangan di Kandung Kemih 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Universitas Indonesia UI teliti ekstrak biji petai cina yang dapat cegah peradangan di kandung kemih.

“Siklofosfamid merupakan obat kemoterapi yang secara luas digunakan dalam penanganan berbagai jenis kanker, namun dalam penggunaannya terdapat salah satu efek samping berupa sistitis hemoragik pada kandung kemih," kata Dr. apt. Sri Wardatun, M.Farm.,

"Biji petai cina mengandung senyawa sulfidril yang berpotensi digunakan sebagai alternatif untuk mencegah terjadinya sistitis hemoragik melalui induksi produksi dan metabolisme glutation,” tambahnya.

Baca juga: SIL UI Gelar The 3rd JESSD International Symposium, Bahas Tantangan Pembangunan Berkelanjutan

Dr. apt. Sri Wardatun, M.Farm. menyampaikan hal itu dalam latar belakang penelitiannya pada sidang promosi doktor yang diselenggarakan program Doktor Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FF UI). 

Pada pemaparan disertasinya yang berjudul “Analisis 4-Hidroksisiklofosfamid dan Asam 3hidroksipropil merkapturat setelah Pemberian Ekstrak Biji Petai Cina pada Tikus Sistitis Hemoragik Terinduksi Siklofosfamid”, Sri melakukan analisis asam 3-hidroksipropil merkapturat dalam urin dan 4-hidroksisiklofosfamid dalam plasma untuk menilai potensi ekstrak biji petai cina dalam mencegah terjadinya sistitis hemoragik pada tikus terinduksi siklofosfamid. 

“Untuk mencapai tujuan analisis tersebut, dilakukan optimasi pelarut pengekstraksi untuk memperoleh konsentrasi pelarut maksimum yang dapat menghasilkan senyawa sulfidril maksimum dan mimosin minimum. Selanjutnya, dilakukan strandarisasi ekstrak, validasi metode analisis menggunakan KCKUT SM/SM, serta analisis kadar senyawa secara in vivo sehingga diperoleh aktivitas ekstrak biji petai cina,” kata Sri. 

Hasil penelitian yang dilakukan Sri menunjukkan, etanol 70 persen merupakan pelarut yang menghasilkan ekstrak dengan kadar sulfidril tertinggi dan kadar mimosin terendah pada biji petai cina yang telah direndam selama 24 jam.

Ekstrak etanol 70 persen biji petai cina memenuhi standar mutu ekstrak obat tradisional. Metode analisis 3-HPMA dalam urin dan 4-hidroksisiklofosfamid dalam plasma menggunakan KCKUT SM/SM telah tervalidasi sesuai acuan FDA, 2018 dan EMA, 2011 dan dapat diterapkan dalam analisis in vivo.

Pemberian ekstrak etanol 70 % biji petai cina dapat meningkatkan kadar 3-HPMA dalam urin dan tidak mempengaruhi kadar metabolit aktif 4-hidroksisiklofosfamid dalam plasma. 

“Pemberian ekstrak biji petai cina memberikan pengaruh positif pada hasil uji histopatologi kandung kemih dan pada profil hematologi tikus. Ekstrak biji petai cina berpotensi untuk digunakan sebagai alternatif dalam mencegah terjadinya sistitis hemoragik pada penggunaan siklofosfamid,” ujar Sri.

Baca juga: Monolog Negeri Sarung di Universitas Indonesia UI, Rachmat Gobel: Santri Bisa Kontribusi di Industri

Setelah pemaparan materi dan penyampaian argumentasinya, Sri berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Farmasi dengan predikat cumlaude.

Selaku Promotor , Prof. Dr. apt. Yahdiana Harahap, M.S., berharap agar penelitian yang dilakukan oleh Sri dapat dilanjutkan untuk membantu para klinisi dalam mengatasi sistitis hemoragik. 

“Penelitian ini diangkat karena siklofosfamid yang merupakan obat kemoterapi masih banyak efek sampingnya, terutama sistitis hemoragik pada kandung kemih. Pemberian ekstrak biji petai cina memberikan pengaruh positif pada hasil uji hispatologi dan hematologi, sehingga sangat berpotensi untuk digunakan sebagai alternatif dalam mencegah sistitis hemoragik pada penggunaan siklofosfamid. Ibu Sri juga telah mengembangkan metode dua matriks biologi di dalam plasma dan urin yang kemudian divalidasi sesuai guideline internasional, dan itu sangat luar biasa,” kata Prof. Yahdiana. 

Acara promosi doktor yang dilaksanakan secara hybrid ini dipimpin Ketua Sidang, Prof. Dr. apt. Arry Yanuar, M.Si., dengan promotor Prof. Dr. apt. Yahdiana Harahap, M.S., serta Ko-Promotor, Prof. Dr. dr. Noorwati Sutandyo, Sp.PD., KHOM., dan Prof. Dr. apt. Abdul Mun’im, M.Si. Sementara itu, Tim Penguji sidang ini terdiri atas Dr. apt. Berna Elya, M.Si., Prof. Dr. apt. Hayun, M.Si., Prof. Dr. apt. Mochamad Yuwono, M.S., dan Dr. apt. Fadlina Chany Saputri, M.Si.

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved