Jumat, 15 Mei 2026

Perang Amerika Israel vs Iran

Ali Khamenei Gugur, Iran Bersumpah Balas Dendam, Selat Hormuz Terancam Ditutup

Ali Khamenei Gugur, Iran Bersumpah Balas Dendam, Selat Hormuz Terancam Ditutup

Tayang:
Editor: Hironimus Rama
Tribunnews.com
WAFAT - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatolla Ali Khamenei, gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, TEHERAN – Dunia internasional terguncang. Setelah sempat menjadi simpang siur, pemerintah Iran melalui saluran TV resmi IRINA akhirnya mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, pada Minggu (1/3/2026).

Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA) pada Minggu (1/3/2026) menuliskan, "Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, gugur sebagai martir setelah diserang oleh rezim Zionis dan Amerika Serikat pada Sabtu pagi."

Saat ini, siaran TV pemerintah Iran terus melantunkan ayat suci Al-Quran dengan latar belakang foto sang "Rahbar" dan spanduk hitam sebagai tanda duka mendalam.

Baca juga: Perang AS-Israel Vs Iran, Guru Besar Hukum Internasional UI Sarankan 5 Langkah Politik Indonesia 

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa serangan tersebut tidak hanya menargetkan Khamenei. Rudal presisi AS-Israel juga dilaporkan menewaskan kerabat dekat sang Pemimpin Tertinggi, termasuk anak, menantu, hingga cucunya yang berada di lokasi kejadian.

Masa Berkabung 40 Hari

Pemerintah Republik Islam Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan libur nasional selama tujuh hari. Namun, di balik duka tersebut, tersimpan amarah besar. 

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa kematian sang pemimpin bukan akhir dari perlawanan.

“Militer Iran berjanji akan membalas kematian Khamenei. Ini akan menjadi awal pemberontakan Republik Islam terhadap para penindas,” bunyi pernyataan resmi militer Iran.

Iran sendiri telah melakukan serangan balik ke pangkalan militer AS yang berada di Timur Tengah. Drone yang diduga milik Iran menghantam gedung strategis di Bahrain yang diyakini sebagai markas agen intelijen Mossad.

Rudal-rudal Iran juga menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Tutup Selat Hormus

Hanya berselang beberapa jam setelah pengumuman kematian tersebut, situasi ekonomi dunia langsung terancam. Garda Revolusi Iran memberikan peringatan kepada kapal-kapal komersial bahwa jalur strategis ini tidak lagi aman untuk dilintasi.

Informasi yang dikutip dari laporan Gulf News menyebutkan, sejumlah kapal komersial dan tanker minyak telah menerima peringatan langsung dari otoritas militer Iran.

Pesan tersebut mengindikasikan adanya pembatasan pergerakan kapal di salah satu jalur energi paling vital di dunia, yang selama ini menjadi nadi distribusi minyak global.

Selat Hormuz yang terletak di kawasan Teluk Arab memiliki posisi strategis karena menjadi penghubung utama antara negara-negara produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar internasional.

Jalur sempit ini dilalui kapal tanker dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, hingga Qatar menuju Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati selat tersebut setiap harinya, menjadikannya salah satu titik paling sensitif dalam perdagangan energi global.

Secara geografis, Iran berada di sisi utara Selat Hormuz dan menguasai sejumlah titik akses penting yang memungkinkan negara itu memantau sekaligus mengendalikan lalu lintas kapal.

Posisi ini selama bertahun-tahun menjadi kartu strategis Teheran dalam menghadapi tekanan militer maupun ekonomi dari Barat.

Dampak Terhadap Ekonomi Dunia

Peringatan terbaru dari Garda Revolusi Iran muncul tidak lama setelah meningkatnya eskalasi militer akibat serangan rudal yang ditujukan ke target-target Iran.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada serangan langsung, melainkan berpotensi meluas ke perang ekonomi melalui gangguan distribusi energi global.

Penutupan atau bahkan pembatasan Selat Hormuz memiliki konsekuensi yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah.

Pasar minyak global sangat sensitif terhadap gangguan di jalur ini. Sedikit saja ketidakpastian biasanya langsung mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia karena pelaku pasar memperkirakan terjadinya kelangkaan pasokan.

Jika penutupan berlangsung dalam waktu lama, harga minyak berpotensi melonjak tajam akibat terganggunya distribusi jutaan barel minyak per hari.

Negara-negara importir energi besar seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India akan menjadi pihak paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap minyak Timur Tengah.

Dampaknya dapat merambat pada kenaikan harga bahan bakar, inflasi global, serta meningkatnya biaya logistik dan produksi industri.

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, gejolak harga energi berisiko memicu tekanan ekonomi domestik. Kenaikan harga minyak dunia biasanya diikuti peningkatan subsidi energi, pelemahan nilai tukar akibat tekanan impor, serta potensi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Selain dampak ekonomi, penutupan Selat Hormuz juga meningkatkan risiko militer. Jalur tersebut selama ini dijaga armada laut Amerika Serikat dan sekutunya untuk memastikan kebebasan navigasi internasional.

Pembatasan akses berpotensi memicu konfrontasi langsung di laut, yang dapat memperluas konflik menjadi krisis regional bahkan global.

Analis keamanan internasional menilai langkah Iran dapat dipandang sebagai strategi tekanan balik terhadap serangan militer yang diterimanya. Dengan memanfaatkan posisi geografisnya, Teheran menunjukkan bahwa konflik tidak hanya berdampak pada medan tempur, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dunia.

Hingga kini belum ada kepastian apakah Iran benar-benar akan menutup total Selat Hormuz atau hanya melakukan pembatasan sebagai bentuk peringatan strategis.

Namun sinyal eskalasi yang muncul telah cukup memicu kecemasan pasar internasional dan meningkatkan kewaspadaan negara-negara pengguna energi utama.

 
Sosok Ali Khamenei

Ali Khamenei adalah sosok sentral yang mengubah arah sejarah Iran. Ayatollah Ali Khamenei diyakini sebagai keturunan ke-38 Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husaini.

Berkuasa sejak 4 Juni 1989, Khamenei menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sebagai pemimpin tertinggi, ia memegang kontrol penuh atas militer dan kebijakan negara selama lebih dari 30 tahun.

Kematian Khamenei meninggalkan lubang besar dalam kepemimpinan Iran. Meski Khamenei sempat mengaku telah menyiapkan penggantinya, stabilitas Iran kini dipertanyakan.

Di dalam negeri, tekanan dari kelompok liberal dan krisis ekonomi akibat blokade minyak menjadi tantangan serius. Apakah transisi kepemimpinan ini akan berjalan mulus, atau justru menjadi awal dari keruntuhan rezim yang telah berdiri sejak 1979? Menarik untuk ditunggu.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved