Rabu, 29 April 2026

Berita UI

Tiap Hari Kena Macet dan Jalan Rusak? Pakar UI Ungkap Kerugian Besar yang Tak Disadari Pengendara

Pakar Transportasi UI Tegaskan Kerusakan Jalan dan Kemacetan Berdampak pada ​Kerugian Multi-sektor

Tayang:
Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Hironimus Rama
TribunnewsDepok.com/M. Rifqi Ibnumasy
JALAN RUSAK - Guru Besar Teknik Sipil FTUI, Sigit Pranowo Hadiwardoyo mengungkap tiga penyebab utama jalan raya cepat rusak. (TribunnewsDepok.com/M Rifqi Ibnumasy)  

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Terjebak kemacetan panjang telah menjadi 'makanan sehari-hari' bagi warga Jakarta, Depok, dan sekitarnya.

Apalagi di tengah musim penghujan seperti saat ini, genangan air dan aspal yang mengelupas membuat durasi perjalanan terasa makin menyiksa.

Namun, tahukah Anda bahwa masalah klasik ini bukan sekadar membuang waktu dan memancing emosi, tetapi juga menciptakan kerugian masif secara finansial?

Baca juga: Macet Parah di Jalan Akses UI Depok Jelang Buka Puasa, Kendaraan Antre Melintasi Jembatan Ciliwung

Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) sekaligus Pakar Transportasi, Sigit Pranowo Hadiwardoyo, menyoroti secara tajam permasalahan ini.

Menurutnya, penurunan laju kendaraan akibat jalanan yang rusak dan macet memiliki hitungan kerugian nyata dalam kacamata penelitian transportasi.

Efek Domino ke Sektor Ekonomi

Sigit menjelaskan bahwa dampak dari kemacetan ini bersifat sangat luas bak efek domino.

Masalah infrastruktur jalan tidak hanya merugikan waktu individu, tetapi juga mencekik berbagai sektor krusial, terutama perputaran ekonomi secara keseluruhan akibat terhambatnya mobilitas warga dan logistik.

“Maka itu kerugian yang diterima oleh para pengguna jalan jauh lebih besar,” kata Sigit di Depok, Kamis (26//2/2026).

Sentilan untuk Pengelola Jalan: Jangan Tunggu Rusak Parah!

Agar kelancaran lalu lintas bisa kembali dinikmati warga, Sigit berharap pemerintah dan instansi pengelola jalan lebih peka dan cekatan.

Faktor-faktor penghambat, khususnya jalan rusak yang menjadi biang kerok penumpukan kendaraan, harus segera dibenahi sebelum kondisinya makin hancur.

Ia menyarankan agar perbaikan jalan tidak selalu harus menunggu aspal hancur total dan mengganggu arus lalu lintas secara masif. Langkah pencegahan sejak dini dinilai jauh lebih efektif dan murah.

“Perbaikan pada kerusakan kecil sebenarnya lebih mudah dilakukan dan dapat dikerjakan pada malam hari tanpa harus menutup jalan atau sebagian lajur, berbeda dengan perbaikan kerusakan besar,” pungkasnya. (m38)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved