Jumat, 17 April 2026

Berita Nasional

Pilih Bertahan, Warga RW 10 Lenteng Agung Tegaskan Hunian Mereka Bukan Rumah Dinas

Warga RT 01, 02 dan 03 di RW 10 Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan hingga kini masih mempertahankan hunian mereka. 

Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Desy Selviany
TribunnewsDepok/M. Rifqi Ibnumasy
SELISIH WARGA DAN TNI - Bude Atun, salah satu warga RW 10 Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa menceritakan polemik kepemilikan lahan lingkungannya. (Warta Kota/M Rifqi Ibnumasy)  

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, M Rifqi Ibnumasy 


WARTAKOTALIVE.COM, JAGAKARSA - Warga RT 01, 02 dan 03 di RW 10 Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan hingga kini masih mempertahankan hunian mereka. 

Warga menegaskan bahwa hunian mereka bukanlah rumah dinas (rumdin) seperti yang ramai diberitakan.

Atun (63), salah satu warga mengatakan, rumah yang dihuninya sejak tahun 1987 itu dibeli almarhum suaminya seharga Rp 100 ribu. Kala itu, gaji suaminya masih Rp 45 ribu.

"Suami saya beli rumah di sini. Saya datang ke sini sekitar tahun 1987 setelah menikah," kata Atun, Kamis (9/4/2026).

Bude Atun, sapaan akrabnya menceritakan, kondisi rumahnya saat itu jauh dari kata layak huni. Dia mengingat bahwa saat itu dinding rumahnya hanyalah anyaman bambu dan tidak ada sumur. 

Perlahan ia dan almarhum suaminya memperbaiki rumah sedikit demi sedikit dari uang pribadi.

"Sumur aja ngga ada waktu itu. Sampai saya patungan sama tetangga bikin sumur, karena kan harganya mahal ya kalau bikin sumur sendiri," ucapnya.

Atun menegaskan bahwa hunian yang ditempati bukanlah rumah dinas. Karena dia dan warga lainnya disini membeli hunian tersebut dengan harga bervariasi.

"Bukan (ruman dinas). Kita beli kok, kita juga bayar listrik sendiri tiap bulan," tegasnya.

Ia bersama puluhan warga lainnya akan tetap bertahan di lokasi tersebut. Dia meminta agar pihak TNI AD memperhatikan mereka dan memanusiakan warga.

"Kita masih bertahan disini. Kita manusia, maunya dimanusiakan. Jangan kayak ayam, ayam saja dikasih kandang, masa kita manusia dilepas gitu aja," ucapnya dengan tangan gemetar.

Dia mengaku berat untuk meninggalkan hunian tersebut karena banyak kenangan bersama almarhum suaminya yang meninggal tahun 2007. 

"Kenangan banyak sama suami, saya ditinggal suami (meninggal) 2007. Kalau mau pergi dari sini kayaknya berat. karena kenangan sama suami banyak," kenangnya.

Atun menceritakan, saat itu dia harus membiayai anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved