Selasa, 12 Mei 2026

Hantavirus

Waspada! Hantavirus Masuk Indonesia: Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Waspada! Hantavirus Mengintai Depok dan Jakarta: Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Tayang:
Editor: Hironimus Rama
Warta Kota
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati saat ditemui di Gedung DPRD Jakarta, Senin (11/5/2026).(Foto: Yolanda Putri Dewanti) 

Laporan Yolanda Putri Dewanti

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Ancaman kesehatan baru dari hewan pengerat kini tengah menjadi sorotan di wilayah Jabodetabek.

Setelah dunia internasional dihebohkan dengan kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius, warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi kini diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul temuan kasus di dalam negeri.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tercatat sebanyak 23 kasus Hantavirus di Indonesia sejak tahun 2024 hingga pertengahan Mei 2026, dengan tiga orang di antaranya meninggal dunia.

Baca juga: UI - Shanghai Cangyou Jalin Kerja Sama, Kembangkan Industri Kreatif Digital dari Anime hingga Game 

Kondisi Terkini di Jakarta dan Depok

Di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI mencatat adanya empat kasus sepanjang tahun 2026. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa mayoritas pasien telah pulih.

“Di 2026 yang ada di catatan kami sepanjang 2026, sampai sekarang ini ada 4 kasus yang sudah kita temukan, 3 orangnya sudah sembuh, bergejala ringan. Satu orangnya sekarang masih suspek, harus ditetapkan penegakan diagnosisnya melalui laboratorium,” ujar Ani di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (11/05/2026).

Ani menegaskan, temuan kasus di Jakarta tidak berasal dari penularan luar negeri maupun terkait evakuasi kapal pesiar yang ramai diperbincangkan di Inggris.

"Bukan (klaster kapal pesiar). Itu kasus yang kita monitor sepanjang tahun," ujar Ani saat ditemui di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (11/5/2026).

Cara Penularan: Waspadai Urine dan Kotoran Tikus

Berbeda dengan Hantavirus Andes (AND) di Amerika Selatan yang bisa menular antarmanusia, varian Hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejauh ini hanya menular dari hewan ke manusia. 

Penularan biasanya terjadi melalui kontak dengan sisa metabolisme tikus yang terinfeksi.

"Penularannya melalui tikus; air liur, air seni, kotoran tikus yang terkontaminasi ke manusia atau kemudian debunya terhirup oleh manusia," jelas Ani.

Ia menambahkan, sejauh ini, varian yang menular antarmanusia (Andes) belum ditemukan di Indonesia. 

Oleh karena itu, risiko utama tetap berasal dari lingkungan yang tidak higienis dan populasi tikus yang tidak terkendali.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved