Senin, 8 Juni 2026

Ramadan 1447 Hijriah

Ramai Fenomena Lintas Agama Ikut 'War Takjil', Pakar IPB Bongkar Fakta Menarik

Ramai Fenomena Lintas Agama Ikut 'War Takjil', Pakar IPB Bongkar Fakta Menarik: Konsumen Berebut Kenangan!

Tayang:
Editor: Hironimus Rama
Warta Kota
WAR TAKJIL - Suasana war takjil kolak viral di Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat pada Selasa (26/3/2024). 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BOGOR - Setiap bulan suci Ramadan tiba, suasana sore hari di berbagai sudut kota di Indonesia selalu diwarnai dengan pemandangan khas: lapak-lapak dadakan yang menjajakan aneka hidangan berbuka.

Di sepanjang jalan, pasar tradisional, hingga kawasan permukiman, masyarakat tumpah ruah berburu makanan dan minuman favorit.

Kondisi persaingan yang seru ini kemudian melahirkan istilah populer di kalangan netizen, yakni "War Takjil".

Baca juga: Cari Takjil Gratis di Depok? Masjid Al-Kohinoor Siapkan Menu Buka Puasa Tiap Hari

Menariknya, keseruan war takjil ini tidak lagi eksklusif milik umat Muslim yang sedang berpuasa.

Belakangan, masyarakat non-Muslim pun ikut antusias memeriahkan perburuan takjil, menjadikan fenomena ini sebagai salah satu pengalaman sosial dan toleransi yang paling unik dan hangat di Indonesia.

Lalu, apa yang sebenarnya membuat war takjil ini begitu masif dan diminati semua kalangan?

Berburu Makanan Langka dan Sebuah 'Kenangan'

Dosen IPB University sekaligus pakar yang aktif membina pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Dr. Tjahja Muhandri, melihat war takjil sebagai fenomena sosial yang sangat unik.

Menurutnya, daya tarik utama dari fenomena ini adalah kemunculan makanan dan minuman yang mendadak "langka" di luar bulan puasa.

Ia berkelakar bahwa di balik antrean panjang dan persaingan memborong takjil, ada sisi emosional dari para pembeli yang merindukan suasana khas Ramadan.

“Silakan dicek, akan banyak makanan atau minuman yang pada hari biasa tidak ada, tapi muncul saat Ramadan. Tersaji menarik, harganya murah. Maka rebutan akan makanan atau minuman takjil itu bisa jadi adalah rebutan ‘kenangan’,” ujarnya dikutip dari laman ipb.ac.id, Rabu (18/2/2026).

Awalnya, takjil memang difokuskan bagi mereka yang hendak membatalkan puasa. Namun, tarikan pasar ternyata jauh melebihi ekspektasi karena tingginya minat dari seluruh lapisan masyarakat.

“Ketika konsumen sampai berebut beli, itu menandakan kebutuhan muncul dan pasar merespons dengan cepat,” jelasnya.
 
Angin Segar Bagi UMKM: Harus Berani Ikuti Tren

Fenomena war takjil ini jelas membawa berkah finansial yang luar biasa bagi pelaku UMKM maupun pedagang musiman. Produk yang dijajakan umumnya laku keras dan ludes dalam hitungan jam.

Dari sisi konsumen, hal ini juga sangat menguntungkan karena mereka memiliki ragam variasi menu untuk disajikan di meja makan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved