Berita UI
Doktor FKUI Ungkap Risiko Kerusakan Paru Permanen Imbas Terpapar Asap Kebakaran Hutan
Doktor FKUI Ungkap Risiko Kerusakan Paru Permanen Imbas Terpapar Asap Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Hironimus Rama
Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Doktor Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Uly Astuti Siregar mengungkap bahaya asap kebakaran hutan dan lahan gambut.
Hal itu tertuang dalam disertasi berjudul “Efek Paparan PM2.5 Asap Biomassa Gambut terhadap Kerusakan Paru: Kajian terhadap Stres Oksidatif, Polarisasi Makrofag, dan Deposisi Serat Kolagen”.
Penelitian tersebut mengungkap bahwa paparan jangka panjang PM2.5 dari asap kebakaran hutan dan lahan gambut dapat menyebabkan kerusakan paru permanen melalui proses inflamasi kronis dan fibrosis paru.
Baca juga: Penjualan Obat di Minimarket Kian Masif, Guru Besar UI Soroti Pentingnya Tata Kelola Berbasis Risiko
Kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi saat musim kemarau menjadi penyebab utama kabut asap di berbagai wilayah Indonesia, terutama Sumatera dan Kalimantan.
Sekitar 80-90 persen asap karhutla mengandung partikel halus berukuran ≤2,5 mikrometer (PM2.5) yang dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru.
Meski berbagai penelitian sebelumnya telah membahas dampak PM2.5 dari sisi epidemiologi dan kesehatan kerja, karakteristik kimia PM2.5 yang berasal dari pembakaran lahan gambut masih belum banyak dikaji.
Padahal, komposisinya berbeda dengan polusi yang berasal dari kendaraan bermotor maupun aktivitas industri.
Melalui analisis laboratorium menggunakan SEM-EDS dan GC-MS, dr. Uly menemukan bahwa PM2.5 asap gambut mengandung logam transisi serta senyawa karbon organik kompleks, terutama polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Penelitian eksperimental pada hewan coba menunjukkan bahwa partikel tersebut mampu mencapai alveolus dan memicu perubahan pada makrofag, yaitu sel imun yang berperan dalam pertahanan paru.
Akibatnya, makrofag menghasilkan radikal bebas (reactive oxygen species atau ROS) dalam jumlah berlebihan sehingga memicu stres oksidatif dan peradangan kronis.
Lebih lanjut, kondisi tersebut meningkatkan produksi protein TGF-β1 yang merangsang pembentukan serat kolagen secara berlebihan pada jaringan paru.
“Pengamatan mikroskopis menunjukkan terjadinya penebalan dinding alveolus dan pembentukan jaringan parut (fibrosis) yang menyebabkan paru kehilangan elastisitasnya,” kata Uly, Jumat (12/6/2026).
Menurut Uly, kerusakan akibat paparan kronis PM2.5 tidak hanya menimbulkan gangguan pernapasan sementara, tetapi juga dapat menyebabkan fibrosis paru yang bersifat permanen dan berpotensi menurunkan fungsi pernapasan sepanjang hidup.
Temuan ini mempertegas bahwa PM2.5 dari asap kebakaran lahan gambut merupakan ancaman serius bagi kesehatan paru.
| Lewat Panggung Musik, Mahasiswa Prodi Produksi Media UI Gelar Aksi Sosial di Depok Open Space |
|
|---|
| Penjualan Obat di Minimarket Kian Masif, Guru Besar UI Soroti Pentingnya Tata Kelola Berbasis Risiko |
|
|---|
| UI Tuan Rumah Rakor Humas, Wamendiktisaintek Fauzan Sampaikan Pesan Mendalam |
|
|---|
| Tak Terima Sanksi Promotor Disertasi BL Dibatalkan PTUN, 301 Guru Besar UI Kirim Amicus Curiae ke MA |
|
|---|
| Wakil Rektor UI Ahmad Gamal: Pancasila Fondasi Diplomasi Indonesia dalam Wujudkan Perdamaian Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/Dosen-FKUI-Astuti-Siregar.jpg)