Rabu, 10 Juni 2026

Riset Menunjukkan 85,6 persen Anak Muda Indonesia Kurang Sehat Secara Finansial

Berdasarkan hasil riset menunjukkan bahwa kalau literasi keuangan generasi muda atau milenial Indonesia masih sangat rendah. 

Tayang:
Editor: murtopo
Warta Kota/Mochammad Dipa
Associate Director NielsenIQ Inggit Primadevi dalam konferensi pers virtual OCBC NISP Financial Fitness Index, Kamis (19/8/2021). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Mochammad Dipa

TRIBUNNEWSDEPOK.COM - Bank OCBC NISP mempersembahkan OCBC NISP Financial Fitness Index, sebuah riset hasil kerjasama dengan NielsenIQ yang mengambarkan kondisi kesehatan finansial generasi muda Indonesia dengan melihat sikap dan perilaku dalam pengaturan finansial serta bagaimana cara untuk memperbaikinya.

Riset ini dilakukan dengan dua metodologi, yakni studi kualitatif dengan total 15 mini Focus Group Discussion yang dilakukan di Jabodetabek, Surabaya dan Medan yang melibatkan responden di rentang usia 25-45 tahun.

Adapun periode pengumpulan data 6-15 Januari 2021.

Kemudian metode kedua menggunakan studi kuantitatif yang melibatkan 1.027 responden berusia 25-45 tahun dengan periode pengumpulan data 2-26 Maret 2021.

Berdasarkan hasil riset OCBC NISP Financial Fitness Index yang bekerja sama dengan NielsenIQ menunjukkan bahwa kalau literasi keuangan generasi muda atau milenial Indonesia masih sangat rendah. 

Baca juga: Pemeriksaan Dokumen Perjalanan di Sejumlah Stasiun Tidak Dibarengi dengan Verifikasi Identitas Diri

Indeks kesehatan finansial Tanah Air baru 37,72 poin dibandingkan Singapura yang mencapai 61 poin.

 Di samping itu, riset juga menunjukkan 85,6 persen generasi muda Indonesia terlihat kurang sehat secara finansial.

Direktur Bank OCBC NISP Ka Jit mengatakan, akses masyarakat pada produk dan layanankeuangan yang terus meningkat ternyata tidak selalu membawa dampak positif, khususnya di generasi muda jika mereka tidak dibekali dengan pemahaman keuangan yang baik.

Hal ini dibuktikan dari riset yang menunjukkan hanya 14,33 persen responden yang secara sekilas kondisi keuangannya terlihat sudah sehat.

“Generasi muda harus segera melakukan Financial Fitness Check Up sebagai langkah awal untuk memperbaiki kesehatan finansial mereka,” ungkap Ka Jit dalam konferensi pers virtual OCBC NISP Financial Fitness Index, Kamis (19/8/2021).

Baca juga: KPAI Minta Anak yang Kehilangan Orangtua Karena Covid-19 Harus Dapat PIP, KIS, dan PKH Tahun 2022

Pemberitaan media juga menunjukan fenomena ikutan tren investasi saham namun menggunakan uang hasil utang, atau nekat terjun ke cryptocurrency alias mata uang kripto menggunakan uang sekolah atau bahkan tabungan menikah. 

Di tengah booming investasi, Ka Jit menjelaskan baru 3 persen responden yang disurvei mengatakan sudah memiliki produk investasi. Artinya masih banyak yang belum melek investasi.

“Banyak masyarakat Indonesia juga melakukan transaksi investasi, misalnya beli saham atau uang kripto yang belum tentu sejalan dengan perilaku finansial yang sehat. Jadi melakukan investasi misalnya beli saham tapi tujuannya karena hype, dengar teman untung banyak terus ikut-ikutan," ungkapnya.

Sementara, Associate Director NielsenIQ Inggit Primadevi mengatakan, dari total responden sebanyak 46 persen milenial mengaku percaya diri akan kondisi keuangan mereka.

Baca juga: Penemuan Ganja di Depok Kembali Terjadi Kali Ini di Cilangkap, Warga Khawatir Jadi Sarang Narkoba

 Responden milenial tersebut cenderung optimistis bahwa perencanaan finansial mereka mampu memberikan kesuksesan finansial di masa depan. 

"Padahal, sebanyak 84 persen dari jumlah tersebut bahkan tidak melakukan pencatatan pengeluaran dan anggaran mereka. Sedangkan baru 16 persen yang memiliki dana darurat untuk mempertahankan gaya hidup mereka," ujar Inggit dalam kesempatan yang sama. 

Inggit menambahkan, faktor minimnya persentase pencatatan anggaran oleh milenial disebabkan spekulasi yang kurang tepat mengenai arti kaya.

Sebanyak 36,98 persen dari Financial Fitness Index score percaya bahwa definisi kaya bersifat non investasi dan kesenangan semata.

Contohnya seperti kaya karena memakai baju bermerk, rumah atau mobil mewah.

Sementara itu, sebanyak 42,64 persen dari mereka mengacu pada produk bersifat investasi, dan memiliki skor indeks yang lebih tinggi atau lebih sehat.

“Ini yang menyebabkan orientasinya terlalu consumerism, padahal kalau mindset-nya sudah benar, itu menjadi langkah awal memiliki kesehatan finansial,” ujarnya.  (dip)

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved