Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Bogor

Awan di Langit Bogor Mendadak Berwarna-warni, Fenomena Alam atau Pertanda Bencana? Ini Kata BMKG

Langit Bogor Mendadak Berwarna-warni, Fenomena Alam Langka atau Pertanda Bencana? Ini Kata BMKG

Tayang:
Editor: Hironimus Rama
TribunnewsDepok.com
AWAN BERWARNA - Awar berwarna-warni terpantau di langit kawasan Jonggol, Bogor, pada Jumat (1/5/2026) 

Laporan Joanita Ary

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BOGOR – Warga di kawasan Sentul City, Jonggol, hingga Cileungsi dibuat takjub sekaligus bertanya-tanya pada Jumat (1/5/2026) siang.

Fenomena langit dengan gradasi warna merah muda, hijau, hingga ungu muncul menghiasi gumpalan awan, menciptakan pemandangan layaknya 'awan pelangi'.

Peristiwa ini terpantau sekitar pukul 14.00 WIB, saat kondisi langit awalnya cerah sebelum kemudian muncul lapisan awan tipis dengan spektrum warna lembut. Keindahan tak biasa ini berlangsung sekitar 30 menit sebelum akhirnya hujan turun di beberapa titik.

Baca juga: Apartemen di Tangsel Digerebek! Jadi Markas Judi Online Berkedok Live Porno

Ryan Herlambang (21), warga Bogor, mengaku terkejut saat melihat pelangi samar muncul di balik awan tebal. Ia menyebut banyak orang spontan menengadah ke langit setelah menyadari keindahan tersebut.

Lantas, apakah ini pertanda akan datangnya badai besar?

Bukan Mistis, Ini Penjelasan Ilmiah "Cloud Iridescence"

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bergerak cepat menenangkan masyarakat. Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menegaskan bahwa fenomena ini murni peristiwa optik atmosfer dan bukan pertanda bencana.

“Ini bukan tanda badai atau kejadian berbahaya. Fenomena tersebut berkaitan dengan proses pembiasan cahaya Matahari oleh butiran air di atmosfer,” jelas Ida dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/5/2026).

Secara ilmiah, fenomena ini disebut sebagai Awan Iridesensi. Berbeda dengan pelangi yang berbentuk busur, iridesensi tampak seperti warna-warni yang 'tumpah' mengikuti bentuk awan.

Mengapa Warna Ini Bisa Muncul?

Menurut BMKG, warna-warna tersebut terbentuk ketika cahaya Matahari dibiaskan dan dipantulkan oleh partikel air atau kristal es di dalam awan. Kondisi ini umumnya terjadi pada awan tipis seperti cirrus atau altocumulus yang memiliki ukuran partikel relatif seragam.

Secara ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai awan iridesensi (cloud iridescence). Berbeda dengan pelangi biasa yang membentuk busur sempurna, warna pada iridesensi cenderung menyebar mengikuti bentuk awan dan tampak lebih lembut.

Proses ini terjadi akibat difraksi cahaya, yakni pembelokan sinar Matahari saat melewati partikel kecil berukuran sekitar 1–10 mikron di dalam awan.

BMKG juga menjelaskan bahwa kemunculan awan iridesensi justru sering berkaitan dengan pertumbuhan awan konvektif yang dapat memicu hujan lokal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved