Hari Buruh 2026
Aksi May Day 2026, Kisah Maya 15 Tahun Jadi Buruh Harian Lepas Tanpa Status Jelas
Aksi May Day 2026, Kisah Maya 15 Tahun Jadi Buruh Harian Lepas Tanpa Status Jelas
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Monumen Nasional (Monas), Jumat (1/5/2026), menjadi panggung kontras antara harapan kecil rakyat jelata dan kebijakan besar pemerintah.
Di tengah riuhnya orasi dan pembagian sembako, terselip kisah-kisah perjuangan buruh yang telah puluhan tahun menanti kepastian.
Salah satu potret nyata ketimpangan status kerja dialami oleh Maya (41). Selama 15 tahun dedikasinya sebagai buruh produksi sandal, Maya mengaku posisinya tidak pernah beranjak dari status buruh harian lepas.
Baca juga: Aksi May Day 2026 di Monas: Jeritan Driver Ojol Perempuan hingga Tuntutan Penghapusan Outsourcing
Tanpa kontrak tetap, penghasilan Maya ibarat roller coaster. "Kalau kerja dibayar, kalau enggak masuk ya nggak dibayar. Pengennya status harian lepas itu dihilangkan, apalagi buat kita yang sudah kerja di atas 5 tahun," keluh Maya di Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Tak hanya soal status, Maya juga harus merogoh kocek pribadi setiap kali jatuh sakit. Selama belasan tahun, ia mengaku belum pernah mendapatkan fasilitas BPJS Kesehatan maupun Ketenagakerjaan dari perusahaan tempatnya mengabdi.
Perjuangan Sueb dari Sidoarjo demi Kesejahteraan
Senada dengan Maya, Sueb, seorang buruh asal Sidoarjo, Jawa Timur, rela menempuh perjalanan darat menggunakan bus sejak Kamis (30/4/2026) demi mencapai Jakarta.
Bagi Sueb, jauhnya jarak bukan halangan untuk menyuarakan kegelisahan atas maraknya ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
"Harapan saya cuma mau buruh semakin sejahtera dan tidak ada lagi PHK," ucapnya mantap di tengah kerumunan massa.
Sembako Istana dan Harapan Baru dari Presiden Prabowo
Di sudut lain Monas, ribuan buruh tampak mengantre panjang demi mendapatkan paket sembako dari Presiden Prabowo Subianto. Abdul Gafur (50), seorang warga Pesanggrahan yang baru saja terkena efisiensi (PHK) akhir tahun lalu, turut mengantre bersama istrinya, Imas.
Paket dalam tas putih bertuliskan "Istana Kepresidenan RI" tersebut berisi bahan pokok seperti beras 2,5 kg, gula, sarden, hingga margarin.
"Antre sekitar setengah jam, tangan dicap tinta supaya tertib," ujar Abdul yang kini menyambung hidup dengan membuka warung jajanan.
Kebijakan Pro-Buruh: Marsinah Jadi Pahlawan Nasional
Kehadiran Presiden Prabowo di tengah massa buruh membawa angin segar melalui sejumlah pengumuman kebijakan strategis, di antaranya:
- Gelar Pahlawan Nasional untuk Marsinah: Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah resmi mengangkat Marsinah sebagai pahlawan nasional dan akan meresmikan Museum Perjuangan Buruh di Nganjuk, Jawa Timur.
- Pengesahan UU PPRT: Setelah dinanti selama 22 tahun, akhirnya UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga resmi disahkan untuk menjamin upah dan hak pekerja domestik.
Satgas Mitigasi PHK: Melalui Keppres Nomor 10 Tahun 2026, pemerintah membentuk Satuan Tugas khusus untuk melindungi buruh yang terancam kehilangan pekerjaan.
"Jangan khawatir, kita akan membela kepentingan buruh yang diancam PHK. Kalau ada pengusaha yang menyerah, negara kita kuat untuk melindungi," tegas Presiden Prabowo dalam orasinya.
Perayaan May Day 2026 ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka ekonomi dan bantuan sosial, ada ribuan "Maya" dan "Sueb" yang masih menggantungkan hidupnya pada kebijakan yang berpihak pada kemanusiaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/depok/foto/bank/originals/May-Day-Buruh-Harian-Lepas.jpg)