Minggu, 3 Mei 2026

Mutiara Ramadan

Kisah Sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Peradaban yang Berkembang di Masa Pemerintahannya

Abu Bakar Ash-Shiddiq dan peradaban yang berkembang di masa pemerintahannya. Abu Bakar merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW.

Tayang:
Editor: dodi hasanuddin
Kompas.com/Wikimedia Commons
Kisah Sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Peradaban yang Berkembang di Masa Pemerintahannya 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PANCORAN MAS - Kisah sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan peradaban yang berkembang di masa pemerintahannya.

Bulan suci Ramadan merupakan bulan penuh hikmah dan berkah. Kemudian juga banyak keutamaan di dalamnya.

Mempelajari perjalanan hidup sahabat nabi dapat dilakukan dalam mengisi Ramadan

Mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Baca juga: Doa Awal Ramadan dan Doa Buka Puasa Serta Hukum Segerakan Buka Puasa dari Ustadz Adi Hidayat

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat Nabi yang termasuk dalam golongan orang pertama yang masuk Islam.

Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shidiq. Sebab, dia menjadi orang pertama yang membenarkan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Abu Bakar bukan hanya orang terdekat Rasulullah yang disebut sebagai sahabat yang paling utama, tetapi juga ayah mertua Nabi Muhammad SAW.

Ia diketahui berperan aktif dalam berbagai kegiatan umat Islam, mulai dari ikut berperang, berdakwah, dan mengislamkan orang.

Baca juga: Jaga Kedamaian Selama Bulan Ramadan, Satgas Anti Tawuran Dibentuk di Kecamatan Koja

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Abu Bakar yang menggantikannya sebagai khalifah untuk memimpin umat Islam.

Keturunan Keluarga Kaya

Kehidupan awal Nama asli dari Abu Bakar adalah Abdul Ka'bah. Abu Bakar merupakan keturunan keluarga kaya, Bani Taim dari suku Quraisy, yang lahir di Kota Mekkah pada sekitar tahun 573.

Bapaknya bernama Abu Quhafah Utsman, sedangkan ibunya Salma binti Sakhar.

Sejak kecil, Abu Bakar sering menghabiskan waktunya dengan bermain bersama unta dan kambing.

Hal itu dilakukannya, karena memang sangat menyukai kedua hewan tersebut.

Karena kesukaannya pada unta, ia mendapatkan julukan sebagai Abu Bakar, yang berarti bapak anak unta.

Saat berusia sekitar 10 tahun, ia ikut sang ayah pergi ke Suriah untuk berdagang, yang telah menjadi tumpuan kehidupan ekonomi keluarganya.

Hal itulah yang kemudian membawa Abu Bakar dalam perjalanan bisnis hingga ke Yaman, Suriah, dan beberapa tempat lainnya.

Keberhasilannya dalam berbisnis, membuat Abu Bakar menjadi pedagang kaya dan naik status sosialnya.

Ia kemudian ditunjuk sebagai kepala suku di golongannya.

Abu Bakar merupakan orang yang terpelajar, mampu baca tulis, serta menyukai puisi. Suatu hal yang sangat langka di kalangan Quraisy saat itu.

Bahkan ia sering mengikuti festival tahunan di Ukaz dan ikut berpartisipasi dalam simposium puisi.

Abu Bakar memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa, karenanya sangat paham tentang sejarah dan politik suku-suku Arab.

Masuk Islam

Sebelum Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa ia adalah utusan Allah SWT, Abu Bakar sedang dalam perjalanan bisnis ke Yaman.

Saat dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang peramal yang memprediksi bahwa nabi yang ditunggu-tunggu telah datang.

Begitu Abu Bakar pulang dari Yaman, ia diberi tahu oleh teman-temannya bahwa Muhammad menyatakan dirinya sebagai utusan Allah.

Begitu mendengar ajakan Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar langsung menerimanya dan memeluk Islam tanpa ada rasa ragu sedikit pun.

Hal itu karena Nabi Muhammad SAW terkenal akan kejujurannya, lurus hatinya, dan kejernihan pikirannya.

Sehingga Abu Bakar mempercayainya dengan sepenuh hati. Abu Bakar pun termasuk dalam sepuluh orang pertama yang memeluk Islam setelah Nabi Muhammad SAW.

Setelah itu, Rasulullah memberi nama Abu Bakar, Abdullah, yang artinya hamba Allah.

Sedangkan gelar Abu Bakar adalah Ash-Shiddiq, yang artinya berkata benar, setelah ia membenarkan peristiwa Isra Mi'raj yang diceritakan Nabi kepada para pengikutnya.

Oleh karena itu, ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Baca juga: Kenaikan Harga Sembako Jelang Ramadan Terus Berulang Setiap Tahun, Ini Penjelasan IKAPPI

Kehidupan setelah masuk Islam Setelah resmi menjadi Muslim, Abu Bakar turut serta dalam dakwah menyebarkan Islam dan berhasil mengislamkan Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqas, serta beberapa tokoh penting dalam Islam lainnya.

Selain itu, ia juga membujuk teman-teman dekatnya untuk masuk Islam. Namun, periode awal dakwah Nabi Muhammad SAW memang mengalami banyak tentangan.

Bahkan para budak yang telah memeluk Islam banyak yang disiksa. Mengetahui hal ini, Abu Bakar membebaskan para budak Muslim dengan menebusnya dan membiarkan mereka pergi.

Salah satu budak yang dibebaskan Abu Bakar adalah Bilal bin Rabah, yang kemudian menjadi muadzin pertama umat Islam.

Ketika penyiksaan semakin masif dilakukan oleh para pemuka Quraisy terhadap para pemeluk Islam, Nabi Muhammad SAW menyerukan pengikutnya untuk hijrah ke Yastrib atau Madinah. Nabi Muhammad SAW pun berangkat hijrah ditemani oleh Abu Bakar pada tahun 622.

Begitu sampai di Madinah, Rasulullah langsung memerintahkan untuk mendirikan sebuah masjid. Abu Bakar kemudian membayar sebidang tanah untuk mendirikan masjid, yang kemudian dinamakan Masjid Nabawi.

Di Madinah, Abu Bakar menjabat sebagai kepala penasihat Nabi Muhammad SAW. Hubungan itu semakin erat setelah Nabi menikah dengan putrinya yang bernama Aisyah.

Setelah itu, Abu Bakar tercatat berperan dalam berbagai pertempuran dengan kaum Quraisy, seperti Perang Badar (624), Perang Khandaq (627), dan Perang Uhud (625).

Peradaban yang Berkembang

Dilansir dari Gramedia.com, Abu Bakar Ash-Shiddiq lahir pada tahun 573 M dan wafat pada tahun 634 M.  Nama Abu Bakar berarti pelopor pagi hari karena termasuk laki-laki yang masuk Islam pertama kali.

Sedangkan Ash-Shiddiq diberikan karena beliau sentiasa membenarkan semua ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW terutama pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj.

Abu Bakar Ash-Shiddiq terpilih menjadi khalifah atas usulan kaum Anshar dan Muhajirin yang sama-sama di antara kedua kaum tersebut menginginkan seorang khalifah dari kalangan mereka.

Kemudian usulan tersebut ditolak sehingga disimpulkan bahwa kaum Muhajirin memang lebih berhak untuk mendapatkan kekuasaan dan semua sepakat Umar bin Khattab maju dan membaiat Abu Bakar.

Setelah dibaiat, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyampaikan pidatonya yang berisi “taatlah kalian kepadaku sepanjang aku taat kepada Allah dan Rasulnya di tengah kalian, jika aku bermaksiat maka tidak wajib kalian taat kepadaku”.

Baca juga: Guru Besar UI Temukan 4 Inovasi Pembangunan Infrastruktur Perkotaan, Salah Satunya PRASTI Tunnel

Pasca wafat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah yang pertama yang menjadi kepala negara sekaligus pemimpin agama umat Islam dan berlangsung selama dua tahun.

Masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq banyak menghadapi permasalahan-permasalahan dari dalam negeri di antaranya munculnya nabi palsu, kelompok murtad, dan pembangkang zakat.

Setelah berdiskusi dengan para sahabat yang lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq memutuskan untuk memerangi kelompok tersebut (perang melawan kemurtadan).

Setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq menyelesaikan permasalahan dalam negeri kemudian melakukan ekspansi ke wilayah utara untuk menghadapi pasukan Romawi dan Persia yang mengancam kedudukan umat Islam. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal sebelum misi ekspansi ini selesai.

Beberapa peradaban yang berkembang pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq:

  1. Membudayakan diskusi yang lebih demokratis dalam pemerintahan dan masyarakat.
  2. Menumbuhkan loyalitas umat Islam dan tentara kepada pemerintah yang memberi support atas semua kebijaka- khalifah.
  3. Membudayakan musyawarah dalam menyikapi setiap permasalahan.
  4. Menyusun mushaf Al-Qur’an.
  5. Membangun pemerintahan yang tertib baik di pusat maupun di daerah.
  6. Memperkokoh militer yang disiplin dan tangguh di medan tempur.
  7. Menyejahterakan masyarakat secara adil dengan membangun baitulmalserta memberdayakan zakat, infaq, ghanimah, serta jizyah.
  8. Masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, harta dari baitul mal dibagikan kepada seluruh umat Islam, bahkan    ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal, hanya ditemukan sisa satu dirham dalam perbendaharaan negara. Seluruh umat Islam mendapatkan bagian yang sama dari hasil pendapatan negara. Ciri-ciri perekonomian pada masa Abu Bakar antara lain:
  9. Menerapkan praktik akad perdagangan sesuai dengan prinsip syariah.
    Tidak menjadikan ahli badar sebagai pejabat negara.
  10. Menegakkan hukum dan memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat.
  11. Mengolah rikaz (barang tambang) seperti emas, perak, perunggu, besi menjadi sumber pendapatan negara.
  12. Memperhatikan ketepatan dalam perhitungan zakat.
  13. Menerapkan prinsip persamaan dalam distribusi kekayaan negara.
    Temukan berbagai cerita sahabat nabi dalam buku 54 Kisah Sahabat Nabi Untuk Anak yang ada dibawah ini dengan ilustrasi dan warna yang menarik serta mudah dipahami.

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Biografi Abu Bakar, Sahabat Rasulullah yang Paling Utama", 
Penulis : Lukman Hadi Subroto

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved